APA yang terjadi ketika ingatan kolektif kita terhadap sesuatu dipaksakan untuk dihapus? Apakah seseorang tak boleh menyimpan memori dalam dirinya meskipun itu tentang kesakitan yang menyebabkan trauma dan gangguan psikologi pada dirinya? Lalu, bagaimana jika penghapusan terhadap ingatan seseorang itu dilakukan secara tersetruktur, terencana, sistematis, dengan sebuah tujuan agar ingatan-ingatan tersebut tidak menimbulkan masalah? Bahkan hal itu dilakukan oleh sebuah organisasi bawah tanah yang bekerja untuk kekuasaan dengan jaringan konspirasi global dengan tujuan utamanya adalah pembungkaman suara.
Benang merah itulah yang saya dapatkan saat membaca novel Ingatan Ikan-Ikan (Bentang Pustaka, 2024) karya Sasti Gotama. Dalam posisi ini, saya menempatkan diri sebagai pembaca, dengan sependek ingatan dan pemahaman tentang sebuah karya prosa. Maka, penilaian-penilaian yang muncul nanti lebih ke subjektif. Objektivitas mungkin bisa muncul secara sendirinya dengan ketidaksadaran, tetapi ingatan-ingatan tentang pembacaan itu akan bersifat lebih ke dominasi subjektivitas.
Meskipun pendekatan kritis yang sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan pisau feminisme atau psikoanalisis sastra, atau teori lainnya, namun itu lebih tepat dilakukan oleh kalangan kritikus atau orang-orang akademis sastra yang lebih paham soal itu. Artinya, saya merasa tak punya kompetensi jika melakukan pendekatan dengan membawa-bawa nama Sigmund Freud, Betty Freidan, Shulamit Firestone, Kate Millet, Helena Cixous, Luce Irigaray, Julia Kristeva, Simone de Beauvoir, Jacques Derrida, Patricia Stubbs, Monique Wittig, Barbara Smith, Elly Bulkin, Barbara Greir atau Jacques Lacan, dan para tokoh sastra feminisme atau psikoanalisis lainnya.
Ingatan Ikan-Ikan adalah kisah perjuangan melawan lara (rasa sakit) dan trauma yang dibalut kisah cinta yang tak sampai. Di dalamnya ada konspirasi besar tentang pembungkaman suara orang-orang yang teraniaya secara tragis secara fakta yang menjadi trauma psikologis berkepanjangan. Penindasan ini dilakukan dengan alasan yang jelas: agar suara mereka tak muncul, tak terdengar, dan peristiwa yang terjadi kepada mereka seolah tak terjadi dan tak perlu dirisaukan agar semua terlihat baik-baik saja. Kondisi ini akhirnya membangunkan kesadaran diri maupun kolektif untuk bangkit melawan. Dua karakter perempuan yang berbeda peran, tetapi sebenarnya sama-sama korban –yang satu sebagai protagonis/korban dan yang satu sebagai antagonis/pelaku— akhirnya menemukan sedaran untuk bangkit setelah sekian lama mengalami keterpurukan secara psikologis. Sementara satu karakter lelaki malah hanya pasrah terhadap nasibnya meski mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan merelakan cinta sejatinya terlepas darinya.
