Budaya tradisional mestinya dikembangkan ke ranah industri dan terus dilestarikan. Menurut Gubernur Riau, Abdul Wahid, kita tak bisa terus-menerus mengandalkan sumber daya alam yang semakin lama akan habis.
Tanah air mata tanah tumpah darahku
Mata air air mata kami
Air mata tanah air kami
Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan air mata kami
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SUARA gemuruh sontak bergema ketika pembawa acara Bens Sani memperkenalkan dan memanggil nama Sutardji Calzoum Bachri untuk naik ke atas pentas. Sore itu, Senin (2/6/2025) Presiden Penyair Indonesia tersebut naik panggung dalam acara Semarak Budaya: Festival Seni Budaya Melayu di Arena Teater Utama Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT), Purna MTQ, Pekanbaru. Anggota Komisi X DPR RI asal Riau, Dr Kalmira Sari SKom MM, berandil besar dalam membawa kegiatan dengan anggaran dari Kementerian Kebudayaan RI ini ke Riau.
Sajak di atas, “Tanah Air Mata”, adalah satu dari sekian sajak yang dibacakan oleh lelaki 84 tahun kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941 tersebut. Dengan suara serak tapi power full --kadang sambil meniup harmonikanya-- Sutardji membacakan sajak-sajaknya dengan penuh pendalaman. Meski tubuhnya semakin ringkih tak sekuat beberapa puluh tahun lalu, namun pesonanya di atas panggung seakan tak berkurang. Beberapa puisi lain yang dia bacakan, tetap dengan kekuatan vokal yang menggelegar khasnya. Tak berkurang sedikit pun.
Di sela membacakan sajak-sajaknya, Sutardji juga sempat mengucapkan beberapa hal, termasuk perjalanan kepenyairannya. Dia pernah mengalami fase sajak-sajak pemberontakan, fase sajak cinta, hingga nasionalisme. “Fase-fase itu saya lewati sambil terus mencari hakikat puisi atau sajak tersebut bagi kehidupan kita. Saya juga menjadikan sajak sebagai ladang mencari pertemanan dan persahabatan. Saya berteman dan bersahabat dengan semua orang,” katanya sebelum meniup harmonika dan membaca sajak lagi. Lalu suara khasnya terdengar lagi.
Sore itu, lelaki yang terkenal dengan salah satu buku sajaknya O, Amuk, Kapak ini membacakan sajak-sajak ikoniknya yang lain seperti “Tapi”, “Bendera”, “Wahai Pemuda Mana Telurmu”, “Dentuman Cinta”, dan yang lainnya. Sejak awal hingga mengakhiri pembacaannya, pesona Sutardji tak pudar. Para penonton, penikmat sajak, dan penyuka sajak-sajak Sutardji tak bisa menyembunyikan rasa puas mereka ketika kemudian Sutardji menyelesaikan pembacaannya.
Sutardji adalah undangan istimewa pengisi festival ini. Penampilannya seperti menjadi puncak dalam helat ini, meski di penampilan terakhir ada kelompok musik Konkrit Genggaman, yang dengan musik reggenya berhasil menghangatkan dan memecahkan suasana yang memang dari awal terkesan serius dengan penampilan berbagai kelompok seni.
Beberapa kelompok seni yang ambil bagian dalam festival ini adalah Sanggar Linayungan dari Kampar Kiri yang menampilkan musik dan tari tradisional yang dikombinasikan dengan pencak silat. Lalu ada Suwang Project, Balai Proco, Rumah Sunting, Competer, Harmonirama, Selodang, dan Organic Esemble. Mereka begantian menampilkan pertunjukan teater, pembacaan puisi, permainan rakyat, hingga sastra lisan.
Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Riau Abdul Wahid, anggota Komisi X DPR RI Kalmira Sari, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr Umi Kulsum MHum, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Riau, perwakilan dari Dinas Pariwisata Riau, Perwakilan dari Dinas Pendidikan Riau, perwakilan dari beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Riau (Unri), Universitas Islam Riau (UIR), UIN Sultan Syarif Kasim, Universitas Lancang Kuning (Unilak), beberapa sastrawan dan seniman seperti Fakhrunnas MA Jabbar, Hang Kafrawi, Anton Widiyanto Putra (Komunitas Paragraf), dan ratusan penonton lain yang hadir memadati Teater Utama Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT).
