Harus diakui, ekosistem seni --salah satunya seni rupa—di Riau belum sebaik di daerah lain yang lebih maju seperti Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung dan daerah lainnya. Namun ekosistem itu bisa terus dibangun dengan konsistensi berkarya, membangun jaringan, membua ruang pasar, dan hal lainnya.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - DUNIA kesenian Riau, salah satunya seni rupa, sebenarnya bisa berkembang dengan baik jika ekosistemnya juga dibangun dengan baik. Meski tak sebesar di beberapa daerah yang ekosistem seninya sudah jadi dan membesar seperti di Jakarta, Bali, Yogyakarta, Bandung, dan lainnya, namun Riau punya potensi berkembang. Memang banyak rintangan, hambatan, dan masalah yang harus dihadapi. Tetapi ketunakan, kejumutan, kerja keras, dan mencari jalan keluarnya dengan baik, bisa dilakukan.
Benang merah itu didapat dalam diskusi Sembang Rupa on Rabu Malam (Spanram) kedua dengan tema “KapitaliSeni” yang diselanggarakan Galeri Hang Nadim (GHN) di Kafe Anjungan Kampar, Bandar Serai, Pekanbaru, Rabu (17/9/2025) lalu. Kepala GHN, Furqon LW, menjadi pemantik dalam diskusi tersebut. Beberapa seniman lintas genre seperti Eko Fazra, Benie Riaw, Bens Sani, Yelmi Nanda Yelfi, Fedli Aziz, dan yang lainnya, hadir dalam helat tersebut.
Dengan kerta kerja berjudul “Galeri Hang Nadim, Membangun Ekosistem Industri Kreatif Berbasis Seni Rupa”, Furqon menjelaskan perjalanan GHN dalam menghidupkan ekosistem seni rupa di Riau dalam lima tahun terakhir. Galeri yang didirikannya bersama beberapa seniman itu hingga kini sudah menyelenggarakan 18 kali pameran. Baik lukisan, instalasi, kaligrafi, fotografi, dan sebagainya.
Menurutnya, membangun sebuah ekosistem seni memang tidak mudah. Harus bekerja keras. Jika dia sebuah kelompok, harus memiliki komitmen yang sama dalam menumbukan ekosistem tersebut. Jelas, katanya, ekosistem tak bisa dibangun oleh pribadi atau orang per orang. Sifatnya komunal dengan melibatkan masyarakat banyak.
Elemen-elemen yang ada dalam ekosistem tersebut saling berkait kelindan dan terhubung dengan kuat. Jika salah satu elemen tidak jalan, maka akan pincang. Menurut Furqon, ada tiga elemen penting dalam ekosistem tersebut, yakni produsen, distributor, dan konsumen. Produsen terdiri dari pencipta atau seniman, desainer, inovator, komunitas, juga pembiayaan. Kemudian mereka yang masuk elemen distributor adalah galeri, art shop, dan market place. Sedangkan elemen konsumen adalah kolektor dan apresiator.
“Ketiga elemen itu harus dibangun sebaik mungkin. Jika proses ini berjalan dengan baik, maka berjalan dengan baik pulalah ekosistem tersebut,” katanya.
Ketiga elemen tersebut akan membentuk ekosistem industri kreatif berbasis seni rupa yang merupakan sebuah jaringan kompleks yang terbentuk dari intereksi elemen-elemennya dalam memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi karya seni rupa. Setelah membentuk sebuah ekosistem yang kuat, akan menuju industri kreatif, dalam hal ini seni rupa. Industri ini adalah sektor ekonomi yang mengandalkan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk untuk menciptakan produksi seni visual bernilai ekonomi.
Riau, kata kartunis senior ini, memiliki seniman rupa yang lumayan sebagai produsen. Itu bisa dilihat dari pameran yang dilakukan GHN selama ini dengan menggali potensi yang tersebar dari seluruh daerah di Riau. Bahkan dari ceruk-ceruk pedesaan yang selama ini tak terbayangkan kalau di sana juga tumbuh produksi seni. SDM seniman ini ada yang lahir lewat pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi seni di berbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga banyak yang muncul secara otodidak. Bahkan sekarang banyak anak-anak dan remaja yang sudah punya karya dan pernah dipamerkan di GHN. Potensi-potensi dari berbagai lintas seni rupa ini, kata Furqon, harus terus digali, ditumbuhkan, dan ditingkatkan secara terus-menerus.
Sementara itu, potensi konsumen sebenarnya juga besar. Di Riau banyak perusahaan multinasional dan banyak kolektor yang selama tak terpetakan dengan baik. Mereka banyak memburu karya --misalnya lukisan-- di daerah dan negara lain.
