Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sasti dan Ikan Koki (2)

Bayu Saputra • Minggu, 21 September 2025 | 12:50 WIB
Hary B Koriun
Hary B Koriun

NAMUN, di sinilah cinta beker­ja. Setelah pertemuan itu, meski merasa saling tak mengenal, tetapi hati keduanya berdebar-debar setelah itu yang membuat mereka dengan segala cara berjuang untuk bertemu kembali. Dan setelah pertemuan selanjutnya terjadi, pelan-pelan segala ingatan keduanya tentang masa lalu terbuka dan utuh kembali.

Namun Lian kembali dihantui trauma dan ketakutan karena perkosaan itu. Ditemani Ombak, Lian melakukan terapi secara serius dan akhirnya sembuh. Dia bisa tersenyum dan tertawa, juga tak takut lagi mendengar orang tertawa. Namun, persoalan lebih besar muncul: Lian menyadari bahwa Ombak sudah menikah dan punya anak. Padahal cintanya sangat mendalam untuk lelaki itu. Begitu juga dengan Ombak yang menyadari, meskipun dia sering mendapatkan kekerasan verbal dan fisik dari istrinya, namun menikah ternyata bukan hanya soal hubungan suami dan istri, tetapi juga tentang seorang anak yang lahir karenanya. Ombak kemudian memutuskan: melepaskan Lian. Menghapus nomor HP Lian. Dan tak pernah mengubungi lagi.

Di pihak lain, apa yang terjadi dengan B juga sama. Pelan-pelan ingatannya pulih kembali. Dia tahu, selama ini yang membesarkannya ternyata bukan ayah dan ibu kandungnya. Mereka telah terbunuh dalam kerusuhan yang sebenarnya sudah di-setting untuk mengambil rumus senyawa serum yang dibuat ibunya. Dan tiba-tiba dia merasa marah dengan apa yang terjadi ketika ingat bahwa ada rekayasa besar, baik dalam kerusuhan rasialis tahun 1995 maupun 1998. Dia merasa berdosa ketika ingat dia banyak memberikan buah alara (buah tin?) kepada para perempuan korban perkosaan agar mereka bungkam dan menandai mereka dengan kode nomor tertentu. Dia juga muak dengan Z, mentor yang selalu mendogma dia selama ini. Lalu dengan kembali memakai nama Rin, dia ingin melakukan sesuatu dengan mengajak Lian.
Terus terang, sejak membaca sampai halaman 5-6, espektasi saya sangat rendah untuk novel ini dan nyaris saya tinggalkan. Alasannya, pertama, penulisan nama karakter yang hanya memakai satu huruf: M dan Z. Mengapa harus satu huruf? Apa urgensinya menulis nama karakternya satu atau dua kata: Mardi, Hardi, Rusdi, Maduretna, Nur Hadi atau yang lain? Sementera, ada tokoh lain yang ditulis namanya: Lian Ang, Ombak Samudera, Awan, dll. Bahkan nama anjing kesayangan si B juga diberi nama utuh: Fibo. Untuk yang ini, saya mencoba bertahan dan terus membaca. Hingga kemudian menemukan jawabnya: ternyata karakter B dan Z itu memang kode untuk nama mereka sebagai anggota intelijen.

Namun, di bagian yang lain, sebagai alasan kedua, hampir semua penyebutan nama tempat (kota) juga dibuat satu huruf: Kota J, Kota S, dll. Untuk yang ini, saya tak menemukan urgensinya. Apa salahnya menyebut nama kota: Surakarta/Solo, Jakarta, Semarang, atau yang lainnya? Sebuah karya sastra (novel), juga surat kabar, kata Ben Anderson, adalah sebuah proses “pembayangan” sebuah bangsa. Orang bisa melihat gambaran sebuah bangsa dari karya sastra, termasuk novel ini. Dalam penulisan karya sastra, deskripsi setting tempat dan waktu yang detil sangat penting. Itu akan menjadi peta dan informasi bagi pembaca tentang penggambaran sebuah tempat waktu kejadian. Imajinasi pembaca akan membayangkan jalan atau tempat yang dideskripsikan secara detil tersebut sebagai latar dan pemahamannya tentang karakter yang diceritakan yang tinggal di tempat tersebut. Atau informasi detil sebuah tempat di mana peristiwa penting terjadi: misalnya tempat terjadinya demonstrasi, kerusuhan, kecelakaan, pertengkaran, pembunuhan, dll.