Penanggung jawab kegiatan, Kunni Masrohanti, menjelaskan, acara Semarak Budaya Festival Seni Budaya Melayu ini merupakan fasilitasi dari Kementerian Kebudayaan RI yang disuport langsung oleh Karmila Sari. Tujuannya adalah terus menghidupkan dan melestarikan kebudayaan Melayu Riau. Menurutnya, upaya pewarisan dengan terus mendukung kelompok-kelompok seni dan budaya berbagai bidang dari berbagai daerah di Riau, merupakan salah satu cara agar kebudayaan itu terus tumbuh dan tak pernah mati.
Selain itu, ruang-ruang seni dan budaya yang sudah dibangun oleh pemerintah, baik oleh Pemprov Riau atau pun pemerintah kabupatan dan kota di Riau, mestinya terus bisa dimanfaatkan dengan mendorong kreativitas yang terus-menerus dilakukan oleh seluruh pekerja seni. Sebab, jika ruang-ruang itu tidak dimanfaatkan, maka kebudayaan akan mati secara sendirinya, juga ruang-ruang budaya tersebut. “Kegiatan ini adalah untuk terus mendorong kerja kebudayaan dan menghidupkan ruang-ruang seni dan kebudayaan agar terus menyala dan tumbuh. Salah satunya adalah Anjung Seni Idrus Tintin ini, sebagai salah satu gedung seni termegah di Indonesia. Jika tidak dimanfaatkan dan dihidupkan, dia akan menjadi bangunan yang tak berguna dan mati,” ujar Kunni.
Dia mengucapkan terima kasih dengan dukungan dari Karmila Sari yang langsung berhubungan dengan Kementerian Kebudayaan untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Hal yang sama juga diucapkan kepada Gubernur Abdul Wahid yang sangat mendukung hidupnya kreativitas kebudayaan, terutama kebudayaan Melayu di Riau.
“Tanpa dukungan dari Ibu Karmila Sari, Bapak Gubernur Abdul Wahid, dan semua pemangku kepentingan bidang kebudayaan, acara seperti ini tidak akan terlaksana. Kita semua berharap kegiatan seperti ini terus dihidupkan,” ujar Ketua Penyair Perempuan Indonesia ini.
Gubernur Abdul Wahid yang membuka festival ini berkali-kali mengucapkan apresiasinya, termasuk siapa pun yang terlibat, baik sebagai pelaksana maupun kelompok atau individu yang diundang mengisi acara. Secara khusus Gubri mengucapkan terima kasih kepada Sutardji yang mau datang ke Riau untuk membaca puisi, Kunni sebagai penanggung jawab kegiatan bersama timnya, juga Karmila Sari yang melobi Kementerian Kebudayaan untuk menginisiasi acara ini di Riau.
Wahid berharap, budaya bukan hanya pertunjukan, tetapi juga sebagai sebuah pemikiran bagaimana melestarikan dan mengembangkannya. Katanya, perlu terobosan-terobosan agar budaya Melayu Riau akarnya tetap kuat, daunnya tetap hijau, dan pohon serta dahan dan rantingnya terus tumbuh dan kokoh.
“Hari ini, banyak anak-anak Melayu kita yang sudah lupa permainan tradisional, satra lisan tradisi, dan hal-hal lain dari tradisi kita karena mereka terbawa arus modernisasi. Sibuk main HP dan sebagainya. Kita mendukung kemajuan, juga digitalisme, tapi jangan lupa dengan budaya dan tradisi kita sendiri,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Kata Gubri lagi, kegiatan kebudayaan yang hanya mengedepankan seremoni tanpa pergulatan pemikiran, akan hilang setelah acara selesai. Harus ada transformasi budaya dan terus dikembangkan. Dia menyadari, kebudayaan tidak hadir hanya dengan kata-kata, tapi harus dijaga, dilestarikan, dan kembangkan. Dan itu harus dilakukan semua orang, semua pemangku kepentingan yang ada di dalamnya. Ada kolaborasi dalam membangun kebudayaan.
