Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pameran Foto ''Wanita Separuh Malaikat", Memotret Peran Ibu dalam Masyarakat

Hary B Koriun • Minggu, 7 Januari 2024 | 11:40 WIB

Fotografer Anggunia Lestari Mafi bersama foto-foto potrait yang dipamerkannya dalam pameran foto bertajuk “Wanita Separuh Malaikat” di Mal Living World
Fotografer Anggunia Lestari Mafi bersama foto-foto potrait yang dipamerkannya dalam pameran foto bertajuk “Wanita Separuh Malaikat” di Mal Living World

Pameran ini memperlihatkan kedekatan dan kehangatan anak dan ibunya. Sebuah cara untuk mengingatkan kita bagaimana pentingnya seorang ibu dalam keluarga dan masyarakat.

RIAUPOS.CO - BANYAK cara untuk menunjukkan rasa sayang kepada seorang ibu. Membuatnya senang dan bahagia setiap hari adalah keinginan setiap anak. Namun, banyak ibu yang di masa tuanya tidak beruntung karena ditinggal anak-anaknya yang pergi merantau jauh dari ibunya.

Banyak juga ibu yang hidup sendirian karena tak dihiraukan anak-anaknya, padahal mereka dekat di sekitarnya. Banyak yang selalu posting kebersamaannya bersama ibunya, padahal di dunia nyata sang ibu dibiarkan dan tak diurus. Bahkan banyak anak yang lebih memilih mengirim ibunya ke panti jompo karena tak mau repot mengurus ibunya di masa tuanya. Adagium yang terkenal tentang ini adalah, “seorang ibu bisa mengurus sepuluh anaknya, tetapi sepuluh anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu”.

Anggunia Lestari Mefi, seorang fotografer perempuan asal Pekanbaru, menggandeng beberapa talent/model yang kebanyakan adalah pengusaha, menyelenggarakan pameran foto dengan tema “Wanita Separuh Malaikat” di Mal Living World, Pekanbaru, 22-24 Desember 2023 lalu. Pameran ini diselenggarakan oleh Sevenpixel Photography dan Artwork. Pameran foto tunggalnya ini sengaja dipilih pada momen Hari Ibu yang setiap tahun diperingati pada 22 Desember. Konsep yang dipilihnya adalah foto portrait antara ibu dan anak.

Pemikiran dasarnya, menurutnya, bahwa wanita memiliki peran penting sebagai motor penggerak keberhasilan generasi saat ini dan yang akan datang. Hal itu tidak lepas dari peran seorang ibu. Hari Ibu merupakan hari yang dikhususkan untuk memperingati, mengapresiasi, dan menghargai peran wanita di semua aspek kehidupan.

“Sebagai seorang fotografer wanita, saya ingin menjadikan momen tersebut untuk menyelenggarakan dan mempresentasikan secara visual dalam bentuk karya fotografi portrait,” ujar Anggunia kepada Riau Pos di Pekanbaru, Kamis (4/1/2024).

Pemilihan konsep teknis fotografi portrait --dengan gambar yang meninggi, bukan landscape--, menurutnya, lebih mengedepankan ekspresi dan karakter objek yang difoto. Untuk itu dengan foto portrait, dalam pameran ini, presentasi karya visual akan lebih bermakna melalui ekspresi dan interaksi antara ibu dan anak sesuai dengan karakternya.

Secara umum, jelas Anggunia lagi, pameran ini ingin menampilkan sesosok wanita hebat dan penuh cinta dalam membimbing perjalanan kehidupan sang anak sehingga sang anak menjadi sukses dan memiliki value dalam hidupnya. Hal lainnya adalah gambaran sesosok wanita yang berhasil mewujudkan impiannya, tetapi juga tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu.

Dengan visual tersebut, jelas wanita kelahiran Pekanbaru 37 tahun lal ini, ia ingin menyampaikan bahwa wanita itu adalah sosok yang hebat, tangguh, dan penuh kasih sayang. Dengan cinta, kasih sayang, dan doa seorang ibu, seorang anak bisa menjadi sukses, berdaya dan memberi manfaat untuk orang-orang di sekitarnya, juga negaranya. Potret tersebut juga bermaksud agar wanita lain di luar sana dapat terinspirasi dengan sosok-sosok talent yang ada di foto. Talent yang dipilih merupakan talent yang memiliki pengaruh besar terhadap followers mereka, sehingga campaign ini tersampaikan sesuai dengan segmentasinya.

“Seorang ibu adalah wanita yang memiliki peran ganda dalam hidupnya. Ia adalah seorang ibu yang harus merawat dan membesarkan anak-anaknya, memberi arah dengan pendidikan dari dalam rumah agar anak-anaknya siap saat menghadapi dunia luar rumah yang penuh ketidakpastian. Di sisi lain, dia juga bisa membangun eksistensi dirinya di luar rumah. Bisa jadi pengusaha, dosen atau guru, pejabat pemerintahan, seniman, dan lain sebagainya. Peran ganda ini tidak mudah, makanya seorang ibu adalah wanita yang luar biasa,” jelas lulusan Ilmu Komunikasi Jurusan Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

Dalam pameran ini, Anggunia menampilkan delapan foto tentang kedekatan anak dengan ibunya. Mereka yang menjadi model atau talent pemotretan dan dipamerkan adalah Zelina Fahrani, seorang content creator British Accent bersama sang ibu, Teti Elida.

