Pemilihan Duta Baca Riau bukan hanya sebuah kontes mencari pemenang, tetapi lebih dari itu, yakni memilih orang yang punya dedikasi besar dalam membangun dunia literasi Riau. Sebuah upaya mengabdikan diri membangun peradaban.
Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru
WAHYU Oktafialni tak bisa menyembunyikan suka-citanya ketika layar monitor memastikan foto dan namanya tertera sebagai pemenang. PerempuAn 30 tahun yang saat itu sedang berpegangan tangan dengan Azzahra Maulida Risanda –pesaing utamanya—langsung berteriak tertahan dan memeluk Azzahra saat dinyatakan sebagai Duta Baca Riau 2025-2029. Dari raut wajah terlihat seolah dia tak percaya terpilih sebagai pemenang.
Pada Senin (30/6/2025) lalu, Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Riau menyelenggarakan final Pemilihan Duta Baca Riau 2025. Ada lima peserta yang terpilih maju ke final setelah melalui proses lumayan panjang. Mulai dari seleksi berkas –termasuk menulis esai tentang dunia buku dan baca-- yang diikuti 30-an peserta, kemudian dipilih menjadi 12 peserta yang layak diseleksi tim panelis/juri. Setelah ujian tertulis dan wawancara pada 25 Juni, terpilih lima peserta yang maju ke babak final.
Dalam babak final yang juga perayaan sederhana 17 tahun berdirinya Perpustakaan Soeman Hs itu, dihadiri Kadispersip Riau Dra Mimi Yuliani Nazir Apt MM, Bunda Riau Henny Sasmita Wahid, mantan Gubernur Riau Rusli Zainal, keluarga almarhum Soeman Hs, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr Umi Kulsum MHum, Penanggung Jawab Kegiatan dan Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Indri Kusuma, Ketua Panitia Pelaksana Delviana Fransiska SSos MIKom, para pegiat literasi dari beberapa komunitas literasi, dan beberapa sastrawan dari beberapa komunitas sastra seperti Kunni Masrohanti, Siti Salmah, Titin Kasmila Dewi, M Asqalani Nasution, dan yang lainnya.
Setelah seleksi pemberkasan, 12 nama yang lolos dari pemberkasan adalah Wahyu, Azzahra, Dea Gita Ningsih, Sadriadi, Ade Puspita Ningsih, Karin Novita Rahmadani, Nadia, Pusvi Defi, Alvaretta Vito Dhinosa, Fadilah Sari, M Alfis Syahri, dan Siti Aimatullah Mahmuda. Mereka berasal dari berbagai daerah di Riau. Yakni dari Pekanbaru, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Dumai, dan Pelalawan. Latar belakangnya juga beragam. Ada yang sudah lama menjadi pegiat literasi, mahasiswa yang mencintai literasi, juga pegawai swasta di bidang perbukuan, dll.
Lalu, mereka yang lolos ke babak final adalah Wahyu, Azzahra, Dea, Ade Puspita, dan Karin. Pada acara puncak, setelah melihat paparan para peserta dan jawaban mereka atas pertanyaan para panelis –plus nilai ujian tertulis dan wawancara— akhirnya Wahyu terpilih sebagai Duta Baca Riau menggantikan Wamdi yang sudah purnatugas. Terpilihnya Wahyu, selain dari tabulasi nilai yang didapat, juga hasil diskusi yang lumayan ketat dari para panelis, karena kelima finalis punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Ketua Dewan Juri/Panelis, Prof Dr Junaidi MHum, menjelaskan, pihaknya memang harus memikirkan hal yang paling penting tentang esensi dari Duta Baca, yakni sebagai tolok ukur masyarakat dalam dunia literasi dan perbukuan, yang harus memahami banyak bidang sebagaimana banyaknya genre buku sebagai bacaan masyarakat. Selain itu, dia harus punya kemampuan public speaking yang baik karena akan menjadi corong bagi Dispersip Riau dan Pemerintah Provinsi Riau dalam mengampanyekan dunia literasi dan kecintaan terhadap bacaan (buku).
“Selain itu, kami juga mencari tahu apa yang telah mereka lakukan selama menggerakkan dunia literasi dan perbukuan, kemampuan mereka menyampaikan persoalan dan mencarikan solusi, bagaimana membangun relasi kepada semua pihak dalam masyarakat, dan banyak hal lagi. Rata-rata semua finalis memiliki hal itu dan kami harus memilih salah satunya,” kata lelaki yang juga Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) tersebut.
