Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pameran 40 Karya Seni Rupa "Alih Generasi" Galeri Hang Nadim; Membaca Ulang Imajinasi dari Zaman ke Zaman

Harry B Koriun • Minggu, 29 Juni 2025 | 16:50 WIB

Ditemani Kepala Galeri Hang Nadim (GHN) Furqon LW (paling kanan) kurator Cak Winda (paling kiri) dan pengurus GHN Saridan (bertopi), Koordinator Widyaswara Disdikprov Riau M Yuzar MPd (dua kanan) melihat beberapa lukisan yang dipamerkan dalam pameran &ldq
Ditemani Kepala Galeri Hang Nadim (GHN) Furqon LW (paling kanan) kurator Cak Winda (paling kiri) dan pengurus GHN Saridan (bertopi), Koordinator Widyaswara Disdikprov Riau M Yuzar MPd (dua kanan) melihat beberapa lukisan yang dipamerkan dalam pameran &ldq


Galeri Hang Nadim kembali menggelar pameran seni rupa yang diikuti oleh peserta lintas generasi, dari yang profesional hingga siswa SD. Juga dengan beragam gaya dan imajinasi, dari gaya lama hingga kekinian. Sebuah upaya yang perlu diapresiasi.

Laporan HENDRAWAN KARIMAN, Pekanbaru

Seiring pergerakan zaman, imajinasi juga mengalami pergeseran. Batas-batas antara seniman profesional dan generasi muda semakin cair, medium berekspresi semakin luas, dan ruang galeri menjadi titik temu lintas imajinasi. Dunia seni rupa hari ini tengah mengalami pergeseran.

Dalam konteks itulah, Galeri Hang Nadim (GHN) menginisiasi pameran seni bertajuk “Alih Imajinasi”, yang berusaha menghidupkan dialog antargenerasi dan menggugah narasi visual dari berbagai lapisan masyarakat.

Melalui karya-karya yaag lahir dari proses reflektif dan eksperimentatif, pameran ini menghadirkan ruang inklusif bagi pelajar, mahasiswa, seniman umum, dan seniman undangan lokal untuk merespons realitas yang terus berubah dengan bahasa visual mereka masingmasing. Sesuai tujuan utama, melihat ulang imajinasi dari zaman ke zaman, pameran ini diikuti seniman yang jauh lebih bervariasi dari sisi usia. Mulai dari seniman profesional hingga siswa SD dilibatkan.

Koordinator Widyaswara Disdikprov Riau, M Yuzar MPd, yang membuka pameran, mengapresiasi GHN yang konsisten menggelar pameran seni rupa. Ia juga mengapresiasi pada pameran kali ini lebih dari setengah peserta merupakan para siswa. Dia salut dengan GHN yang telah 17 kali menyelenggarakan pameran seni rupa dan di tengah keterbatasan kondisi sekarang menggelar lagi pameran ini.

‘’Kalau di sekolah, ini masuknya ekstrakulikuler. Pameran ini telah memberikan pengembangan dan daya kreativitas bagi para siswa. Kita sangat mengapresiasi, karena para siswa juga dilibatkan. Jadi ini merupakan tempat untuk menuangkan kreaktivitas. Saya senang karena siswa kita diberi tempat,’’ kata Yuzar.

Yuzar juga menganjurkan anak-anak sekolah untuk mengunjungi pameran tersebut. Selain bisa jadi program ekstra luar kelas, karya seni juga membisa membuka cakrawala dan kreativitas siswa.

Ketua GHN Furqon LW, menjelaskan, lewat pameran yang digelar selama 20 hari itu sejak 15 Juni 2025 lalu itu, seakan mengajak penikmat seni membaca sebuah perubahan arah dalam berimajinsi. Apakah siswa SD kini sama model imajinasinya dan bagaimana mereka mengubahnya menjadi karya seni.