“Pernah seorang pensiunan Chevron membeli lukisan di GHN saat pameran. Saat kami antar ke rumahnya, ternyata banyak koleksinya. Katanya dibeli dari beberapa daerah dan negara. Dan dia juga paham tentang seni lukis dengan baik. Baik itu bahan yang dipakai, atau tekninya,” ujar lelaki yang pernah menginisiasi penerbitan majalan komik SiKari ini.
Pekanbaru dan beberapa kota lainnya di Riau adalah kota yang berkembang dengan pesat. Banyak kantor pemerintah, kantor swasta, hotel berbintang atau melati. Tingkat ekonomi warganya juga menengah ke atas yang berpotensi sebagai kolektor dan apresiator seni. Karya lukis, misalnya, banyak dibutuhkan hotel-hotel atau perkantoran. Begitu juga dengan karya kriya dan yang lainnya. Namun, kata Furqon, potensi ini belum tergali dengan baik. Buktinya, tetap ada benda-benda seni di hotel-hotel, mal, atau perkantoran tersebut yang produksinya tidak dari seniman Riau.
Potensi inilah yang selama menjadi pemikiran dia dan teman-temannya di GHN. Kata Furqon, jika potensi ini dimanfaatkan dengan baik dengan berbagai strategi, ekosistem seni rupa akan terbentuk dengan baik. Termasuk melihat potensi pasar lain di luar Riau, meskipun marginnya lebih kecil.
Untuk hal tersebut, GHN sudah dan akan merancang program. Selain membenahi manajemen, sarana dan prasarana, juga menginventarisir seniman dan karyanya, memetakan dan mencari kolektor potensial baik itu perorangan, institusi pemerintah maupun swasta. Kemudian juga menggelar iven, seperti pameran, diskusi seni, dan sebagainya, baik reguler maupun sporadis. Dan yang sedang dalam perencanaan adalah membangun art dealer, art shop, dan art product.
“Selain itu, kami juga berpikir tentang wacana pasar dan pasar wacana. Artinya, diskusi terbuka tentang dunia seni terus dilakukan sambil memetakan pasar yang bisa dimasuki,” tambahnya.
Selama ini, GHN sudah berupaya membangun ekosistem seni rupa tersebut. Hal yang paling penting dilakukan adalah secara rutin melakukan pameran berbagai karya seni rupa. Baik lukisan, kriya, seni instalasi, kaligrafi, foto, dan yang lainnya. Pameran yang dilakukan itu tidak gratis, tetapi berbayar. Kata dia, GHN ingin mengajak masyarakat sekaligus test case, apakah pameran seni rupa yang berbayar ada pengunjungnya. Dan ternyata, lewat berbagai strategi yang dibuat, respon masyarakat sangat tinggi.
Dari 18 pameran tersebut --dengan melibatkan sekitar 300 seniman dari Riau dan beberapa daerah di luar Riau-- catatan dalam arsip GHN menjelaskan bahwa sekitar 15 ribu orang datang mengunjungi pameran. Mereka ada yang berstatus pecinta seni dan seniman berbagai lintas seni, kolektor, masyarakat biasa, mahasiswa, dan anak-anak sekolah dari berbagai tingkatan. Dari 15 ribu pengunjung tersebut, 12 ribu di antaranya membeli tiket. Satu tiket harganya Rp10.000. Jika ditotal, GHN sudah menghasilkan Rp120 juta. Ini di luar fee yang didapat dari beberapa karya yang terjual. Dengan apa yang telah dilakukan itu, GHN meraih penghargaan ketiga dalam Lomba Inovasi Daerah Kota Pekanbaru 2025 Kategori Masyarakat.
“Dari catatan itu terlihat jelas, selain kami sudah membangun ekosistem seni, juga menumbuhkan minat masyarakat. Selama ini kita salah dalam memahami potensi masyarakat, seolah kegiatan pameran seperti ini tak layak jual. Ternyata layak, banyak yang mengapresiasi. Secara langsung atau tidak, GHN sudah memberi efek positif tentang dunia seni kepada masyarakat yang menjadi bagian dari elemen dalam ekosistem seni tersebut. Selain itu, GHN juga menjadi salah satu destinasi wisata budaya baru yang selama ini mungkin belum terpikirkan oleh banyak orang,” katanya lagi.
