Kartunis yang “bermain” di platform digital, Dhany Pramata, membuktikan bahwa menggeluti kartun dan diunggah di media sosial –meski tak mendapatkan bayaran di sana— tetap bisa memberi penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SUASANA Kafe Anjungan di Kompleks Bandar Serai, Purna MTQ, Pekanbaru, Rabu (19/11/2025) malam itu terasa sendu. Rintik gerimis yang turun sejak sore hari dan angin malam yang berembus pelan tapi stagnan, membawa rasa dingin. Dengan kopi yang masih mengepul namun cepat dingin karena cuaca, diskusi tentang “kapitalisme seni rupa” itu tetap berjalan lumayan hangat dan penuh dinamika.
Dalam diskusi Sembang Rupa Rabu on Malam (Sepanram) ke-4 ini, kartunis Dhany Pramata menjadi pembicara dengan tajuk Story of Illustory. Illustory adalah “genre” khas kartun kreator yang lebih dikenal dengan nama Bang Dhan ini, yang berasal dari dua kata: ilustrasi dan story (cerita). Pada diskusi ini dia menjelaskan tentang proses kreatifnya, mulai dari keajegannya berkarya di platform digital hingga mendapatkan tawaran kerjasama dari banyak perusahaan maupun lembaga. Hadir dalam diskusi ini beberapa seniman seperti Bens Sani, Beny Riaw, Eko Fazra, Eko Faizin, Cak Winda, Yelmi Nanda, Syaed Luqman (menantu almarhum Tabrani Rab), Taufik, dan yang lainnya. Diskusi ini juga live di ofisial Instagram GHN.
Kepala GHN, Furqon LW, menjelaskan, kapitalisasi dunia seni (rupa) sangat penting dipahami untuk pemberdayaan seniman itu sendiri. Kapitalisasi di sini, menurut dia, jangan dipahami sebagai ideologi besar kapitalisme, tetapi tentang bagaimana seniman rupa mengelola karya seninya: berkarya relatif berkualitas baik, mengelola manajemennya, hingga mencari dan menemukan yang mengapreasiasi secara langsung (baca: membeli). Menurutnya, itu bukan pekerjaan mudah. Harus dipelajari dan dilakukan secara sungguh-sungguh.
Di situ, kata dia, menjelaskan bagaimana laku kerja seniman yang tidak hanya bekerja seni untuk seni. Lebih dari itu, juga memikirkan pekerjaan seninya sebagai profesi yang memberi penghasilan seperti profesi lainnya. Kepuasan setelah menghasilkan karya harus dilanjutkan dengan mencari ke mana pasar yang bisa menyerap hasil karya tersebut. Dengan begitu, adagium bahwa “seniman harus miskin” harus diubah dengan “seniman harus berdaya”. Baik secara sosial maupun ekonomi.
“Kalau dalam beberapa diskusi sebelumnya kita bicara tentang seni rupa seperti lukisan, kriya, kaligrafi dll, kini kita bicara tentang bagaimana melihat pasar seni komik, ilustrasi, atau kartun,” kata Furqon.
Dijelaskannya, seniman komik/kartun di masa lalu bisa hidup dari karyanya karena dunia penerbitan buku menemukan masa jayanya. Di masa kini, ketika digitalisme jauh meninggalkan buku fisik, cara kerjanya berbeda. Banyak platform digital yang muncul dengan berbagai nama, salah satunya Webtoon.com, misalnya, yang diterbitkan secara gratis. Di sana, komik/kartun hanya menjadi semacam display oleh pengarangnya. Lalu, pendapatannya dari mana? Web tersebut punya skema sedemikian rupa untuk memberi penghasilan kepada kreatornya yang karyanya ditayangkan. Namun, jika nasib mujur, karya mereka bisa diangkat menjadi film atau serial drama dan memberi pendapatan yang tidak kecil. Banyak komikus/kartunis di Jepang, Cina, Korea Selatan atau di negara maju lainnya yang bisa hidup dari skema ini.
Namun di Indonesia, kehidupan para kreator komik/kartun, belum terlihat dengan baik. Hanya beberapa saja yang bisa hidup dari sana. Menurut Furqon, perlu cara agar para kreator tersebut bisa hidup dari karya mereka. “Ini yang penting kita pelajari dari mereka yang sukses di bidang ini,” ujar kartunis senior Riau ini.
