PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di tengah keterbatasan pendanaan, Sanggar Tari Laksemana tetap menyelenggarakan Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) XI 2024. Sebuah upaya untuk tetap memperkuat eksistensi berkesenian.
DARI cahaya yang agak redup, enam orang dengan pakaian serbamerah –bawahan merah menyala dan atasan merah marun—masuk ke panggung dengan gerakan perlahan. Terdengar suara seorang perempuan yang berada dari sudut kanan panggung menyenandungkan sebuah nyanyian. Suaranya terdengar enak di telinga, mengiringi gerakan lembut dan kadang agak keras para penari serbamerah yang kesemuanya lelaki tersebut.
Lalu, setelah beberapa lama para penari tersebut meliuk-liukkan tubuh –kadang dengan gerakan bersama-sama, kadang saling berbeda— dan suara nyanyian itu mengiringinya, pelan-pelan suara itu memudar. Beberapa saat kemudian, si perempuan itu menghentikan senandungnya. Dengan pakaian batik Melayu dominasi merah-kuning, dia bergerak perlahan menuju tengah panggung dengan gerakan lentur seluruh badannya. Perlahan-lahan juga, dalam waktu yang hampir bersamaan, para penari serbamerah menghilang dari panggung dan muncul seorang lelaki berbaju putih dengan bawahan hitam dan selendang merah diikatkan di pinggangnya.
Kini, di panggung hanya ada dua penari. Si lelaki berbaju putih dengan tanjak warna hitam di kepala, dan si perempuan yang tadi bersenandung. Keduanya kemudian mengekplorasi gerakan-gerakan sedemikian rupa yang berakhir dengan si perempuan duduk dalam gendongan si lelaki sambil berjalan ke beberapa penjuru panggung.
Itu adalah pertunjukan pembuka dalam Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) XI di Taman Budaya Pekanbaru, Jumat (27/12/2024). Dengan judul Petuah Mak, koreografer Faizal Andri dari Sanggar Balai Sanggam Melayu, Pelalawan, ingin menyampaikan persoalan kehidupan kontemporer, di mana banyak anak-anak sekarang yang kurang etika dan tak lagi menghormati kedua orang tuanya, yang menjadikan mereka anak-anak durhaka. Melalu karya tari yang diciptakannya, Andri menyampaikan pesan agar kita memperhatikan lingkungan sendiri untuk memperbaiki sikap dan etika anak-anak yang sudah jauh dari kesopanan.
“Dalam karya tari ini saya ingin mengangkat tentang petuah, nasihat, atau tunjuk ajar dari Nyanyian Panjang yang sudah menjadi kearifan lokal Kabupaten Pelalawan. Dalam nasihat Nyanyian Panjang banyak ditunjukajarkan orang tua, agar anak berbakti kepada orang tua, sehingga kasih sayang anak dan berbaktinya anak kepada orang tua menjadi lebih kuat,” kata Faizal kepada Riau Pos, Kamis (9/1/2025).
Dalam pagelaran ini, Faizal melibatkan dua penari utama, yakni Tio Akbar Maulana dan Wanda Hana Zaria. Lalu ada enam penari penamping, yakni Reno Pangestu, Amos Keni Zai, Ahmad Rifa’i, Muhammad Akmal Pasya, Marvel Fino, dan Murfid Akfkar Rajid, yang semua berasal dari Sanggar Balai Sanggam Melayu.
Menurut lelaki kelahiran Enok Dalam, Indragiri Hilir, 37 tahun lalu ini, inspirasi tari tersebut didapat dari pengalaman impiris yang terjadi dalam kehidupan dahulu, yang masih merasakan nasihat orang tua yang begitu berarti. Nasihat yang diberikan dengam berbagai cara. Seperti lewat nyanyian, nandung, nyanyi panjang, petatah-petitih, dan nasehat lainnya secara langsung. Sesuatu yang terbalik dengan kondisi saat ini, yang sudah hampir tidak ada lagi nasihat seperti itu karena pengaruh zaman yang modern. Dilihat dari sisi lain, kata dia, permasalahan saat ini pada anak, sangat mudah menjadi anak durhaka yang melawan orang tua. Itulah memunculkan ide baginya dengan menyerap kearifan lokal, yakni sastra lisan masyarakat tradisional Pelalawan.