Seniman kriya Eko Fazra, mengajak mengajak komunitas seni lain untuk bergabung mengikuti kegiatan GHN. Menurutnya, itu adalah salah satu cara juga membangun ekosistem seni dengan melibatkan pekerja seni lintas genre. Selain untuk saling mendukung dan menguatkan, juga mencari bentuk-bentuk lain seni di luar seni rupa yang bisa saja menjadi entitas yang bisa dipamerkan. Misalnya pemikiran untuk memamerkan kaver buku karya sastra, atau poster-poster kegiatan pementasan teater dan sebagainya.
“Hal-hal seperti itu bisa saja dilakukan. Semakin banyak komunitas seni yang bergabung dan membangun jaringan, semakin banyak hal yang bisa dipikirkan bersama,” ujar mantan pegawai salah satu BUMN ini.
Pada bagian lain, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini juga menjelaskan bahwa produk seni, misalnya lukisan karya seniman Riau, yang “tak layak” jual karena menggunakan bahan baku yang tak standar. Menurutnya, para kolektor yang berpengalaman pasti paham bahan-bahan apa yang digunakan sang pelukis, misalnya. Mulai dari cat merek apa, kanvas kualitas apa, dan sebagainya. Sebab, seorang kolektor mau membeli sebuah karya dengan harga tinggi karena dia tahu karya tersebut layak dikoleksi dalam waktu lama.
Hal seperti itu, kata Eko, harus disadari dan dipahami oleh para pelukis. Meskipun karya lukisnya relatif bagus dan seharusnya layak jual, kata dia, tapi karena bahan baku yang dipakai tak standar untuk karya yang akan dikoleksi, maka karya tersebut tak akan dilirik para kolektor. Di tempat lain, katanya, misalnya di daerah yang sudah maju dan ekosistemnya sudah terbentuk sejak lama, kesadaran tentang penggunaan bahan baku yang berkualitas tinggi ini sudah terbentuk. Yang terjadi, karyanya terjual, kolektornya senang, dan perputaran ekonomi terjadi.
Eko merespon ada beberapa karya dalam pameran yang diselenggarakan GHN beberapa waktu lalu. Misalnya karya-karya yang dibuat dari bahan baku unik: dari spon, teh, atau ampas kopi, dan yang lainnya. Secara artistik, mungkin karya tersebut menarik dan bagus. Tetapi karya dari bahan seperti ini tidak layak dikoleksi karena bahan-bahan tersebut akan cepat rontok dan lapuk. Jika ada yang membeli pun pasti dengan harga yang relatif tak tinggi.
Sementara itu, Ahmad Beni Joniaman alias Bens Sani, menceritakan tentang upayanya bersama seniman lain dalam berusaha membangun jaringan penjualan karya seni di Riau. Dia selalu menyebarkan informasi kegiatan pameran, katalog karya, dan sebagainya, ke grup-grup pengelola hotel di Pekanbaru dan Riau. Sayangnya, mereka tak meresponnya. Tapi di hotel-hotel, di setiap kamar atau ruang lainnya, misalnya, tetap ada karya seni seperti lukis atau kriya.
“Tentunya itu bukan karya seniman Riau. Mereka membeli dari daerah lain seperti Bali, Bandung, atau Yogyakarta. Karya-karya dengan kualitas relatif kurang bagus dengan harga murah banyak dijual di daerah-daerah tersebut. Tapi itu tetap potensi pasar bagi seniman dan harus tetap diperjuangkan,” ujar Bens.
Senada, Fedli Aziz juga menjelaskan pentingnya membangun jaringan dan melihat ceruk pasar karya seni rupa ini. Dia yakin bahwa potensi di Riau sangat besar dengan banyaknya orang kaya, perusahaan besar, hotel, dan kantor pemerintah tersebut, yang ternyata di dalamnya banyak dipajang karya seni rupa tetapi bukan karya para seniman Riau. Menurutnya, jika GHN ingin membangun art dealer atau art shop, maka jemput bola harus dilakukan. Misalnya datang langsung ke calon konsumen dengan katalog yang sudah dibuat semenarik mungkin.
“Kita juga harus mendorong Pemerintah Provinsi Riau melalui OPD yang berhubungan dengan itu, untuk minimal menghimbau kantor-kantor pemerintah memberdayakan karya seniman Riau yang kebutuhan karya seni untuk ruangan di gedung mereka. Termasuk bagaimana Dinas Pariwisata, misalnya, menghimbau hotel-hotel yang ada di Riau lebih mengutamakan karya seniman Riau ketimbang daerah lain. Memang kesannya memanfaatkan, tetapi menurut saya ini salah satu cara dalam membantu membangun terbentuknya ekosistem seni rupa Riau,” jelas Fedli yang lebih dikenal sebagai seniman teater ini.***
Editor : Bayu Saputra