Lian Wen, gadis keturunan Tionghoa, masih duduk di sekolah lanjutan atas ketika peristiwa itu mengoyak-moyak tubuh dan jiwanya. Dia diperkosa oleh seseorang –dan mungkin beberapa orang yang tak diingatnya (yang selalu diingat adalah tawa orang tersebut saat memperkosanya)— saat kerusuhan pada Mei 1998 di Kota S (Solo/Surakarta?). Sebelum itu, dia baru menumbuhkan cinta monyetnya –meski sebenarnya akhirnya menjadi cinta yang sangat mendalam— kepada Ombak Samudera, lelaki miskin pribumi, dari keluarga kacau, dan tak punya masa depan. Saat perkosaan itu terjadi, Ombak sempat datang ke toko ayah Lian dan hendak membantu menolong gadis itu. Ketika melihat tubuh Lian yang telanjang, berdarah, dan kacau, dia malah mematung dan tak melakukan apa-apa sebelum Wak Haji bersama yang lain menolong Lian dengan menutup tubuhnya dengan kain, membopong ke mobil, dan membawanya ke rumah sakit. Hati Ombak hancur melihat kondisi Lian. Dia hanya bisa menyelematkan seekor ikan mas koki milik Lian yang dia berikan sebelumnya –kelak, ikan inilah menghubungkan keduanya saat mereka “hilang ingatan”. Dia pun teringat bahwa adiknya, Awan, yang masih SMP, hilang. Hatinya benar-benar hancur ketika mendengar cerita dari kawan Awan bahwa Awan terjebak di sebuah pusat pertokoan saat menjarah sepatu –sepatu sekolahnya sudah bolong dan Ombak tak bisa membelikannya. Saat massa penjarah masuk, tiba-riba pintu pusat pertokoan itu ditutup beberapa orang. Tak lama setelah itu terbakar. Ombak hanya bisa berteriak-teriak dan menangis sejadinya.
Peristiwa yang terjadi padanya membuat Lian mengalami trauma panjang. Bukan hanya sakit fisik, tetapi juga psikologis. Saat berada di rumah sakit, dia selalu ketakutan ketika melihat orang tersenyum dan tertawa, dan itu terus terjadi padanya hingga kemudian dia bisa bangkit dan menjadi dokter hewan. Dia tetap trauma ketika mendengar orang tertawa. Dia menjadi pribadi yang tertutup dan tak berinteraksi dengan orang lain, kecuali secara terbatas dengan pasien pemilik binatang yang dibawa ke klinik tempat dia bekerja. Tujuh tahun kemudian, 2005, saat dia sudah jadi dokter, dia masih bisa mengingat mengapa Ombak menghilang sejak peristiwa itu. Jika ada orang yang dipikirkannya di saat-saat trauma berkepanjangan itu, Ombaklah orangnya.
Pada bagian lain, ada sosok B (Rin), perempuan misterius yang sebenarnya mengalami hal yang buruk saat kerusuhan rasial terjadi pada tahun 1995. Kedua orang tuanya peneliti dan dokter. Ibunya menemukan sebuah serum yang bisa membuat seseorang bisa melupakan masa lalunya, terutama pada trauma. Serum ini sebenarnya dibuat untuk tujuan baik, yakni untuk pasien-pasien dengan trauma akut. Saat peristiwa itu terjadi, rumah mereka dihancurkan dan dibakar massa dan seseorang, Z (Zak) –asisten ibunya-- berhasil masuk dalam ruang kerja ibunya dan mengopi rumus serum milik ibunya lewat password kornea mata B. Z kemudian memberinya buah alara (ara/tin?) untuk dimakan. Dalam buah alara itu sudah disuntik serum ciptaan ibunya. Selama bertahun-tahun kemudian M belajar mengembangkan serum tersebut secara rahasia bersama X dan beberapa orang lainnya di sebuah kota di Cina.
Ketika kembali ke Indonesia, B –di bawah pengawasan Z— bekerja sebagai intelijen negara. Suatu hari dia ditugaskan menyamar sebagai pekerja di sebuah penatu. Di sanalah dia bertemu dengan Lian –yang sebenarnya sudah diawasi dengan kode tertentu, termasuk hubungannya dengan Ombak juga sudah diketahui kelompok intelijen ini— yang akan mencuci jas dokternya karena kena kotoran binatang. Saat menunggu jasnya dicuci, Lian diberi buah alara oleh M sebagai buah kunyahan. Dan sejak itu, pikiran trautamis akibat perkosaan, juga ingatan tentang Ombak, hilang. Dia menjalani hidup dengan kekosongan. Sehingga, ketika dia membeli seekor ikan mas koki di toko Ombak setahun kemudian –Ombak sudah menikah dengan Lis dan punya seorang anak bernama Ning, dan sebenarnya kelompok M juga sudah memberinya buah alara yang dimakan— keduanya menjadi orang yang tak saling mengenal. Namun, untuk pertama kali sejak perkosaan itu, Lian bisa tertawa karena candaan Ombak.***
Editor : Bayu Saputra