Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Aktivitas Komunitas Kotak Baca Mengajak Anak Muda Mencintai Buku

Hary B Koriun • Minggu, 27 April 2025 | 10:30 WIB

Anggota Komunitas Kotak Baca saat beraktivitas sehari-hari di sekretariat mereka di Sukajadi, Pekanbaru, belum lama ini.
Anggota Komunitas Kotak Baca saat beraktivitas sehari-hari di sekretariat mereka di Sukajadi, Pekanbaru, belum lama ini.

Digitalisasi yang terus berkembang memang memudahkan orang mendapatkan informasi, hiburan, komunikasi, dll, lewat satu benda seperti handphone. Komunitas Kotak Baca ingin anak muda kembali ke bacaan kertas seperti buku, majalah, surat kabar, dan lainnya. Meskipun itu tidak mudah.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - LUAS ruangan itu sekitar 5x3 meter. Sebuah garasi di sebelah rumah induk. Ada beberapa meja bundar kecil dan dua kursi di masing-masingnya. Pada sisi paling belakang, ada beberapa rak yang berisi buku-buku berbagai genre yang ditata dengan rapi. Lokasinya berada di Jl Tiung, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru. Posisinya di belakang Kampus Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) lama.

“Di ruang inilah kami beraktivitas. Dan dari ruang inilah kami memikirkan banyak hal tentang program yang kami buat,” kata Dea Gita, pendiri kelompok literasi yang menamakan dirinya Kotak Baca ini, kepada Riau Pos, Rabu (23/4/2025).

Pagi menjelang siang itu Gea ditemani seorang pengurus Kotak Baca. Tak beberapa lama kemudian datang seorang pengurus lainnya. Di ruangan itu udaranya lumayan sejuk meski hanya ada kipas yang menempel di dinding. Itu sudah cukup mengusir pengab dan panas karena di luar cuacanya lumayan panas.

Dea bercerita, kecintaannya terhadap buku, surat kabar, majalah, dan bacaan lainnya sejak dia kecil membuatnya begitu dekat dengan buku dan dunia literasi. Saat kecil, jika libur sekolah, orang tuanya mengajak kebeberapa toko buku. Sebelum ada toko buku besar seperti Gramedia berdiri di Pekanbaru, mereka keluar-masuk ke beberapa toko buku seperti toko Bayu dan lainnya di Jl Jendral Soedirman. Juga toko buku lain di beberapa kawasan.

Koleksi bukunya lumayan banyak yang dikumpulkannya sejak kecil. Lalu, setelah tamat dari Universitas Riau (Unri), dia berpikir mau diapakan buku-bukunya tersebut. Ketika itu belum ada niatan untuk membuka ruang baca sendiri. Dia masih mencari komunitas atau kelompok literasi di Pekanbaru. Dia ingin bergabung, sekalian mencari pengalaman tentang dunia literasi dan kepenulisan.

Namun, pencariannya tak kunjung ketemu. Dia kemudian berpikir lagi untuk memanfaatkan buku-buku koleksinya itu dengan membuka ruang baca sendiri di rumahnya. Lalu, muncullah nama Kotak Baca sebagai nama ruang baca tersebut. Keinginan Dea tidak muluk-muluk. Dia hanya ingin mengajak anak-anak muda sekarang kembali ke kertas: membaca buku, majalah, surat kabar, dan lainnya. Sebab, dengan semakin massifnya penggunaan handphone, dunia kertas --termasuk buku-- semakin ditinggalkan. Banyak anak muda yang yang tidak mengenal buku. Beberapa kegiatan kemudian menjadi program awalnya. Misalnya bedah buku, diskusi tentang persoalan terbaru, dan lainnya, baik bersama anggota atau komunitas lainnya.

“Awalnya ya program-program ringan saja. Yang penting bisa ngumpul bersama anak-anak muda lainnya,” ujar perempuan kelahiran Padang, 31 Juli 1993 ini.