Dalam pengantar diskui Dhany menjelaskan bahwa sejak awal dia memang suka membuat kartun klasik atau vintage. Dia membuat kartun kehidupan sehari-hari anak-anak generasi 1980-1990-an, yang segenerasi dengan dirinya. Awalnya, kartun-kartun itu dimuat di majalah Si Kari (2012-2013). Itu adalah majalah khusus kartun dan komik yang diterbitkan oleh Sindikat Kartun Riau (Sikari) yang dinahkodai Furqon LW. Di dalam sindikat itu banyak kartunis dan komikus bergabung. Selain Furqon dan Dhany, juga ada Eko Faizin, Ade Fitra, Barry Eko Lesmana, Desriman Zahmi, Effandi Fachri, Aidil Adri, Hasan Aspahani, dan sekian nama lainnya. Majalah ini mampu bertahan selama dua tahun. Gerusan digitalisasi dan beratnya biaya cetak yang tak bisa diimbangi dengan penjualan, membuat majalah ini akhirnya memilih undur diri.
Di majalah tersebut, Dhany menciptakan tokoh kartun, yakni Si Baji. Namun karakter tersebut kemudian diubahnya menjadi Bang Dhan. Setelah Majalah Si Kari tutup, karakter Bang Dhan itu kemudian dipindahkan ke blog dan media sosial Instagram. Di Instagram inilah Dhany mulai menemukan tema tetap yang bertahan hingga saat ini: kisah-kisah biasa dan sehari-hari anak-anak kecil generasi 1980-1990-an. Temanya jelas, yakni keluarga. Bisa tentang kedekatan anak dengan ayahnya, anak dengan ibunya, kedekatan kakak-adik, kedekatan anak-anak kampung saat bermain, dan sebagainya.
Tak disangkanya, pilihan pada tema masa lalu dan sederhana ini justru mendapatkan sambutan luar biasa para netizen. Setiap dia mengunggah kartunnya –biasanya seminggu tiga kali, hingga sekarang sejak 2012— ribuan like dan komentar. Kebanyakan netizen yang “mampir” di medsosnya adalah mereka yang segenerasi dengan tokoh Bang Dhan tersebut. Kartun-kartun sederhana tentang anak yang ketiduran di depan televisi yang tak sadar dibopong ayahnya ke kamar dan terkejut ketika bangun sudah berada di kamar; anak-anak bermain sepeda dengan temannya yang berdiri di dua as belakang yang dipanjangkan tanpa rem dan ketika harus ngerem mendadak menggunakan sandal atau sepatunya yang dimasukkan ke ban; atau anak-anak yang memakai kacamata 3D saat nonton tv, ternyata disukai dan dikomentari sampai puluhan ribu orang.
Tak hanya di Indonesia, kartun-kartun Dhany viral di banyak negara. Di Jepang, Thailand, Brazil, Turki, beberapa negara Eropa, dll. Beberapa kartunnya yang viral secara internasional itu antara lain tentang gabut masa kecil, mesin jahit, atau walkman. Karena viral secara internasional itu, banyak media asing yang membuat liputan tentang kartun-kartunnya. Bukan hanya media di Asia, tetapi juga di Eropa dan Amerika. Beberapa kartunnya banyak yang dijadikan meme untuk media sosial di luar negeri. Media-media asing tersebut rata-rata menganggap masa kecil anak-anak Indonesia di kampung pada era 1980-1990-an agak aneh dan asyik, yang mungkin tak dilalui oleh anak-anak di negara-negara maju seperti Eropa atau Amerika.
Karena kartun-kartunnya viral dan banyak diliput media internasional itu, nama Dhany dikenal luas oleh para kartunis dan penggemar kartun di dalam maupun di luar negeri. Sampai-sampai, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2019-2024, Sandiaga Uno, menghubungi dirinya dan melakukan diskusi lewat video call. Salah satu yang ditanya Sandiaga adalah dari mana ide-ide kartun itu didapat.
“Itu hal-hal di masa kecil yang terjadi pada kehidupan saya yang saya ingat, Pak. Ternyata di era 1980-an hingga 1990-an, banyak yang mengalami hal yang sama,” kata Dhany menjawab pertanyaan Sandiaga pada Maret 2023.