Juri lainnya, Vivien Anjadi Suwito, menjelaskan, kecerdasan dan pemahaman tentang dunia literasi dan perbukuan menjadi hal yang paling utama dalam penilaian. Berbeda dengan kontes-kontes lainnya yang kadang hanya kemenjadikan kecerdasan sebagai penilaian kesekian, karena Duta Baca akan menjadi cermin tentang kemampuan seseorang dalam dunia literasi dan bagaimana membangun masyarakat agar melek literasi, maka kecerdasan adalah yang utama, baru kemampuan penunjang sebagaimana dunia pegeant lainnya.
“Pemilihan Duta Baca sangat berbeda dengan kontes lainnya. Jejak apa yang mereka miliki selama ini dalam dunia literasi dan perbukuan, termasuk pemahamannya dalam bidang kebudayaan secara umum maupun budaya Melayu, termasuk bidang sastranya, juga menjadi penilaian penting,” jelas wanita yang sering menjadi juri banyak kontes di Riau ini.
Kadispersip Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan, pemilihan Duta Baca Riau ini penting dalam membantu pihaknya dalam mengampanyekan dunia literasi kepada masyarakat, termasuk kegemaran membaca. Duta Baca Riau juga akan menjadi tandem Bunda Literasi Riau --jabatan yang melekat pada istri Gubernur Riau, dalam hal ini Henny Sasmita Wahid-- saat turun ke masyarakat menyampaikan dan mengampanyekan literasi dan kecintaan terhadap buku, dan kegiatan lainnya.
Maka, katanya, yang terpilih menjadi Duta Baca Riau dan para finalisnya, diharapkan bisa menyisihkan waktunya untuk bekerja dan mengabdi dalam membantu pengembangkan dunia literasi di Riau, terutama kampanye untuk terus membaca, baik buku maupun bacaan lainnya.
“Saya yakin, semua finalis adalah mereka yang selama ini sudah berjuang di bidang literasi dengan cara mereka masing-masing. Sekarang kami pinjam tenaganya untuk membantu pemerintah dalam memasyarakat dunia literasi dan minat baca kepada masyarakat,” ujar mantan Kepala Dinas Kesehatan Riau tersebut.
Dijelaskan Mimi, hingga kini, Perpustakaan Soeman Hs memiliki koleksi 68.463 judul buku, dengan total 321.625 eksemplar. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tiga tahun sebelumnya, di mana koleksi buku tercatat sebanyak 63.145 judul. Koleksi buku tersebut sangat beragam, mencakup berbagai bidang seperti agama, kesehatan, pertanian, hukum, ekonomi, budaya, sastra –termasuk budaya dan sastra Melayu— dan koleksi lainnya.
“Koleksi kami sangat lengkap, mulai dari buku cetak hingga referensi ilmiah. Ini menjadi aset berharga untuk mendorong minat baca dan menulis, terutama bagi pelajar, mahasiswa, maupun peneliti,” jelas perempuan yang menyelesaikan S-1 di Jurusan Farmasi Universitas Andalas (Unand) Padang ini.
Selain Perpustakaan Soeman Hs, Mimi menjelaskan bahwa Provinsi Riau juga memiliki 12 perpustakaan umum di kabupaten/kota. Total koleksi buku di seluruh perpustakaan umum daerah Riau mencapai 259.523 judul dengan 993.168 eksemplar. Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Namun, Mimi mengakui, pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, juga masyarakat umum, masih perlu ditingkatkan. “Di sinilah nanti salah satu peran Duta Baca Riau, yaitu membantu kami dalam mengampanyekan bagaimana agar masyarakat mau datang ke perpustakaan untuk membangun literasi dalam dirinya. Kita yakin, pada masyarakat yang literat, yang membaca buku dan cerdas pikirannya, pasti akan terbangun mindset yang bisa menaikkan taraf hidup mereka secara ekonomi dan sosial,” jelas Mimi lagi.
