Kampar Kembangkan Padi Lokal, Ditargetkan Bisa Panen Tiga Kali Setahun

Kamaruddin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 21:06 WIB
Padi varietas Kuniong Ancak ditanam di pekarangan Kantor Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dam Hortikultura sudah mulai tumbuh, Selasa (12/9/2026). Kamaruddin/riaupos.co
Padi varietas Kuniong Ancak ditanam di pekarangan Kantor Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dam Hortikultura Kampar sudah mulai tumbuh, Selasa (12/9/2026). Kamaruddin/riaupos.co

BENGKINANG (RIAUPOS.CO) -- Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar terus mendorong pengembangan varietas padi lokal sebagai salah satu upaya menjaga keberadaan benih khas daerah, sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar Nurilahi Ali melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Budi Hantana mengatakan, saat ini terdapat dua varietas padi lokal Kampar yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian, yakni Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa.

Selain dua varietas tersebut, tahun ini Dinas Pertanian Kampar juga mengusulkan dua varietas lokal lainnya untuk dapat dilepas secara resmi. "Untuk varietas yang sudah dilepas, seperti Kuniong Ancak dan Sikapau  Kampa sudah kita kembangkan di beberapa wilayah Kampar," ujar Budi, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Karhutla Terjadi di Dekat Kantor Bupati Kampar, ISPU Tercatat Tidak Sehat

Pengembangan kedua varietas tersebut antara lain dilakukan di Kecamatan Gunung Sahilan, Kecamatan Salo, Kecamatan Kuok, Kecamatan Kampar dan sejumlah wilayah lainnya. Penanaman saat ini merupakan musim tanam kedua (MT II) yang dilakukan sekitar Mei-Juni, dengan perkiraan panen pada Oktober mendatang.

Budi menjelaskan, salah satu keunggulan padi lokal Kampar adalah memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Selain itu, beras yang dihasilkan juga memiliki cita rasa yang disukai masyarakat.

"Kuniong Ancak memiliki keunggulan dari sisi rasa. Kalau masyarakat Kampar membuat lontong, nasinya mengembang, lunak, tetapi tetap memiliki unsur kekenyalan. Dari rasa berasnya juga tidak jauh berbeda dengan beras Solok dari Sumatera Barat," jelasnya.

Baca Juga: Upaya Peningkatan Pendapatan Daerah, Bapenda dan Kantah Inhu Teken PKS 

Dari sisi produktivitas, varietas lokal Kampar ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 5 ton hingga 6 ton gabah per hektare. Saat ini, Dinas Pertanian juga memasuki tahap pengembangan berikutnya, yakni penelitian untuk memperpendek umur panen sehingga varietas lokal tersebut dapat ditanam lebih optimal.

"Untuk sekarang kita targetkan dua kali panen dalam setahun. Namun ke depan, target kita varietas ini bisa ditanam tiga kali dalam satu tahun atau tiga musim panen," katanya.

Menurut Budi, penggunaan varietas lokal juga menjadi salah satu target Dinas Pertanian Kampar. Pihaknya berharap setidaknya separuh lahan pertanian padi di Kabupaten Kampar nantinya dapat menggunakan varietas lokal daerah.

Baca Juga: Kualitas Udara Sangat Tak Sehat, Siswa Dipulangkan dari Sekolah, Disdikbud Pelalawan Perpanjang PJJ

Selain meningkatkan pemanfaatan varietas lokal, Dinas Pertanian juga menjalankan program pelestarian benih inti untuk mencegah varietas khas Kampar mengalami kepunahan.

"Sebagai pemilik varietas khas Kampar, kita punya kewajiban untuk melestarikannya. Saat ini pelestarian benih inti dilakukan di Balai Benih Induk (BBI) Kampar," ujarnya.

Di BBI Kampar, varietas lokal tersebut telah ditanam pada lahan sekitar setengah hektare. Tanaman tersebut saat ini telah berumur sekitar dua bulan. Nantinya, benih hasil produksi dari BBI akan diserahkan kepada Dinas Pertanian untuk selanjutnya disalurkan kepada petani dan kelompok tani guna diperbanyak.

Baca Juga: Kabut Asap Masih Bertahan, PJJ Murid Rohul Diperpanjang hingga 16 September

Pengembangan varietas Kuniong Ancak juga dilakukan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kampar dengan luas sekitar 25 hektare hingga 28 hektare. Hasil panennya dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber benih untuk pengembangan berikutnya.

Budi juga mengimbau petani agar tidak seluruh hasil panen varietas lokal langsung digiling untuk konsumsi. Sebagian hasil panen perlu disisihkan untuk dijadikan benih pada musim tanam berikutnya.

"Setidak-tidaknya 25 kilogram sampai 30 kilogram per hektare harus disisakan sebagai benih untuk ditanam pada periode berikutnya," imbaunya.

Baca Juga: Sejumlah Daerah Diselimuti Kabut Asap Kiriman, Hotspot Riau Tersisa 40 Titik 

Ia menilai varietas lokal Kampar memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena telah beradaptasi dengan lingkungan setempat. Produktivitasnya juga dinilai tidak jauh berbeda dengan sejumlah varietas unggul nasional maupun varietas unggul dari daerah lain.

"Gunakan varietas lokal kita karena mempunyai beberapa keunggulan dan sudah beradaptasi dengan lingkungan petani kita. Hasilnya juga tidak jauh berbeda dengan varietas unggul nasional maupun unggul dari daerah tetangga," katanya.

Ke depan, Dinas Pertanian Kampar juga membuka peluang untuk membangun brand beras khas Kampar. Dengan semakin berkembangnya produksi dan ketersediaan beras lokal, varietas khas daerah tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan identitas tersendiri bagi Kabupaten Kampar.

 

Editor : Rinaldi
padi lokal padi kampar panen tiga kali