Sejak dulu, banyak komedian yang lahir dari Riau. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu Riau juga sangat lekat dengan komedi. Diharapkan kekhasan komedi masyarakat tradisional Melayu ini terus dipertahankan dan dikembangkan.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - MESKI sebuah organisasi yang isinya orang-orang yang terjun di dunia komedi, ternyata ketika berkumpul dan berdiskusi tentang masa depan –juga masa lalu— dunia komedi Riau, mereka terlihat serius. Hanya sesekali lawakan dan celetukan lucu muncul. Itulah yang terjadi dalam Diskusi Kelompok Terpumpun “Jejak Komedi dalam Seni Tradisional Melayu Riau” yang ditaja oleh Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau di Galeri Hang Nadim, Anjung Kampar, Kompleks Bandar Serai, Pekanbaru, Jumat (13/5/2025).
Hadir dalam diskusi tersebut beberapa seniman Riau, baik anggota PaSKI Riau maupun seniman genre lain yang ingin ikut menyumbang pikiran tentang perkembangana dunia seni lawak di Riau. Mereka antara lain kartunis Furqon LW, Kazzaini Ks, Fakhrunas MA Jabbar, Mostamir Thalib, Beni Riaw, Fedli Aziz, Hang Kafrawi, Zalfandri Zainal (Mat Rock), Siti Salmah, Aamesa Aryana, Zulkarnain Al Idrus, Jefrizal, Deni Afriadi, Monda Gianes, Pay Lembang, Salam Aziz, Fahmi, dll.
PaSKI Riau adalah PaSKI daerah paling tua di Indonesia, atau PaSKI daerah yang terbentuk paling cepat di antara organisasi serupa yang ada di daerah lain. Umurnya sekarang sudah 20 tahun. Maka, acara tersebut juga dibarengi dengan potong tumpeng sebagai peringatan berdirinya PaSKI Indonesia. Menurut salah satu pendiri yang juga komedian senior Riau, Udin Semekot, hal itu membuat PaSKI Riau hingga saat ini sangat disegani, baik oleh pengurus pusat maupun pengurus daerah lain.
“Kita di Riau punya sejarah panjang di bidang komedian, juga punya ciri khas yang tak dimiliki daerah lain. Inilah yang mestinya kita pertahankan,” jelas lelaki yang juga penasihat PaSKI Riau ini.
Ketua PaSKI Riau, Ahmad Benny Joniaman, menjelaskan, diskusi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan lembaga yang dipimpinnya tersebut. Yang diharapkan adalah mendapatkan masukan dari beberapa kalangan tentang dunia komedi di Riau. Seperti yang dikatakan Udin Semekot, kata lelaki yang biasa dipanggil Bens Sani ini, para komedian Riau –baik tunggal maupun grup—bisa mempertahankan gaya khas Melayu Riau dalam setiap lawakannya di panggung. Kata Bens, grup Pengat Riau pernah juara ketiga nasional dalam Anugerah Komedi Indonesia (AKI).
“Ketika itu, kata salah seorang dewan juri, yang menarik dari Pengat adalah ucapan atau gaya tutur mereka yang khas Melayu Riau. Salah satu personil Pengat adalah Bang Zulkarnain Al Idrus,” kata lelaki yang juga dikenal sebagai master of ceremony (MC) ini.
Bens Sani juga menjelaskan bahwa setelah era Otong Lenon yang sangat melegenda, sezaman dengan Ateng atau S Bagio, kemudian ada Fahri dan Udin Semekot, banyak muncul generasi komedian Riau. Meski tak seterkenal para seniornya, namun mereka tetap eksis membangun dunia komika. Baik tunggal maupun grup. Misalnya, dulu ada grup Nyanyah yang digawangi Fahmi dan Abrar, yang sempat menjadi juara kedua Akademi Pelawak Indonesia (API) sebuah televisi swasta. Kemudian juga ada grup komedi perempuan, Puan, yang juga lahir di sebuah lomba di televisi. Lalu muncul Pengat dan lainnya.
Kata Bens, grup-grup lawak tersebut tetap mempertahankan gaya tuturnya dengan lawakan khas Melayu, yang dari cara bicara dan logat, adalah apa yang mereka ucapkan sehari-hari. Tidak dibuat-buat. Dia berharap, para komika (tunggal) maupun grup di Riau yang saat ini sedang membangun diri di dunia komedi, tetap mempertahankan dan mengembangkan gaya dan tutur khas Melayu itu, yang memang berbeda dari para komedian dari daerah lain.
“Rencananya, dalam waktu dekat, PaSKI Riau akan menyelenggarakan lomba teater komedi di Anjung Seni Idrus Tintin,” kata Bens lagi.
***
DALAM diskusi tersebut, Mostamir Thalib yang menjadi pembicara pertama menjelaskan tentang tapak seni komedi di Riau yang memang sejak dulu sudah bernuansa komedi. Misalnya dalam cerita-cerita Pak Belalang, Pak Pandir, Yong Dollah, Wak Atan, hingga Wak Luncai, semuanya adalah cerita lucu yang sudah menjadi keseharian masyarakat Melayu. Di masa awal, selain cerita-cerita komedi dari M Kasim dan Soeman Hs, Riau juga memiliki T Nazir, Daud Kadir atau Sudarno Mahyudin. Lalu, juga ada majalah Canang dan Nenek Kabayan, yang memuat cerita-cerita komedi.
