Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Festival Seni Media dan Ekologi Perkotaan “Serasa 39 Derajat” Menuju Kota Ramah Seni dan Lingkungan

Hary B Koriun • Minggu, 26 Oktober 2025 | 13:18 WIB

Para peserta, pengisi acara, dan panitia foto bersama dalam Festival Seni Media dan Ekologi Perkotaan “Serasa 39 Derajat” di Pekanbaru, belum lama ini
Para peserta, pengisi acara, dan panitia foto bersama dalam Festival Seni Media dan Ekologi Perkotaan “Serasa 39 Derajat” di Pekanbaru, belum lama ini

Sebagai sebuah kota yang menuju metropolitan, Pekanbaru memerlukan sentuhan seni dan perubahan pola pikir masyarakatnya dalam hal ekologi. Jika tidak, di masa depan Pekanbaru bisa menjadi kota yang kehilangan identitas.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - YAYASAN Sirih Merah Sikukeluang menyelenggarakan Festival Seni Media bertajuk “Serasa 39 Derajat”. Festival ini adalah puncak dari rangkaian panjang program dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini diawali sejak April 2025 dengan empat tahap utama, yakni Majelis Minda, Majelis Wicara, Majelis Cipta, dan ditutup dengan Majelis Akhir Pekan.

Dijelaskan Direktur Festival yang juga Ketua Yayasan Sirih Merah Sikukeluang, Gusmarian, Majelis Minda menjadi ruang pengendapan gagasan, di mana peserta diajak membaca ulang sejarah Pekanbaru sekaligus memeriksa kondisi ekologis dan sosialnya hari ini. Lalu hadir Majelis Wicara, forum dialog terbuka yang mempertemukan perspektif berbeda untuk mempertajam isu dan memperkaya wawasan. Proses berlanjut pada Majelis Cipta, ruang eksperimentasi artistik di mana ide-ide diwujudkan dalam bentuk karya seni media. Akhirnya, seluruh rangkaian ditutup dengan Majelis Akhir Pekan sebagai ruang pertemuan publik yang menampilkan karya, diskusi, dan perayaan.

“Rangkaian Majelis berlangsung sekitar enam bulan. Ia bukan sekadar wadah belajar, melainkan juga ruang silaturahmi, yakni menemukan kembali kebersamaan di tengah keterpisahan akibat modernisasi kota. Dari proses panjang inilah karya-karya seni media dan pertunjukan lahir sebagai refleksi, arsip, sekaligus imajinasi tentang kota,” kata Gusmarian, Sabtu (25/10/2025).

Tema “Serasa 39 Derajat” dipilih, jelas dia, sebagai metafora situasi hari ini. Suhu tubuh 39 derajat adalah penanda krisis: tubuh tak lagi nyaman, alarm berbunyi, dan kondisi harus segera ditanggapi. Angka itu menjadi gambaran ambang batas yang sedang kita hadapi bersama. Dalam konteks kota, metafora tersebut merujuk pada beragam persoalan: perubahan iklim dan menurunnya kualitas udara akibat kabut asap dan polusi; bergesernya pola hidup masyarakat yang semakin individualis; terkikisnya ruang komunal; derasnya arus teknologi digital yang mempercepat informasi sekaligus mengubah relasi sosial; hingga pembangunan kota yang kerap mengabaikan memori kolektif dan kenyamanan warganya.

“Serasa 39 Derajat” juga menekankan pengalaman inderawi, yakni bagaimana krisis tidak hanya hadir sebagai data statistik, melainkan sesuatu yang benar-benar dirasakan oleh tubuh, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari warga kota. Celetukan warga tentang panas, sesak, atau pengap menjadi bahasa sehari-hari yang mencerminkan krisis ekologis sekaligus sosial.

Majelis Akhir Pekan sendiri digelar selama tiga hari, yakni pada 29-31 Agustus 2025 lalu. Ragam kegiatan yang digelar adalah Pameran Seni Media, Pertunjukan Seni, Belajar Nongkrong, Lab Ingatan, Lokakarya, hingga Lapak Akhir Pekan. Festival ini bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan pertemuan warga kota, di mana peserta yang terlibat bukan hanya “partisipan proyek”, yang merupakan bagian dari tubuh kota itu sendiri.

Festival dibuka resmi oleh Kepala RRI Pekanbaru, Drs Agung Prasatya Rosihan Umar, disaksikan oleh seniman, komunitas seni, aktivis lingkungan, pelajar, dan mahasiswa. Pada sesi pembukaan, Kepala RRI Pekanbaru menegaskan dukungan penuh atas upaya membaca ekologi perkotaan melalui seni media. Simbolisasi pembukaan dilakukan dengan pemukulan kompang bersama Direktur Festival, Kepala RRI Pekanbaru, perwakilan Dinas Kebudayaan, dan Kapolresta Pekanbaru. Hadir dalam pembukaan beberapa seniman seperti musisi Anggra Satria, Dedi Arsitek, Eka Saputra, Budi Utamy, Furqon Elwe, Syafmanefi Alamanda, Kunni Masrohanti, dan banyak lagi.