Menurutnya, perubahan dan pergeseran itu nyata. Lukisan umum siswa SD bahkan SMP, dengan ciri khas lukisan dua gunung, matahari di tengah dan jalan yang membelah sawah, kini tidak ditemukan lagi. Ini bisa dilihat lewat belasan dari 40 karya yang dipamerkan yang merupakan karya seorang siswa SD dan sejumlah siswa SMP.

Kata dia, ada dua penanda penting pada pameran kali ini. Pertama, keikutsertaan seniman muda, pelajar dan mahasiswa, yang menjadikan ini pameran lintas usia pertama GHN. Kedua, pameran ini berlangsung di tengah situasi yang tidak ideal di mana kondisi ekonomi lokal-nasional yang tidak sedang baik-baik saja.

Efisiensi di segala lini yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, yang juga “dipaksakan” agar diikuti seluruh pemerintah provinsi (pemprov), dan kabupaten/kota, membuat daya beli masyarakat berkurang secara ekonomi karena belanja pemerintah yang kecil. Bisa jadi ini juga akan merembet dunia seni, tak terkecuali seni rupa.

Sebagai pameran berbayar seperti sebelum-sebelumnya –dengan tujuan mengedukasi masyarakat agar menghargai dunia seni secara nyata dengan cara membeli karcis masuk—bisa saja terimbas kebijakan itu.

Furqon juga mengatakan, momentum krusial juga bahwa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pemajuan Kebudayaan Melayu Riau dalam proses legislasi di DPRD hingga fenomena artificial inteligent (AI) yang menjadi pemantik awal konsep tema pameran ini.

‘’Tiga fenomena pada penanda kedua ini, sangat berpengaruh langsung dalam geliat berkesenian di masyarakat, termasuk GHN sekarang dan ke masa depan. Di tengah situasi anomali seperti inilah GHN tetap berkomitmen menyelenggarakan pameran sebagai bentuk tanggung jawab sebuah institusi seni yang memproduksi iven-iven seni,’’ sebut Furqon.

Kurator Pameran, Cak Winda, memaparkan, imajinasi tidak pernah diam. Ia bergerak, berubah bentuk, dan berpindah tempat mengikuti arah zaman. Dahulu, kata dia, anak-anak yang diminta menggambar akan menghadirkan pemandangan yang nyaris seragam: dua gunung, satu matahari di tengah, jalan membelah sawah, serta rumah-rumah sederhana yang tenang.

Imajinasi kolektif itu lahir dari pengamatan langsung, cerita orang tua, dan pengaruh pendidikan visual yang terbatas namun kuat. Maka, kata Cak Winda, “Alih Imaginasi” ini hadir untuk membaca ulang imajinasi dari zaman ke zaman.

‘’Hari ini pemandangan itu telah bergeser drastis. Ketika anak-anak diminta menggambar, yang muncul justru karakter anime, robot, kota futuristik, atau tokoh dari gim daring populer. Imajinasi mereka kini melompat dari ruang kelas menuju dunia maya, dari alam sekitar menuju layar digital. Inilah yang kami angkat sebagai tema dalam pameran ini: Alih Imaginasi, sebuah refleksi atas bagaimana imajinasi berpindah ruang dan arah dalam menghadapi perubahan zaman,’’ ucapnya.

Bagi generasi muda yang tumbuh di tengah limpahan informasi, sebut Cak Winda, muncul pertanyaan penting: adakah imajinasi yang layak diangkat menjadi karya seni, atau apakah yang viral dan populer otomatis bernilai seni? Sementara itu, bagi para seniman profesional, proses pencarian gagasan tak hanya berhenti di wilayah kognisi.

Mereka sering kali memiliki kepekaan seperti indera keenam yang mampu menangkap isyarat halus dari lingkungan dan zaman, lalu mengolahnya menjadi karya yang memiliki kualitas dan eksklusivitas tinggi. Karya karya mereka, menurut Cak Winda, melampaui imajinasi yang ramai beredar di media sosial. Mereka mengarahkan, bukan sekadar mengikuti arus.

