Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Rizuqy Al-Faiq Bianka Simaremare, Anak Yatim Berdarah Kampar Ini Buktikan Mimpi Bisa Ditaklukkan, Lolos SMA Taruna Nusantara

Kamaruddin • Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:05 WIB
Rizuqy Al-Faiq Bianka Simaremare dinyatakan lulus sebagai calon siswa SMA Taruna Nusantara Tahun Ajaran 2026/2027 foto bersama kedua orang tuamya. (Keluarga untuk Riaupos.co)
Rizuqy Al-Faiq Bianka Simaremare dinyatakan lulus sebagai calon siswa SMA Taruna Nusantara Tahun Ajaran 2026/2027 foto bersama kedua orang tuamya. (Keluarga untuk Riaupos.co)

KAMPAR  (RIAUPOS.CO) – Di sudut kamar asrama sebuah pondok pesantren di Jakarta Selatan, seorang remaja lelaki menundukkan kepala dalam sujud panjang. Air matanya jatuh perlahan saat sang ibu di ujung telepon menyampaikan kabar yang selama ini ia perjuangkan dengan penuh keyakinan.

Namanya dinyatakan lulus sebagai calon siswa SMA Taruna Nusantara Tahun Ajaran 2026/2027. Remaja itu adalah Rizuqy Al-Faiq Bianka Simaremare, anak yatim asal Pekanbaru yang membuktikan bahwa mimpi besar tidak hanya milik anak pejabat atau keluarga elite.

Putra kelahiran Pekanbaru, 13 Maret 2010 tersebut tumbuh dari keluarga sederhana berdarah Kampar, Riau. Di tengah keterbatasan dan kehilangan sosok ayah, Rizuqy memilih percaya bahwa nasib bisa diubah lewat keberanian untuk mencoba.

 “Kalau tidak dicoba, hanya ada satu kemungkinan, yaitu gagal.” Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Baca Juga: Sapi Bantuan Presiden dengan Berat 823 Kg Diserahkan ke Masjid Inuman, Disbunnak Sebut Kebutuhan Hewan Kurban 2.832 Ekor

Pesan sederhana peninggalan almarhum ayahnya, Benny Simaremare, menjadi pegangan hidup yang selalu diputar ulang dalam rekaman video motivasi setiap kali semangatnya melemah. Meski sang ayah telah tiada, suara itu tetap hidup dan menjadi kekuatan bagi Rizuqy untuk terus melangkah.

Di balik keberhasilannya, ada perjuangan panjang seorang ibu, Yessika Putri, yang membesarkan tiga anak seorang diri. Ia mengaku sempat menolak keinginan Rizuqy mengikuti seleksi SMA Taruna Nusantara. Bukan karena meragukan kemampuan anaknya, tetapi karena takut melihat putranya kecewa menghadapi persaingan yang sangat ketat.

Dalam bayangannya, sekolah elite semi-militer itu identik dengan anak-anak pejabat dan keluarga besar TNI.

“Saya sempat bilang, rasanya tidak mungkin lolos. Karena menurut saya, di Taruna Nusantara itu super ketat dan kebanyakan anak-anak jenderal yang diterima,” ujar Yessika, Jumat (15/5/2026).

Namun Rizuqy tidak menyerah. Dengan keyakinan yang kuat, ia terus meyakinkan ibunya agar diberi kesempatan mencoba.

 Baca Juga: Kaoru Mitoma Dipastikan Absen di Piala Dunia, Takehiro Tomiyasu Dipanggil Kembali ke Skuad Jepang

“Saya bilang ke Mio, saya ini anak Bapak Benny Simaremare dan Yessika Putri. Saya anak yatim, tapi pantang menyerah,” kenangnya.

Akhirnya Yessika luluh dan mengizinkan anak sulungnya itu mengikuti seleksi dengan satu syarat: jika gagal, Rizuqy harus kembali fokus menempuh pendidikan pesantren seperti biasa.

Baca Juga: Turun Rp50 Ribu, Harga Emas Antam pada Hari Sabtu, 16 Mei 2026 Rp2.769.000 per GramSejak saat itu, hari-harinya dipenuhi latihan, belajar, menjaga fisik, dan memperkuat mental. Di tengah aktivitasnya sebagai santri di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan, Rizuqy mempersiapkan diri menghadapi seluruh tahapan seleksi akademik SMA Taruna Nusantara yang berlangsung sejak November hingga Desember 2025.

Perjalanan tersebut tidak mudah. Ada rasa takut, lelah, dan tekanan yang sering datang diam-diam. Namun setiap kali hampir menyerah, Rizuqy kembali membuka video motivasi sang ayah.

“Saya lihat lagi video Pio yang memotivasi saya,” katanya lirih.

Rizuqy dikenal sebagai sosok aktif dan berprestasi. Selain menempuh pendidikan pesantren, ia juga memiliki sejumlah capaian di bidang olahraga.

 Ia pernah meraih juara II pencak silat tingkat Provinsi Banten serta dinobatkan sebagai pemain terbaik basket antarpesantren se-Jakarta Selatan.

Tak hanya itu, ia juga menguasai bahasa Arab dan pernah mengikuti dauroh selama enam bulan di Universitas Islam Madinah.

Bagi Yessika, keberhasilan anaknya bukan hanya soal prestasi akademik maupun olahraga. Ia menilai karakter menjadi fondasi utama yang selama ini ditanamkan kepada Rizuqy, mulai dari disiplin, tanggung jawab, rendah hati, hingga menghormati orang lain.

“Kami percaya keberhasilan bukan hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang sikap dan karakter,” tuturnya.

Hari pengumuman kelulusan menjadi salah satu momen paling emosional bagi keluarga kecil itu. Saat kabar diterima, Rizuqy langsung sujud syukur dan berusaha menunaikan nazar yang selama ini ia panjatkan diam-diam sepanjang proses seleksi.

Di sisi lain telepon, sang ibu menangis haru. Bukan hanya karena bangga, tetapi karena perjuangan panjang mereka akhirnya menemukan jawaban.

“Ini kebahagiaan besar untuk saya sebagai orang tua satu-satunya sekarang,” kata Yessika mengenang almarhum suaminya.

 Baca Juga: Calum McFarlane: Chelsea Punya Rencana untuk Kalahkan Man City di Final Piala FA

Kabar kelulusan Rizuqy pun cepat menyebar ke keluarga besar di Kampar Kiri. Banyak yang mengaku terkejut karena sebelumnya tidak mengetahui bahwa Rizuqy sedang mengikuti seleksi SMA Taruna Nusantara.

“Kami memang tidak memberi tahu banyak keluarga sejak awal karena takut kecewa kalau gagal,” ujar Rizuqy sambil tertawa kecil.

Kini tawa itu terdengar lebih lega. Seolah beban panjang yang selama ini dipikul perlahan menghilang.

Bagi Rizuqy, diterima di SMA Taruna Nusantara bukanlah akhir perjalanan. Ia justru merasa perjuangan sebenarnya baru dimulai. Ia ingin tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Sementara bagi sang ibu, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa siapa pun berhak bermimpi setinggi mungkin. Di tengah kuatnya stereotip tentang sekolah elite dan persaingan yang terasa sulit ditembus, Rizuqy hadir membawa cerita berbeda: kisah seorang anak yatim asal Riau yang berani mengetuk pintu mimpinya sendiri, lalu berhasil membukanya.(kom)

 

Editor : Edwar Yaman
#SMA Taruna Nusantara #anak yatim #kampar