Riau Pos yang datang ke acara tersebut melihat, di Aula Gurindam RRI Pekanbaru, pengunjung diajak menyusuri pameran yang menghadirkan sekitar sembilan karya seni instalasi dan media silang. Penataan karya mengikuti alur sungai: dari hulu yang menyimpan nafas pertama kehidupan, menuju hilir yang padat dan riuh, hingga baruh sebagai ruang rendah, rentan, namun penuh harapan. Setiap karya mengajak pengunjung berjalan menyusuri keterhubungan ekologi dan sosial, sembari merasakan kota dari sudut pandang baru.

Selain pameran, hadir pertunjukan musik, tari, dan teater, baik dari peserta Majelis Cipta maupun kelompok musik populer Pekanbaru seperti Semalam Saja, Hip Hop Pekanbaru, dan Limuno. Karya-karya tersebut menjadi peta yang tak sekadar memetakan ruang, tetapi juga menyingkap perasaan, kerentanan, dan kemungkinan.

Pada hari ketiga, Pekanbaru Art Market (PAM) menggelar workshop kerajinan tangan membuat gelang dan bingkai cermin dari tali paracord. Lapak Akhir Pekan menambah semarak festival dengan suasana pasar seni. Malam harinya, diputar film lokal The Last Boy Club karya Aby Kusdinar dan Surprise Film produksi Dali Budaya, lalu dilanjutkan dengan pertunjukan tari dan teater karya peserta Majelis Cipta.

Festival ditutup dengan pembacaan teks Catatan Refleksi Atas Luka Indonesia oleh Direktur Festival, Gusmarian. Teks tersebut menegaskan bahwa kesenian yang ditampilkan bukanlah hiasan, melainkan ruang refleksi dan perlawanan. Seni pertunjukan bukan sekadar capaian artistik, tetapi membuka tabir suara-suara kritis, lantang, penuh amarah, suara yang dibungkam, sekaligus impian dan harapan.

Teks penutup itu mengingatkan: selama rakyat terus ditindas, seni tidak akan pernah usai. Ia akan terus menyuarakan kebenaran, keberanian, dan kebaikan yang tak bisa dipadamkan. Harapan penyelenggara sederhana namun mendasar: agar pameran dan festival ini tidak berhenti di ruang galeri. Ia diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas, di mana warga dapat kembali merasakan kota sebagai ruang hidup bersama. Sejarah kota tidak hanya diperingati, tetapi dihidupkan dalam praktik sehari-hari.

“Kita berharao Pekanbaru menjadi kota yang sehat, ramah, adaptif, adil, dan manusiawi, tanpa meninggalkan jejak memori yang membentuknya. Seni hadir sebagai medium mempertemukan kembali warga dengan kotanya, sekaligus menyemai imajinasi baru tentang kemungkinan masa depan,” jelas Gusmarian lagi.

Pada bagian lain, pengurus yayasan yang juga membantu bidang publikasi, Husin, menjelaskan, ada beberapa genre seni yang dipamerkan dalam festival tersebut. Yakni genre sastra, gerak, rupa, swara, dan yang lainnya. Dalam bidang sastra, Esa menampilkan karya berupa Kamus Gen Z. Kamus ini adalah refleksi dari situasi dan gaya hidup Gen Z. Esa mencoba meneliti ulang kecenderungan anak-anak Gen Z dalam berkomunikasi sehari-hari, yang sering menggunakan kata-kata atau ungkapan baru khas zaman sekarang. Seiring berkembangnya budaya perkotaan, cara bertutur pun ikut berinovasi dan menyesuaikan diri.

Kemudian ada Dini dengan karya Dialog Dalam Topeng. Dalam karya ini, Dini menyingkap sebuah realitas yang selama ini tertutupi oleh pandangan pertama yang memukau. Dalam proyek ini, Pekanbaru tak sekadar ditampilkan sebagai kota yang sibuk dan berkembang, tetapi juga sebagai ruang penuh jeritan, tangisan, dan perjuangan yang kerap tak terdengar. Di balik bangunan menjulang dan jalan-jalan besar, ada luka yang diam, ada keringat dan darah yang tercecer dari mereka yang mencoba bertahan hidup di tengah kerasnya kota.

“Karya ini menjadi jendela untuk menelaah kenyataan yang sering diabaikan. Sebuah narasi tandingan yang membongkar paradoks antara citra dan realita. Melalui visual dan narasi, proyek ini membuka ruang refleksi atas problematika sosial, tekanan ekonomi, dan dinamika kehidupan urban yang kompleks di Pekanbaru, hingga pada akhirnya, membingkai ulang pemahaman kita tentang kota ini: bukan sekadar tempat tinggal, tapi medan perjuangan,” jelas Husin.