Andri menilai, Pastakom XI yang diselenggarakan Sanggar Laksemana ini adalah sebuah wadah dan asah asih, bagi generasi muda tari yang sedang mencari jati diri, serta motivasi dalam memperdalam porses ketubuhan yang sebenarnya. Banyaknya pengisi acara dari berbagai usia sehingga bagi dia dan sanggarnya yang kebayakan anak sekolah, sangat menunggu acara ini setiap tahunnya.
Lulusan Prodi Sendratasik FKIP UIR ini berharap, ke depan dunia tari mendapat perhatian dari pemerintah Riau agar orang-orang seperti dirinya dan yang lainnya yang bergelut di bidang seni tari, semakin termotivasi dan terus berproses untuk lebih baik dan bisa terus berprestasi. Selama menjadi koreografer ataupun sebagai penari, Andri sudah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga ke luar negeri seperti Malaysia, Belanda, dan lainnya.
“Saya berharap pemangku kepentingan di Riau memperhatikan seni tari dan seni lainnya karena ini kegiatan positif dalam ikut membangun SDM yang unggul bagi generasi muda,” jelas lelaki yang menyelesaikan pendidikannya dari SD hingga SMA di Tembilahan ini.
Pada bagian lain, Direktur Pastakom XI yang juga Ketua Sanggar Tari Laksemana, SPN Iwan Irawan Permadi, menjelaskan, pada Pastakom 2024, tema yang diusung adalah “Ekplorasi Tubuh-Tubuh Tradisi”. Di sana beberapa hal yang ditonjolkan adalah tentang lingkungan, kesenian tradisi sebagai sumber garapan, serta kebertahanan masyaraakatnya dengan kekuatan kebudayaan.
Dijelaskannya, para koreografer dan penari yang ambil bagian berasal dari beberapa daerah di Riau dan provinsi lainnya. Selain Faizal Andri (Pelalawan), juga ada Kiki Rahmatika Syaher (Lampung), Nurlita Martison (Pekanbaru), Ninik Gondrong (Aceh), Elfhera Rosawati (Pekanbaru), M Sukri (Bengkalis), M Aqsal (Pekanbaru), dan Allen Trendi (Siak), yang tampil di hari pertama pada Jumat (27/12). Sedangkan yang tampil di hari kedua, yakni Sabtu (29/12) adalah Izadri Nizami (Pekanbaru), Iing Sayuti (Indramayu), Syafmanefi Alamanda (Pekanbaru), Ruki Daryudi (Tanjungpinang), Riri Sefriyeni (Pekanbaru), Erni Lestari (Rokan Hulu), Claudio Chantona (Pekanbaru), Putri Anjani (Pekanbaru), Muamar Ghadafi (Pekanbaru), dan Nuraini (Pekanbaru).
Dijelaskan Iwan, semua peserta yang datang untuk ikut Pastakom XI atas biaya sendiri. Panitia hanya menyediakan akomodasi di Wisma Taman Budaya Riau. Panitia juga hanya membantu fasilitas pertunjukan seperti panggung, sound system, atau lighting. Yang lainnya ditanggung oleh peserta sendiri.
“Dan saya mengucapkan terima kasih, dengan kondisi yang serba terbatas ini mereka masih antusias untuk ikut ambil bagian dalam iven ini,” ujar lelaki yang pernah dinobatkan sebagai Seniman Pilihan Sagang ini.
Dari sisi penyelenggaraan, salah satu masalah klasik yang dihadapi oleh Pastakom adalah keterbatasan dana. Hal ini membuat semuanya serbasulit dan tak sesuai dengan espektasi yang diharapkan. Dinas Kebudayaan Riau sendiri, kata Iwan, hanya membantu fasilitas panggung. Sedang pendanaan didapat dari beberapa donatur, orang tua para penari, kas sanggar, dan beberapa sahabat Sanggar Laksemana yang membantu fasilitas. Misalnya BigSound yang membantu sound system, Prosenium Lighting (untuk pencahayaan), Al Foundation, dan Albun Kopi. Namun begitu, dia tetap bersemangat dalam menyelenggaraan iven ini.
