Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bertahan hingga Ratusan Tahun

Rindra Yasin • Minggu, 10 Oktober 2021 | 10:42 WIB
Rumah Tinggi di Cipang Kiri Hilir ini memiliki jenjang di bagian depannya.
Rumah Tinggi di Cipang Kiri Hilir ini memiliki jenjang di bagian depannya.

Rumah memang tempat pulang. Tapi, bentuk bahkan suasana rumah selalu berubah. Rumah zaman dulu yang masih ada, menjadi warisan yang dirindukan; rindu duduk di dalamnya, rindu sejuknya, dan mendengar segala timang dan dodoi yang melantun di dalamnya.


(RIAUPOS.CO) - MENDATANGI banyak rumah lama di berbagai pedalaman, betapa rumah itu sebagiannya menjadi warisan paling berharga. Artinya, rumah itu masih dirawat, dijaga bahkan ditempati. Rumah itu sudah lama, puluhan bahkan ratusan tahun. Tentu rumah-rumah kayu yang sederhana tapi kaya dengan kearifan lokal di dalamnya. Meski yang tinggal hanya lahirnya berupa kayu, tapi itulah warisan. Dan, yang dimaksud dengan rumah warisan di sini bukan hanya sekedar rumah godang atau rumah sompu, tapi rumah lama khususnya di Kabupatan Rohul dan Kampar.

Rumah warisan berupa Rumah Godang banyak ditemukan di Kapupaten Kampar dan. di Misalnya di Desa Cipang Kiri Hilir Kabupaten Rohul. Selain Rumah Godang, di sini juga banyak rumah-rumah tua atau rumah tinggi. Rumah ini merupakan rumah suku, yakni milik suku Pitopang dan Piliang. Unik memang, karena ada satu rumah milik dua suku. Bisa ada dua suku yang memiliki rumah ini karena suku yang perempuan tidak mempunyai anak lak-laki, tak mungkin tak punya tempat saat kembali. Akhirnya disepakati mereka semua pulang bersama-sama ke rumah ini dan jadilah rumah bersama.

Rumah Godang ini dibuat awal abad 19. Revika Putra, keturunan keluarga dari suku Piliang, mengatakan, Datuknya lahir 1930 dan anak paling bungsu, sedang Datuk Lelo merupakan datuk paling tuo. Revika Putra merupakan generasi keempat dari yang punya rumah tersebut. Bersama saudara sesukunya, ia merawat dan memanfaatkan rumah tersebut hingga sekarang.

Masih utuh. Rumah Godang ini masih berdiri kokoh, masih ditempati oleh para cucu. Bahkan acara-acara adat persukuan masih dilaksanakan di rumah ini seperti untuk menghitung bulan kapan Ramadan dimulai dan kapan Syawal datang. Pada saat ini, seluruh Ninik Mamak berkumpul mendengarkan imam (securing putih) yang didampingi Khatib dan Bilal menyampaikan pengumuman penentuan tanggal tersebut. Pemberitahuan oleh imam ini dilakukan dengan menggunakan sirih.

Mirip dengan bentuk Istana Rokan, begitulah arsitektur Rumah Godang tersebut. Ada teras di bagian dengan ruang tengah yang besar dan memanjang ke samping, serta dapur dengan pintu keluar di bagian belakang berada di sebelah kiri. Dinamakan juga dengan rumah tinggi karena bentuknya tinggi, sekiatar 1,5 meter. Bagian bawahnya sangat luas. Digunakan pula untuk penyimpanan barang seperti kayu dan papan.

Di bagian depan samping kanan rumah ada pondok atau gazebo dengan ukuran sedang, sekitar 6x6 meter. Bukan hanya untuk bersantai atau duduk-duduk menjelang petang atau sehabis siang, tapi digunakan juga untuk panggung pertunjukan musik tradisi seperti calempong saat pesta adat berlangsung. Sedangkan halaman rumah untuk kegiatan lainnya seperti tari piring atau tempat berkumpul saudara sesuku.  

Rumah ini juga persis berada di tepi Sungai Mentawai yang sudah diturap lumayan panjang. Sebelum ada jalan darat, transportasi masyarakat hanya lewat jalur sungai. Turap inilah yang menjadi pelabuhan tempat naik dan turun penumpang dari desa-desa sekitar, termasuk dari Rokan. Dekat pula dengan pasar. Rumah ini merupakan satu-satunya rumah godang yang masih tersisa.

Di Kampar juga banyak rumah tua atau rumah tinggi atau rumah suku. Misalnya di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri dan desa-desalain di Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Sebagian rumah masih terawat dengan baik, tapi sebagian lain banyak yang sudah rusak alias tidak terawat. Salah satu sebabnya, rumah tersebut sudah tidak menjadi tempat tinggal sehingga tidak terurus dan habis dimakan usia.

Di Desa Padang Sawah, puluhan rumah tua, terbuat dari kayu dan tinggi masih banyak ditemukan. Bahkan berjejer. Sebagian masih ditempati, sebagian kosong terawatt da nada yang tidak terawatt. Unik. Bentuk di dalamnya berbeda-beda, meski sebagian ada yang sama. Ukirannya juga berbeda, begitu juga dengan tangga dan benteuk jendela seolah menunjukkan tingga sosial masyarakat atau penghuni rumah tersebut.

Belakangan, masyarakat khususnya pemuda, ingin menjadikan rumah-rumah tua ini sebagai salah satu destinasi wisata budaya di desa tersebut. Meski belum dimulai, tapi upaya itu mulai dilakukan. Bahkan tanpa disadari, sudah banyak tamu yang datang hanya untuk melihat kemolekan rumah-rumah warisan tersebut. Di rumah inilah omak batimang menidurkan anaknya dan ayah memainkan calempong kayu sekali sekala.***

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru

 

Editor : Rindra Yasin