Lalu dalam bidang gerak (tari), Rizki Nadi Pratama menampilkan karya berjudul P Zone. Dia memotre keresahannya terhadap kondisi parkir yang ada di pekanbaru, terlepas dari kebijakan pemkot, ternyata masih banyak sekali parkir liar yang mengganggu lalu lintas perjalanan, menjadikan macet di mana-mana, susunan yang berantakan tak teratur dan sembarang mengambil trotoar pejalan kaki bahkan badan jalan.

Lalu ada Nopal dan Gilang dengan karya Anilena Bhandhanam. Diksi itu berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “ikatan dengan angin”. Judul ini merepresentasikan perjalanan seorang sandwich generation yang terjebak dalam pusaran tanggung jawab—merawat generasi sebelumnya sekaligus menopang generasi setelahnya. Dalam tarian ini, tokoh laki-laki menggambarkan sosok sandwich generation yang harus berjuang menghadapi beban, ketidakpastian, serta tekanan hidup.

Dan yang terakhir adalah penampilan Riska Efriani dengan judul tarian Jyoti. Jyoti (cahaya) sering dijadikan simbol kecerahan dalam kehidupan. Cahaya sendiri mempunyai sifat yang anggun dan berkilauan. Saat ini setiap manusia telah ketergantungan dengan cahaya. Karya ini pencipta ingin menceritakan dan menggambarkan bagaimana kehidupan yang bergantung dengan cahaya. Tokoh serta penari pada karya ini menggambarkan perasaan seseorang ketika mendapatkan cahaya dan juga menggambarkan ketika kehilangan cahaya.

Dalam bidang seni rupa, Dinda, Melly, Molly, dan Yelmi tampil dengan karya MonoPokan. Karya ini menghadirkan sebuah permainan interaktif yang mengajak pemain menjelajahi Pekanbaru sambil mengenal sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-harinya. Melalui peta virtual yang terinspirasi dari tata ruang kota, pemain akan berinteraksi dengan lokasi-lokasi ikonik —dari Pasar Bawah, tepi Sungai Siak, hingga sudut-sudut kampung tua. Setiap tantangan dalam permainan memuat cerita rakyat, artefak visual, atau potongan arsip yang membuka lapisan identitas kota.

“Menggabungkan elemen seni rupa, narasi digital, dan gamifikasi, karya ini mengajak publik untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga penjelajah aktif yang membentuk pemahaman personal tentang Pekanbaru,” kata Husin.

Kemudian, Diah, Niam dan Parlin menampilkan karya silat Amuk Api. Ini adalah sebuah karya seni rupa kontemporer yang memadukan data lingkungan dengan ragam jurus silat dari berbagai aliran, melahirkan jurus baru yang berakar dari luka ekologis. Karya ini berangkat dari pola kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau sepanjang tahun 2024–2025, yang ditransformasikan menjadi rangkaian gerak silat kontemporer. Selain karya-karya tersbut, juga ditampilkan banyak karya lainnya dalam festival.

Di sela festival, juga diselenggarakan diskusi Meretas Frekuensi Lintas Generasi. Diskusi ini semacam nostalgia tentang keberadaan radio yang menjadi salah satu hiburan masyarakan –termasuk anak muda—sebelum layar smartphone merajai seperto sekarang. Radio, di masanya, dianggap sebagai mercusuar peradaban, bukan hanya media siar. Radio tidak hanya menyiarkan suara, tetapi juga mengarsipkan jiwa sebuah kota. Setiap lagu, setiap tawa penyiar, setiap curahan hati pendengar, adalah fragmen-fragmen ingatan yang terabadikan dalam ingatan. Saat ini, di tengah riuh rendahnya laju informasi yang instan, arsip-arsip suara itu menjadi labirin ingatan yang kita telusuri kembali untuk memahami esensi kolektif. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan masa lalu dengan hari ini, sebuah medium refleksi untuk memikirkan bagaimana media siar membentuk identitas budaya dan gaya hidup, serta perasaan kolektif yang kita warisi. Diskusi ini dipandu oleh penyiar RRI Pekanbaru, Mimin.

Selain itu, sejarawan Bayu Amde Winata dari Serat Arkais, yang dipandu Husin, juga menjadi pemantik diskusi dengan tajuk Belajar Nongkrong. Diskusi santai ini melihat Pekanbaru hari ini yang tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang sebuah kampung kecil bernama Senapelan di tepi Sungai Siak. Dari persinggahan kapal dagang VOC, menjadi ibu kota Kerajaan Siak, hingga pusat perdagangan yang berkembang pesat, kota ini terus bertumbuh hingga menjelma menjadi metropolitan yang kita kenal sekarang.

“Dalam diskusi ini kita menelusuri jejak sejarah kota dari warisan sungai hingga ruang urban yang kita tempati hari ini,” jelas Bayu yang diceritakan oleh Husin.***

Editor : Bayu Saputra
#Festival Seni Media #ranggi #kebudayaan #ekologi perkotaan