Belakangan, dengan semakin banyak­nya anggota, beberapa program kemudian dibuat. Seperti Sisir Kampung, Kelas Kotak, Bedah Film, Kertas Surat, dll. Sisir Kota adalah sebuah program literasi kota dengan mengajak anak-anak muda untuk mengenal kotanya, Pekanbaru, dengan mendatangi tempat-tempat penting. Baik yang punya nilai sejarah, edukasi, dan lainnya. Yang terakhir, edisi ke-13, malah keluar Pekanbaru, yakni mengunjungi Desa Buluh Cina, di Kabupaten Kampar.
Baca Juga: Tidak Hanya Setuju Pencopotan Gibran, Mantan Kepala BIN Ini Juga Kritik Momen Jokowi Terima Menteri saat Idulfitri

Di desa tempat kelahiran sastrawan Makmur Hendrik ini, bersama 30-an anggota tetap (membership), mereka melakukan wisata edukasi dengan melihat gajah-gajah jinak yang ada di sana. Lalu melihat mengasapan ikan yang dilakukan penduduk lokal, dan kegiatan keseharian lainnya. Dari kegiatan itu, kata Dea, para peserta bisa memahami apa yang dilihat sebagai sebuah pengetahuan baru dan dituangkan dalam bentuk tulisan apa saja. Bisa saja dalam bentuk puisi, cerpen, catatan jurnalistik, surat terbuka, dan karya lainnya.

Kemudian, Kelas Kotak adalah kreativitas anggota dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah tak terpakai. Misalnya membuat sandal dan barang lainnya dari barang bekas. Lalu ada Kertas Surat. Yakni masing-masing anggota menulis surat yang dikirim ke Kotak Baca. Surat-surat itu dibuat sedemikian rupa, yang kemudian dibacakan bergantian saat pertemuan dan didiskusikan bersama. Mereka juga membuat program Bedah Film. Sebuah kegiatan nonton film bersama, dan kemudian mendiskusikannya. Terakhir, Kotak Baca nonton bareng dan mendiskusikan film dokumenter, Salmiyah, karya sutradara Hariyaldi Kurniawan. Film tentang para pelaku sejarah, berupaya menggambarkan kompleksita sejarah yang penuh dengan prasangka dan jarak. Selain program-program tersebut, juga ada kegiatan lainnya seperti kelas literasi, lokakarya, pinjam buku gratis, dan yang lainnya. Kelas Bedah Buku juga salah satu unggulan. Terakhir mereka melakukan bedah buku novel karya penulis legendaris Spanyol, Miguel de Carventes, Don Quixote.

Dea menjelaskan, dia senang karena ruang yang dibangunnya ini memberi manfaat kepada banyak orang. Terutama anak-anak muda yang ternyata tidak semuanya melupakan buku dan literasi lainnya. Dia juga senang karena markas Ruang Baca bagi sebagian orang, menjadi tempat untuk berkumpu, jadi tempat untuk ngobrol. Mempertemukan banyak orang yang punya keinginan yang sama juga. Banyak orang umum –bukan anggota— yang datang hanya sekadar mencari tempat istirahat setelah lelah bekerja, sebelum pulang ke rumah. Mereka janjian dengan kawannya, dan kemudian ngobrol di Kotak Baca.


“Juga ada yang ketemu dan kenalannya baru di Kotak Baca. Lalu mereka janjian lagi ketemu dan menjadikan Kotak Baca sebagai ruang mereka untuk berbagi cerita. Ini membahagiakan saya,” jelas anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sugito dan Eliza ini.

Selama ini, Kotak Baca sudah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Ini dilakukan selain untuk mengembangkan wawasan para anggota, juga dalam rangka mengembangkan dan sosialisasi komunitas ini. Misalnya dengan Universitas Lancang Kuning (Unilak). Beberapa kali pihaknya melakukan pertemuan dengan Rektor Unilak, Prof Dr Junaidi, baik di Kampus Unilak maupun di Kotak Baca. Hasil dari komunikasi itu adalah beberapa kerja sama. Salah satunya adalah pihak Unilak memberikan bantuan sekitar 250 eksemplar buku berbagai genre.

Kerja sama juga dilakukan dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Riau. Beberapa pengurus Kagama juga pernah melakukan kunjungan ke Kotak Baca. Mereka membicarakan tentang kerja sama penyelenggaraan pelatihan atau diskusi bersama, dengan Kagama sebagai penyedia mentor atau pembicara. Selain itu, Kagama juga membantu membangungkan network untuk Kotak Baca dengan berbagai stake holder yang berhubungan dengan literasi. Juga hal-hal lainnya sesuai misi dan visi Kotak Baca.

