Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

"Bangsal Seni" Serupa Sedekah Ilmu

Rindra Yasin • Minggu, 7 Juli 2019 | 12:35 WIB
KEGIATAN: Suasana kegiatan Bangsal Seni tajaan komunitas Blacan Aromatic berjalan sederhana dan penuh nuansa persahabatan.
KEGIATAN: Suasana kegiatan Bangsal Seni tajaan komunitas Blacan Aromatic berjalan sederhana dan penuh nuansa persahabatan.

Komunitas musik Blacan Aromatic tidak melulu melahirkan karya-karya dalam bentuk album dan lainnya. Komunitas yang digawangi para musisi muda ini, bahkan “menyusup” ke akar rumput. Berbagi ilmu dan pengalaman kepada siapa saja.

(RIAUPOS.CO) -- SEDEKAH ilmu ini untuk menularkan "virus" pengetahuan musik, baik secara praktisi teori maupun manajemen seni. Nah, di bangsal itulah tempat berkumpulnya berbagai kalangan pecinta seni untuk saling mengisi dan bersilaturahmi. Dan layaknya sedekah, penularan ilmu ke tengah-tengah masyarakat itu tidak dipungut biaya sama sekali.

Target utama dari Bangsal Seni ini diazamkan hingga ke seluruh kabupaten/ kota di Riau. Selain itu, target utama bangsal diperuntukkan bagi siswa dan guru, komunitas-komunitas, dan kantung-kantung kreativitas. Menariknya, Blacan Aromatic sebagai pemilik program juga tidak memiliki dana memadai. Artinya, komunitas yang diasuh Zalfandri Zainal alias Matrock ini berbuat dan berkarya atas dasar kesadaran yang luar biasa. Dalam istilah seni kekinian, "Hidup nekat mati muda".

"Ya, kami senantiasa melahirkan karya musik hingga lahir pula album-album. Namun kami berpikir, buat apa berkarya hanya untuk diri sendiri dan puas sendiri. Makanya, kami membuat program bersama untuk berbagi ke tengah-tengah masyarakat dengan nama Bangsal Seni. Ya, semacam sedekah pengetahuan musik pada masyarakat di kabupaten/ kota di Riau," ulas Matrock panjang lebar.

Ditambahkannya, program Bangsal Seni Blacan Aromatic dimulai di Perawang, Kabupaten Siak. Materi pembelajaran dibagi dua sesi, untuk guru dan siswa. Untuk pemateri dipercayakan seluruhnya kepada anggota Blacan Aromatic. Meski hanya terlaksana satu hari karena terkendala minimnya dana, namun hasilnya diharapkan mampu menjadi pemicu bangkitnya spirit seni musik bermuatan lokal di kecamatan tersebut.

"Baik guru, siswa, serta komunitas seni yang ambil bagian cukup antusias mengikuti pembelajaran bersama tersebut. Ya, kami ingin berbuat untuk anak-anak jati negeri sehingga gaung musik berbasic lokal terus bergema," ujar Matrock.

Usai di Perawang, Bangsal Seni kembali ke Pekanbaru dan terfokus di kampus Universitas Islam Riau (UIR). Salah seorang dosen di UIR Muslim SKar mengatakan, "Para mahasiswa tidak akan mendapatkan ilmu serta pengalaman yang dituangkan adik-adik Blacan Aromatic secara cerdas di bangku kuliah".

Pelaksanaan di UIR disambut baik oleh mahasiswa seni musik dan seni tari. Mereka diberi pemahaman tentang sebuah komposisi musik dan bagaimana mencari sebuah pijakan dasar atau bahan utama untuk penciptaan sebuah karya musik. Teknis, dan mengolah tradisi menjadi lebih maju dengan konsumsi masyarakat sekarang.

Pelaksanaan dilakukan selama dua hari dengan sistem yang sama. Di ujung kegiatan, dibuat pertunjukan hasil dari pemahaman mereka sepanjang pembelajaran. Palingtidak, Azam mulia yang ditelurkan Blacan Aromatic sangat dinantikan banyak pihak.

"Kegiatan Bangsal Seni memang baru terlaksana dua kali. Namun kami akan terus berbuat dan bergerak. Ditambah lagi, semakin ramai yang meminta kami untuk berbagi, baik sekolah-sekolah, maupun komunitas-komunitas seni yang ada di Riau ini," aku Matrock.

Mengisi Kekosongan

Tidak sedikit, komunitas-komunitas seni yang berkeinginan melakukan hal serupa. Mengabdi pada masyarakat sekitarnya seperti yang dilakukan Blacan Aromatic. Kebanyakan program itu mentok karena tidak tersedianya dana operasional.

Apa yang dilakukan Blacan Aromatic adalah upaya mengisi kekosongan akibat masih absennya program-program pembinaan di kalangan pemerintah. Pertanyaannya, seberapa lama komunitas yang nekat seperti itu bisa bertahan? Atau seberapa lama mereka berjalan hingga memantik kepedulian pihak-pihak terkait peduli?

Hal ini tentu tidak bisa diukur atau ditargetkan karena bicara akal budi, bicara nurani perlu kesadaran mendasar yang semuanya bisa wujud jika keterpanggilan hadir dari langit. Palingtidak, Blacan Aromatic dan beberapa komunitas yang ada di Riau sudah berbuat dan berjalan, meski terseok-seok.

"Kami akan terus berkarya dan berbuat untuk negeri dan generasi akan datang. Minimal, musik terus berkembang sesuai zamannya," kata Matrock meyakinkan.***

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

 

 

Editor : Rindra Yasin