Kemudian, dengan menyebutan sebuah wilayah administrasi dengan satu huruf ini, akan menjadi aneh ketika kemudian muncul dalam dialog antarkarakternya: “Melihat Mbak, saya jadi ingat menantu saya. Dia kuliah di Kota J, sama dengan putra saya…”

Novel, atau karya sastra prosa secara umum, adalah refleksi atau gambaran tentang kenyataan. Apakah kita pernah menemukan dialog/percakapan dalam kehidupan nyata dengan menyebut tempat dan nama orang hanya satu huruf? Dalam novel Gadis Kretek, Ratih Kumala menyebut salah satu karakternya lahir di Kota M (Muntilan?). Menjadi aneh kemudian ketika penyebutan itu tetap dipertahankan oleh penulis skenario dan sutradara saat novel itu diangkat ke layar sinema -series di Netflix-- yang memunculkan dialog: “Benarkah kamu lahir di Kota M?” Suatu hal yang tak akan kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga menjadi aneh ketika dialog itu muncul utuh di sebuah sinema yang kita tonton.

Hal ketiga yang agak mengganggu pembaca –yang memahami-- adalah penggunaan huruf kapital pada huruf awal dalam penyebutan pengganti nama diri, dalam hal ini nama orangtua, ibu/mama/mami atau papa/papi/ayah/bapak, yang bukan dalam kata atau kalimat sapaan. Sementara penyebutan nenek –yang dalam posisi sejajar dengan ibu/mama/mami atau papa/papi/ayah/bapak—tidak digunakan. Misalnya dalam kalimat: … Aroma karet terbakar. Riuh suara orang. Tapi aku tak melihat apa-apa, cuma mendengar suara Ayah yang menyetir sambil membaca doa dan merasakan embusan napas Ibu dalam selimut. Dalam aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), huruf kapital pengganti nama diri hanya dipakai dalam kata atau kalimat sapaan langsung. Misalnya: “Mengapa Ibu tak mau berobat ke dokter?”.

Pada pilihan kata –sebagai alasan keempat, namun hal ini masih bisa dipahami-- yang Sasti gunakan banyak memakai bahasa kamus yang jarang digunakan. Juga istilah dunia kedokteran dan biologi yang kemungkinan akan membuat kita harus membuka kamus untuk melihat artinya. Salah satunya kata saliva (air liur). Kata ini menjadi agak aneh bagi yang belum tahu artinya jika dipakai dalam kalimat. Misalnya: Salivanya muncrat ke sana-sini saat dia bicara. Namun, pilihan diksi seperti ini juga bisa dianggap menjadi hal positif karena sang penulis dianggap kreatif dengan menggunakan kata yang ada dalam kamus yang jarang dipakai dalam karya sastra lainnya.

Di luar persoalan-persoalan itu –yang oleh sebagian orang mungkin dianggap remeh—novel Ingatan Ikan-Ikan ini menjelaskan keseriusan Sasti dalam menulis novel, sebagaimana yang juga dia lakukan dalam cerpen-cerpennya. Jelas, dia pasti melakukan riset yang mendalam dan baik soal beberapa peristiwa faktual yang melatarbelakangi beberapa peristiwa dalam fiksinya. Misalnya kerusuhan rasial April 1995, seluruh peristiwa sebelum dan sesudah Mei 1998, tentang ikan mas koki yang memiliki ingatan hanya tiga detik, hal-hal seputar dunia kedokteran, detil bagaimana sikap seseorang saat atau pascatrauma, kehidupan orang Tionghoa di Jawa, dan sebagainya.

Meski tema kerusuhan rasial --termasuk Mei 1998-- sudah banyak ditulis pengarang lain, namun apa yang disampaikan Sasti tetap segar dengan gaya tutur dan angle yang berbeda. Dia mengambil penceritaan dari sisi korban perkosaan dengan gaya penulisan plastis dan penuh metafor. Memang, harus membaca hingga selesai novel ini untuk memahami semua detil dan serakan peristiwa-peristiwa yang tidak ditulis dengan linier. Rangakaian potongan puzle itu baru bisa kita satukan setelah membaca hingga kata terakhir: Tamat!

Sasti nampaknya sengaja meng­gantung ending novelnya. Kisah Lian-Ombak yang tak ada ujungnya; tidak jelas gerakan dan perjuangan apa yang akan dilakukan M (Rin) dan Lian; dan tak tahu apa yang terjadi pada M (Rin) ketika tahu bahwa Z (Zak) adalah awal malapetaka bagi dia dan keluarganya. Ada kemungkinan, Sasti akan melanjutkan novel ini menjadi dwilogi atau malah trilogi.

Saya percaya, dengan novel ini, Sasti menegaskan –dan mengancam— bahwa di masa depan dia bisa menjadi saingan serius bagi novelis perempuan dengan karya kuat yang muncul sebelumnya seperti Ayu Utami, Dee Lestari, Leila S Chudori, Ratih Kumala, Abidah El Khalieqy, Okky Madasari, Yetti A KA, dan yang lainnya. Pilihannya menjadi penulis penuh waktu dan meninggalkan profesi dokternya telah menjelaskan tentang keseriusan itu.***

Editor : Bayu Saputra
#Ingatan Ikan Ikan #hary b koriun #sastra indonesia #Sasti Gotama