***
KETUA Pelaksana Pemilihan Duta Baca Riau Tahun 2025, Delviana Fransiska menjelaskan, kegiatan ini merupakan upaya strategis dalam memperkuat gerakan literasi di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui ajang ini, pihaknya tidak hanya mencari sosok inspiratif yang mampu menjadi teladan dalam budaya membaca, tetapi juga menciptakan ruang partisipatif bagi anak muda Riau untuk menyuarakan gagasan dan kreativitas mereka dalam membumikan literasi di Riau.
Kegiatan ini, katanya, juga menjadi momentum penting untuk mendorong sinergi antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca serta memperluas akses terhadap sumber pengetahuan. Dia melihat antusiasme para peserta sebagai bukti nyata bahwa literasi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
“Saya berharap Duta Baca yang terpilih ini mampu menjalankan peran secara aktif, kreatif, dan berdampak luas di masyarakat. Ini kali kedua kami menyelenggarakan pemilihan Duta Baca Riau, yang pertama kali di tahun 2018 lalu,” kata Delviana.
Dia juga menyampaikan beberapa tugas pokok dan fungsi dari Duta Baca Riau terpilih, yakni, pertama, menjadi figur teladan yang aktif mengkampanyekan budaya baca di tengah masyarakat. Kedua, menjadi role modelnya literasi, berkolaborasi dengan Bunda Literasi Riau dengan menunjukkan perilaku literasi yang baik, seperti membaca, menulis, dan berbagi pengetahuan secara aktif di lingkungan sekolah, komunitas, dan publik.
Ketiga, menyuarakan pentingnya literasi dalam kegiatan-kegiatan workshop, seminar, talkshow maupun media sosial. Keempat, berkolaborasi dengan perpustakaan, lembaga terkait, dan komunitas literasi. Kelima, menjadi duta informasi dan motivator. Keenam, menjalankan misi literasi sesuai amanah jabatan, yakni melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab selama masa jabatan sebagai Duta Baca Riau, sesuai dengan arahan dan visi misi dari Dispersip Riau. Dan ketujuh, mempromosikan perpustakaan dan layanan informasi mendukung upaya promosi perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kreativitas masyarakat.
“Saya yakin para pegiat literasi yang mengikuti pemilihan Duta Baca Riau ini pasti sudah melakukan banyak hal tersebut. Tinggal memperdalam dan lebih memperbanyak intensitasnya lagi sebagai Duta Baca Riau,” ujar Delviana.
Wahyu Oktafialni sendiri mengaku tidak menyangka kalau dia yang khirnya sebagai Duta Baca Riau untuk empat tahun ke depan. Sebab, dia yakin dan tahu, para finalis lainnya punya kapasitas yang mumpuni di dunia literasi. Mereka juga punya rekam jejak yang lumayan panjang dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan.
“Espektasi saya, masuk final saja sudah luar biasa,” kata Sekretaris Forum Taman Bacaan (FTBM) Riau ini.
Setelah terpilih, dia sadar bahwa ada tanggung jawab besar yang harus dipikulnya. Dia mencoba akan melakukannya dengan baik. Pengalamannya di dunia literasi selama ini menjadi bekalnya untuk mengabdi membantu Pemprov Riau melalui Dispersip Riau dalam mengampanyekan dunia literasi. Wahyu sendiri saat ini membuka lembaga pendidikan usia dini untuk usia 2-12 tahun bernama Ablaku. Sistem pengajarannya secara daring dan mempekerjakan 6 orang guru. Salah satu yang menjadi penekanannya adalah menanamkan literasi di usia dini.
“Ini hanya langkah kecil, tetapi itu yang mengajarkan saya untuk yakin di dunia literasi ini,” jelas perempuan kelahiran Pekanbaru yang besar di Dumai ini.
Sementara itu, finalis yang meraih juara kedua, Azzahra, juga mengaku tak menyangka bisa meraih posisi itu. Alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini awalnya hanya ingin meramaikan saja karena selama ini dia juga banyak membuat konten-konten tentang perbukuan dan literasi di media sosialnya. Apalagi dia kini bekerja di toko buku Gramedia Pekanbaru yang jelas bergerak di bidang perbukuan.
“Terpilih atau tidak, saya akan tetap melakukan apa yang selama ini sudah saya lakukan,” ujar gadis yang lahir 25 tahun lalu ini. Dia berharap, bersama pemenang dan finalis lainnya, bisa sama-sama berbuat untuk membangun dunia literasi dan minat baca di Riau.***
Editor : Bayu Saputra