Kemudian Darmawati, pemilik restoran vegetarian Mimilu) bersama sang ibu, Le Bi, pemilik

Kedai Oma. Kemudian ada Evi Arnetty pemilik brand kue Bunda Vierra dan sang ibu, Evra Ahmad Assidiq. Selanjutnya Carl Carel, seorang content creator dan model bersama sang ibu, Nurhayeti. Lalu dr Ananda Khaira Azizah dan sang ibu, dr Rizalya Dewi Sp A, seorang profesional dan pemilik RSIA Budhi Mulia. Yang keenam Yuns Albaretta Landris, pemilik Pekanbaru Kuliner, bersama sang ibu, Ferianis (almarhumah). Kemudian Budithama, pemilik Hikayat Collection, bersama sang ibu, Bimawati. Dan terakhir Irfan Asmara, Coach dan CEO AMS Modeling School, bersama sang ibu, Nursinah.

Anggunia mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung pameran ini, yakni Living World Pekanbaru yang menyediakan tempat, Wardah Pekanbaru yang mendukung make-up talent, Gudeg Mbah Putri yang menyediakan snack box saat pembukaan, Azwa Parfume yang menyediakan hadiah, dan Galbet Foto yang mendukung cetak foto untuk pameran.

Anggunia yang kini bekerja di sebuah bank BUMN, mengaku mendalami ilmu fotografi secara otodidak, learning by doing, belajar dari buku, dan internet, sejak 2012 lalu. Bersama Rizky Arnando, suaminya, dia mendirikan bisnis fotografi, Sevenpixel Photography dan Artwork, yang memiliki sebuah studio foto di Pekanbaru. Studio foto itu memberikan layanan berbagai jasa foto dan juga video seperti layanan foto studio, dokumentasi pernikahan, hingga untuk kebutuhan komersial visual brand fashion dan portrait untuk personal branding atau kebutuhan profesional.

“Dalam karir fotografi, saya lebih fokus kepada jenis fotografi portrait, fashion, dan beauty,” jelas Anggunia lagi.

Pada bagian lain, kurator pameran, Rizky Arnando, menjelaskan, perlu waktu tiga bulan untuk persiapan pameran ini. Dimulai dari menetapkan konsep, mencari model/talent, pemotretan, pencarian tempat untuk pameran, dan lain sebagainya. Menurutnya, meski terkesan mudah, tetapi persiapan itu memiliki tingkat kesulitan juga, terutama dalam meyakinkan para talent dengan konsep yang sudah dibuatnya. Karena rata-rata para talent memiliki kesibukan yang padat, pihaknya terus melakukan komunikasi dengan baik, menyesuaikan waktu jeda mereka.

Rizky bersyukur karena konsep tersebut bisa diterima dengan baik dan mereka sangat antusias dalam pemotretan dan mendukung penuh saat pameran. Dia juga senang karena saat pameran mendapatkan perhatian yang luar biasa dari masyarakat, baik saat pembukaan maupun selama tiga hari pameran. Dijelaskannya, saat pembukaan pihaknya mengundang 80 orang pencinta seni dan fotografi, juga para talent. Sementara saat hari biasa, pengunjung kebanyakan adalah pengunjung Mal Living World.

“Rata-rata mereka puas dan memberi apresiasi positif untuk pameran ini. Konsep tentang kehangatan anak dan ibunya saat momen Hari Ibu ini dianggap sesuatu yang unik dan spesial,” ujar arsitek kelahiran Duri, Kabupaten Bengkalis, ini.

Tamatan Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta, Padang, ini, juga menjelaskan, setahunya, ini adalah pameran foto pertama yang memakai konsep kehidupan seorang ibu. Juga, belum banyak fotografer perempuan yang melakukan pameran foto dengan mengambil spesifikasi seperti ini.

“Ini bukan karena yang pameran istri saya, tetapi menurut saya penting mengembangkan fotografi sebagai seni di Pekanbaru dan Riau secara umum. Kami berharap apa yang kami lakukan ini akan diikuti banyak fotografer lainnya untuk melakukan pameran foto artistik karena saya tahu kita punya banyak fotografer handal di daerah ini,” ujar lelaki yang juga ketua komunitas arsitek Jadiruang Management ini.

Ke depan, Rizky ingin mengembangkan fotografi portrait ini menjadi lebih eksklusif dan dipandang pentng sebagai bagian dari seni fotografi yang serius.

“Fotografi potrait ini di masa depan akan sangat penting karena peminatnya terus berkembang dan secara seni juga relative kuat,” jelas lelaki yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Keprofesian Ikatan Arsitek Indonesia(IAI) Provinsi Riau ini.***

Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru

Editor : Rindra Yasin
#wanita separuh malaikat #potret #peran ibu