Bersempena ulang tahun Provinsi Riau tahun 2025 ini, kata Wahid, Pemprov Riau akan menggelar Konferensi Melayu Serumpun pada Agustus. Ini dilakukan untuk menggugah dan mengingatkan bahwa di Indonesia, Riau adalah pusatnya peradaban Melayu. Bahkan di Asia Tenggara. Dia mengingatkan, bahasa Indonesia, yang saat ini menjadi bahasa negara dan terus berkembang besar, dasarnya adalah dari bahasa Melayu Riau, yang disepakati bersama sebagai bahasa persatuan. “Kita harus ingat tentang hal itu bahwa Riau ini sangat besar, baik kekayaan alamnya maupun kebesaran budayanya. Harus terus dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan dengan serius,” jelas dia.
Wahid juga menjelaskan, untuk Kota Pekanbaru, akan dibangun kawasan budaya di pinggir Sungai Siak, yakni Water Front City Pekanbaru di kawasan Kota Tua Pasar Bawah dan sekitarnya, terutama di kawasan rumah Tuan Kadi. Daerah itu akan dijadikan kawasan wisata budaya dan religi, karena di sana juga ada Masjid Raya Pekanbaru peninggalan Kesultanan Siak Sriindrapura. Dia akan mendorong Kota Tua sebagai warisan budaya yang akan dibangun dengan identitas Melayu dan dibuka secara luas untuk masyarakat.
“Hal-hal seperti ini harus kita mulai. Wisata budaya dan religi bisa kita kembangkan di Riau karena kedekatan Islam dan budaya Melayu di Riau. Di semua daerah bisa kita lakukan seperti ini,” ujarnya.
Gubri ingin membangun kebudayaan sebagai bagian dari industri baru dalam membangun masyarakat. Ini harus dilakukan karena tak bisa terus-menerus mengandalkan sumber daya alam saja. Budaya Melayu harus masuk dalam bidang industri. Dia mengajak semua pihak menjaga dan membangun budaya Melayu. Bukan hanya tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan pihak terkait, tapi tanggung jawab semua orang.
“Festival ini diharapkan bisa menumbuhkan kebudayaan dan bukan hanya selebrasi tahunan. Ini menjadi salah satu pemantik dan pintu masuknya. Setelah itu kita harus terus membangun bersama,” kata lelaki kelahiran Indragiri Hilir ini.
Pada bagian lain, Karmila Sari menjelaskan, festival ini adalah bagian dari program Komisi X DPR RI dan Kementerian Kebudayaan, yang diarahkannya ke Riau. Menurutnya, salah satu hal yang juga harus dikembangkan adalah kebudayaan berbasis gender, yakni meningkatkan partisipasi masyarakat --salah satunya kaum perempuan— dalam kreativitas kebudayaan. Selama ini, katanya, perempuan seolah diabaikan dalam pembangunan kebudayaan kita. Padahal, lelaki dan perempuan harus saling melengkapi. Budaya harus dikembangkan di semua genre.
“Selama saya masih di Komisi X DPR RI, mari berkolaborasi mengembangkan dunia pendidikan dan kebudayaan. Kreativitas harus terus dijaga dan ditingkatkan,” kata mantan anggota DPRD Rokan Hilir dan anggota DPRD Riau dua periode ini.
Karmila berharap, budaya Melayu terus disemarakkan. Masyarakat Melayu adalah bagian penting dari kebudayaan besar Indonesia. Untuk itu, tradisi masyarakat Melayu di Riau tidak boleh hilang atau punah. Karmila menginginkan kegiatan seperti ini tidak hanya di Pekanbaru tapi di kabupaten dan kota lain di Riau.
Kata anak Bupati Rohil, Bistamam, ini, genrenya juga harus diperluas. Tidak hanya seni tari, musik, teater, atau pembacaan puisi, tetapi bisa dikembangkan pada genre lain. Misalnya juga meliputi dunia menulis seperti cerpen atau novel. Dengan mengembangkan semua genre tersebut, dia berharap kebudayaan dan tradisi masyarakat kita tetap menjadi milik kita dan tidak diklim oleh negara lain.
“Pesan saya, generasi muda sekarang, baik generasi milenial maupun Gen Z, harus terus mempelajari budaya dan tradisi Melayu kita. Rekam dan sebarkanlah secara luas. Manfaatkan media sosial dengan baik dan positif. Itu salah satu cara kita merawat dan melestarikan kebudayaan dan tradisi kita agar tidak punah dan hilang,” jelasnya lagi.***
Editor : Bayu Saputra