‘’Dari sudut pandang seni visual, kita menyaksikan bagaimana pergeseran sumber imajinasi memengaruhi gaya, simbol, dan cara ungkap artistik. Bentuk karya bisa tetap manual dan tradisional, namun isi dan inspirasinya sangat kontemporer, lahir dari percampuran lokal dan global, nyata dan virtual,’’ ucapnya.

Tidak kurang dari 40 karya dipamerkan pada “Alih Imajinasi” ini. Sebagai tuan rumah, peserta asal Pekanbaru tetap dominan. Para seniman dari Kota Bertuah yang ambil bagian termasuk Dewi Purwanti, Wina dan Khansa, Alza Adrizon, Dasril, Fatur, Jati Wahyono, Metrizal, Parlindungan R, Roni Sarwani, dan Raditya Muhammad.

Peserta dari luar kota maupun provinsi juga tidak pernah absen setiap penyelenggaraan GHN. Dari luar Pekanbaru, ada nama Santalis dari Tembilahan dan Syafrizal dari Pelelawan. Sementara itu seniman dan perupa dari luar Riau ada Afuukatz dari Bantul (Yogyakarta), Ahmad Ash Shidiq dari Padangpanjang (Sumatra Barat/Sumbar), Alberto dari Padang (Sumbar), Guntur Anggada dari Malang (Jawa Timur/Jatim), Sjafril dari Pasuruan (Jatim), Suksma Jati dari Klaten (Jawa Tengah), Sylvia Wulandari dari Tangerang (Banten), dan Alif dari Palembang (Sumatra Selatan).

Pameran kali ini cukup menaik minat peserta dari kalangan mahasiswa. Tercata ada lima mahasiswa dari ISI Padangpanjang, yaitu Firly Yasmin I, Katharizah Hura, Nadhiva Fadillah, Salsabila Azzahra S, dan Shintia. Kemudian Ibnu Faturrahman dari Universitas Lancang Kuning (Unilak), Riau. Dua mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) Ilmam Hakim F dan Isra Fakhrusy S, dan satu dari Universitas Riau (Unri) Nur Daliah. Lalu dua perupa dari kalangan mahasiswa juga datang dari Telkom University Bandung, yaitu Muhammad Fajar R dan Restu Ayuningtiyas L.

Peserta pameran dari kalangan siswa SMA juga lumayan ramai. Ada Alecsa RA dan Elvin Afriliansyah N dari SMAN 4 Pekanbaru, Desya Charlota Iswanto dari SMA Santa Maria Pekanbaru, serta Jollene Audreynata dan Yunica Chan dari SMA Darma Yudha Pekanbaru.

Ada juga karya kolektif, yakni karya Cassy Theddy P, Sandra Angelee, Chastine Michaela Chua, Gracia Winnie Susanto dan Yunica Chan dari SMA Darma Yudha. Masih dari sekolah yang sama, karya seni rupa Jollene, Khairunnisa, Jillian dan Kayla turut ambil bagian pada pameran ini. Sementara Syakirah Putri Fatisya menjadi peserta termuda, yaitu SD Muhammadiyah 6 Palembang. Dua peserta lainnya dari Artrungu, kemudian Adewi yang homeschooling.

Baik Furqon maupun Cak Winda berharap pameran lintas generasi bisa memicu semua generasi untuk terus berkarya, terutama anak-anak muda, yang selain memiliki bakat yang baik, juga perlu ruang yang baik juga untuk berkarya dan memajang karyanya agar bisa dinikmati dan diapresiasi oleh masyarakat.

“Kami berharap GHN tetap menjadi ruang yang nyaman bagi para perupa untuk terus memajang karyanya,” ujar Furqon.***

Editor : Arif Oktafian
#pameran #seni rupa #galeri hang nadim