Dari sisi pencapaian, menurutnya, belum terlihat hal-hal baru yang ditampilkan para peserta. Banyak yang masih merupakan pengulangan. Hanya satu atau dua koreografer yang menampilkan konsep dan gagasan baru. Mereka adalah para koreografer muda Riau, yang ide dan karyanya cukup menyegarkan dan menjanjikan.
“Namun, saya senang tetap bisa menyelenggarakan iven ini. Banyak koreografer yang memberi kesan sangat positif karena merasa ada ruang bagi mereka untuk menyajikan karyanya,” jelas Iwan lagi.
Selain itu, jelas dia, Pastakom juga menjadi ruang silaturahim budaya, membuat jaringan berkesenian, dan terus menggemakan apa yan Laksemana inginkan, yakni misi ingin menjadikan Riau sebagai pusat seni pertunjukan kontemporer di Sumatra. Dengan begitu, harapannya adalah munculnya koreografer-koreografer muda di Riau untuk bisa berbicara di kancah nasional maupun internasional. Tari kontemporer di Riau mendapat pasarnya dan Pastakom membuka pasar, tidak mencari pasar.
“Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang membantu saya untuk terus menggelorakan iven ini. Mereka adalah Manajer Program M Andika, Show Director Epi Martison, Al Yusra (sound system), Mahar (lighting), Yayan Lesmana (tata panggung), dan tim kreatif lainnya. Alhamdulillah antusiasme masyarakat sangat baik dalam memberi apresiasi Pastakom XI,” ungkapnya lagi.
Pastakom pertama kali digelar pada tahun 1997 dengan menghadirkan para koreografer dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Ery Mefri (Padang), M Miroto (Yogyakarta), Syaeful Herman (Padangpanjang), Intan Herwinanti Sunu (Bengkulu), Edi Bestari (Lampung), dan beberapa koreografer dari Pekanbaru.
Sebelum ini, Pastakom sudah diselenggarakan sepuluh kali, hal ini yang sangat penting adalah sejarahnya yang memiliki reputasi baik, melahirkan para koreografer muda, juga menjadi ajang uji dari tawaran-tawaran estetika karya tari nasional, tidak hanya di Riau. Dari perjalanan 10 kali penyelenggaraan itu, Pastakom jadi iven yang strategis untuk upaya pengembangan dan pemanfaatan sebuah karya tari baru. Meski tidak selalu digelar setiap tahun, tetapi Pastakom mampu eksis dengan penyelenggaraan tahun 1999, 2002, 2005, 2006, 2008, 2014, 2016, 2019, 2022, dan 2024
Banyak para koreografer ternama, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang telah berpartisipasi dengan menyajikan karyanya pada kegiatan Pastakom ini. Mereka antara lain Tom Ibnur (Jakarta/Jambi), S Trisapto (Jakarta), I Nyoman Sura (Bali), Anton Sitepu (Medan), Eko Supriyanto (Solo), Boby Ari Setiawan (Solo), Rianto (Solo), Mugiyono Kasido (Solo), Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta), Sukarji Sriman (Jakarta), Besar Widodo (Yogyakarta), Sen Hea Ha (Korea), Joyce S Lim (Malaysia), Rachel Scott Crawford (New York, Amerika Serikat), Polly Motley (Amerika Serikat), Osman Abd Hamid (Singapura), Ronnarong Khampa (Thailand), MichinTomioka (Jepang), Sharmila Mukerjee dan Suman Sarawgi (India), dan puluhan koreografer dan penari lainnya.
“Saya berharap, ke depan Pastakom terus bisa digelar dan Pemprov Riau memberikan support-nya agar kegiatannya terus meningkat,” jelas Iwan Irawan mengakhiri.***
Editor : Bayu Saputra