Tokoh masyarakat Riau yang juga seorang dokter, Tabrani Rab, juga seorang penulis yang berhasil membuat orang tertawa dalam tulisan-tulisannya, meski dia tidak berusaha melucu. Kata Mostamir, tradisi Melayu tidak melawak, tapi pembaca atau penonton merasa lucu dan tertawa karena itu, padahal para penulis atau mereka yang di panggung tidak mencari kata atau kalimat lucu.
“Dalam komedi Melayu, yang sangat penting adalah logika, estetika, dan etika. Baik dalam bentuk tulisan atau penampilan di panggung, tidak berusaha melucu karena itu bahasa sehari-hari. Tapi keseharian orang Melayu dalam berbicara atau bergerak, menimbulkan kesan lucu,” ujar Mostamir.
Salman Aziz, salah seorang seniman tradisional asal Kampar, menceritakan, banyak cerita yang lucu di Kampar, yang sebenarnya adalah bahasa lisan sehari-hari. Di sana, di mana pun ada orang berkumpul, baik di warung kopi maupun dalam obrolan santai lainnya, selalu keluar cerita-cerita lucu. Tentu dalam bahasa trasional mereka, yang sering disebut bahasa Ocu. Misalnya cerita-cerita tentang Randi si Jobang, yang ceritanya terkesan dibesar-besarkan, tapi sebenarnya tak berbohong. “Jejak komedi itu bukan di panggung, tetapi dalam obrolan sehari-hari di masyarakat. Jadi ketika ditulis atau dipanggungkan oleh komedian, itu sebenarnya apa yang terjadi sehari-hari, dan lucunya memang sudah dari sananya, bukan dibuat-buat agar lucu,” kata Salman.
***
FAHMI, seniman asal Kuantan Singingi yang juga pernah tergabung dalam grup Nyanyah, menjelaskan tentang seni tradisional randai yang juga memiliki cerita-cerita komedi. Kata dia, randai berasal dari kata “berandai-andai”, seperti seorang miskin yang berandai-andai menjadi kaya, dalam banyak cerita lama. Randai Kuantan yang dia pelajari adalah perpaduan dari randai Minangkabau dan Melayu Riau. Di dalamnya ada musik, tarian, seni peran, syair, dan komedi. Di dalamnya ada pesan positif atau nasihat untuk para penontonnya. Menurutnya, yang membedakan randai Minang dengan Kuantan, yakni nyannyian dan joget dalam randai kuantan dijadikan sebagai pembatas cerita. Sedangkan dalam randai Minang, ceritanya yang dinyanyikan.
“Sekarang, konsep randai Kuantan ada yang dibelokkan. Ada istilah randai modern yang dilakukan oleh ibu-ibu yang kebanyakan terafiliasi dan dipengaruhi oleh politik atau partai,” ujar Fahmi.
Harus diakui, kata Fahmi, randai kuantan sangat terpengaruh dan awalnya mirip dengan randai Minangkabau. Dulu, cerita-cerita yang disampaikan juga hampir sama. Misalnya Sabai nan Aluih, Cindua Mato, dan yang lainnya yang khas Minang. Namun seiring perjalanan waktu, randai kuantan kemudian mengambil cerita-cerita yang ada di rantau Kuantan dan cerita Melayu lainnya. Kata dia, saat ini randai kuantan sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Pada bagian lain, seniman asal Siak, Zulkarnain Al Idrus, yang biasa dipanggil Wak Jul, menjelaskan, bagi masyarakat Riau pesisir, komedi sudah sealu ada dalam banyak acara dalam masyarakat. Baik acara adat, pesta perkawinan tradisional, dan yang lainnya. Dalam setiap acara yang diselenggarakan masyarakat itu, yang paling utama dicari adalah tukang pantun. Itu pun ada syaratnya, harus yang pandai berkelakar atau komedi. Kata dia, banyak tukang pantun yang hebat. Baik isi atau sampirannya. Namun, jika tak menguasai kelakar atau komedi, maka dia tak dianggap sebagai tukang pantun.
“Berkelakar itu menjelaskan kecerdasan orang Melayu pesisir,” ujar Youtuber yang terkenal dengan kata-kata “mewah, mewah…” ini.
Sementara itu, akademisi Deni Afriadi, mendedah tentang teater-teater tradisional Melayu yang memang menyelipkan komedi saat di atas panggung. Yakni teater Bangsawan, Mendu, Makyong, Mamanda, dan yang lainnya. Di masa lalu, kata Deni, teater adalah hiburan rakyat yang ringan, di tengah tekanan zaman. Di dalam semua jenis teater itu ada edukasi, nasihat, dan lainnya. Dalam kisah-kisah raja dan pemerintahannya itu, diselipkan komedi, agar pikiran penonton (masyarakat) juga ringan dan senang.
Dalam cerita-cerita dalam teater itu, kata Deni, komedi adalah cerita utama, bukan tempelan. Konsep awal teater tersebut adalah cerita komedi. Bahkan namanya pun sudah ada kata “komedi”. Misalnya Komedi-Bangsawan, Komedi-Mamanda, dll. Tokoh yang berperan untuk karakter komedi ini biasanya adalah struktur terendah dalam hirarki kerajaan. Misalnya tukang suruh (pembantu) istana.
“Teater tradisional seperti Bangsawan dan yang lainnya, adalah dasar dari teater modern di Indonesia. Prinsip-prinsip egaliter dalam demokrasi modern, misalnya, sudah muncul dalam teater tradisional Melayu. Misalnya, seorang pesuruh berani mengkritik sang raja atau atasan lainnya. Atau kisah tentang raja yang dekat dengan rakyat dan bawahannya, dan sebagainya,” kata lelaki yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Melayu FIB Unilak itu.***
Editor : Bayu Saputra