BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Puluhan ton ikan milik petani keramba di Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar mati mendadak, Senin (30/3). Peristiwa ini terjadi di tiga desa, yakni Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Kota Aman.
Salah seorang warga Desa Kota Garo, Diana, mengungkapkan bahwa ikan yang mati terdiri dari berbagai jenis, seperti ikan baung, geso, dan tapah. “Ikan keramba milik warga banyak yang mati mendadak. Diduga akibat tercemar limbah di Sungai Tapung Hilir,” ujar Diana, Rabu (1/4).
Menurut Diana, salah satu keramba milik keluarganya mengalami kerugian besar karena hampir satu ton ikan yang sudah mendekati masa panen mati. Warga telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak desa dan kecamatan agar segera ditindaklanjuti. “Kami berharap ada solusi untuk petani keramba yang terdampak,” tambahnya.
Camat Tapung Hilir Nurmansyah membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebutkan sekitar 30 ton ikan milik petani keramba di tiga desa dilaporkan mati mendadak. ‘’Saat ini kami juga sedang mendata jumlah keramba yang terdampak serta menghitung total kerugian petani,” katanya.
Ia menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar telah turun ke lapangan untuk mengambil sampel air sungai yang diduga tercemar. Saat ini, pihak DLH masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kematian ikan.
Nurmansyah juga menyampaikan, sejak Maret 2026, kejadian pencemaran yang menyebabkan kematian ikan sudah terjadi sebanyak tiga kali. Namun, kejadian terbaru merupakan yang paling besar dampaknya.
Berdasarkan informasi di lapangan, terdapat dugaan pencemaran berasal dari aktivitas pabrik kelapa sawit di hulu Sungai Tapung Hilir. Dugaan tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait.
Pemerintah kecamatan bersama instansi terkait saat ini terus melakukan pendataan serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab pasti pencemaran.(kom)
Editor : Arif Oktafian