Kemudian, Kotak Baca juga menjalin komunikasi secara intens dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Provinsi Riau melalui Kadispersip Dra Mimi Yulianti Nazir. Komunikasi itu membicarakan tentang hal-hal apa yang bisa dilakukan dalam bersama-sama membangun dunia literasi di Riau. Kadispersip juga sempat berkunjung ke markas Kotak Baca, melihat langsung aktivitas yang dilakukan oleh para pengurus dan anggota. Kata Dea, Kadispersip memberikan respon dan apresiasi atas apa yang dikerjakan Kotak Baca.

Selain dengan organisasi dan lembaga tersebut, Kotak Baca juga menjalin komunikasi dengan banyak individu atau komunitas literasi lainnya dalam membangun sinergi. “Baik pihak Unilak, Kagama, maupun Dispersip Riau, memberikan support dengan banyak program yang telah dan akan kami selenggarakan. Kami juga terus menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak lainnya,” kata Dea.

Sejak berdiri pada 2022, Kotak Baca telah pindah skretariat atau markas beberapa kali. Setelah di rumah Dea sendiri, kemudian pindah dan bergabung dengan komunitas bersama di NonBlok, Simpang Tiga. Sekitar setahun di sana, lalu pindah ke Pasar Bawah, Senapelan, tidak jauh dari rumah Tuan Kadi di pinggir Sungai Siak. Baru setelah itu pindah ke Jl Tiung, Sukajadi ini. Kata Dea, beberapa kali perpindahan itu dilakukan karena mencari posisi yang strategis. Sebab, di beberapa tempat sebelumnya, banyak anggota dan peserta yang mengeluhkan jauhnya tempat jika ada kegiatan. Apalagi kalau malam hari.

Di Sukajadi ini, karena tempatnya di tengah-tengah kota dan dianggap strategis –mudah dijangkau dari berbagai tempat-- banyak kegiatan yang bisa dilakukan, bahkan bisa sampai malam hari. Hal ini memudahkan mobilitas bagi mereka yang masih kuliah atau kerja, karena bisa langsung ikut kegiatan setelah kuliah atau kerjanya selesai.

Dea mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang selama ini mendorong dan mendukung apa dia kerjakan dengan kawan-kawannya. Kata dia, membangun literasi di masyarakat yang belum melek buku tetapi sudah akrab dengan gadget, memang perlu kerja keras.

Sebab di HP semuanya serbamudah didapat, sementara buku memang memerlukan waktu khusus untuk membacanya. Tetapi dia bersyukur karena banyak anak muda yang bergabung di komunitasnya, kini pelan-pelan sudah kembali ke bacaan kertas, meski banyak juga yang masih tergantung dengan digital. Kalau bisa, katanya, keduanya bisa bersinergi.

Dea yang sejak kecil pindah ke Pekanbaru dari Padang bersama keluarganya, menyadari bahwa dunia literasi membutuhkan orang-orang yang mau bekerja keras. Dia memilih di literasi remaja dan anak muda karena dia merasa itu masih dunianya juga.

Selain mencintai bacaan sejak kecil, Dea juga sudah menulis beberapa buku. Seperti kumpulan puisi Perenung Senja (2021), novel Bhanuwati, dan kumpulan tulisan bersama Aku dan Salonku (2023) yang merupakan hasil dari residensi yang diselenggarakan Kemendikbudristek kala itu di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kecintaannya terhadap buku dan menulis inilah salah satu yang ingin ditularkannya kepada anggota Kotak Baca, selain menyelenggarakan kegiatan kreativitas lainnya. Pecinta musik dan film-film melankolik ini berharap suatu saat nanti Kotak Baca menjadi destinasi kunjungan orang saat berwisata ke Pekanbaru, menjadi story creativity, menjadi tempat bagi orang untuk saling bertukar pikiran, juga memiliki kedai kopi sendiri.

“Cita-cita kami tak banyak, tapi memang harus dikerjakan dan diseriusi agar terlaksana,” kata perempuan yang juga suka bertualang ini.***

Editor : Bayu Saputra
#Kotak baca #buku #baca buku