Dari sana, rezeki mulai mengalir. Sebuah perusahaan telekomunikasi nasional, Smartfren, menghubunginya dan menawarkan kerjasama konten. Dhany yang belum punya pengalaman soal kontrak, awalnya kebingungan ketika diminta menyebutkan angka. Smartfren kemudian menyebutkan angka di kisaran Rp3 juta per konten untuk 10 konten pertama. Dhany merasa itu sudah tinggi dan menyetujuinya. Sejak itu itu, beberapa brand besar mulai mendatanginya dan menawarkan kerja sama. Antara lain AirAsia, Telkomsel, Teh Kotak, Yamaha, Mitsubishi, IndiHome, Traveloka, IM3, Vesva, dan puluhan brand besar lainnya. Terakhir, hingga saat ini, Dhany dikontrak jangka panjang oleh brand alat gambar digital, Wacom, dan membuat banyak pelatihan di sekolah-sekolah di Riau.
Dhany yang tadinya merasa gamang apakah bisa hidup dari kartun, akhirnya percaya bahwa dia bisa hidup dari sana. Dia juga sering diundang jadi juri lomba kartun, baik di Riau maupun nasional. Dalam banyak iven lomba besar nasional, Dhany juga sering ikut dan menang. Selain itu, dia juga sering diundang untuk melakukan pameran bersama dalam banyak iven. Salah satunya oleh salah satu brand besar, yakni NFT Gallery yang dibuat oleh Tokomail di Atrium Senayan City, Jakarta. Iven-iven itu semakin mengerek namanya di jajaran komikus digital yang diperhitungkan. Dia merasa, apa yang didapatkannya saat ini adalah berkat
Sebagai kartunis yang bekerja di rumah, saat ada fenomena babi ngepet –orang yang kaya karena memelihara pesugihan— Dhany diwawancarai sebuah media besar Jakarta. Ketika itu orangtua, saudara, dan teman-temannya yang tidak tahu kalau Dhany adalah seorang yang menghasilkan uang dengan bekerja dari rumah. Mereka masih menganggapnya pengangguran. Dalam wawancara itu Dhany menjelaskan apa yang dia lakukan. Setelah membaca itu, banyak keluarga dan kawan-kawannya akhirnya tahu pekerjaan lelaki kelahiran Air Molek, Indragiri Hulu (Inhu) ini.
Dhany merasa, apa yang didapatkannya saat ini karena buah kesabaran dan konsistensinya mengunggah kontennya di media sosial. Meski di medsos itu dia tak mendapatkan apa-apa selain like dan komentar, tetapi itu menjadi jalan banyak brand mengenal karakter kartun dan dirinya sebagai kreatornya. Dari sana juga akhirnya brand-brand tersebut percaya kepadanya dan mengajak kerja sama. Konsistensi ini, kata dia, penting bagi seorang kreator bidang apa pun. Sebab, medsos memberi ruang seluas-luasnya untuk berkreasi, meski tanpa bayaran. Tetapi ada value yang didapatkan di sana, yang ternyata, menurutnya, lumayan cukup untuk hidup sehari-hari.
“Dulu, awalnya saya merasa terjerumus di dunia kartun digital ini. Ternyata bisa untuk menghidupi keluarga,” ujar alumni Universitas Riau (Unri) ini.
Dhany tidak cepat puas dengan apa yang didapatkannya saat ini. Dia ingin terus bertransformasi dan mengembangkan diri. Dia merasa apa yang dicapainya tak ada apa-apanya dibandingkan banyak kreator kartun lainnya. Salah satunya akun @tahilalats. Akun ini sudah menjadi ikon kartun digital Indonesia, juga mendunia. Sudah memiliki 6,1 juta pengikut. Sedang akan @dhanypramata (bang dan) baru 230 ribu pengikut. Untuk sampai ke sana, kata Dhany, butuh kerja keras dan eksistensi, namun tetap menjaga kualitas tanpa menghilangkan identitas yang selama ini terbangun dan terjaga dengan baik. Saat ini Dhany juga membuat komunitas kartun di Pekanbaru bernama Sketsa Gembira. Komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin ngartun.
Dalam sesi diskusi, beberapa peserta sepert Eko Fazra, Bens Sani, Furqon, atau Cak Winda, memberikan masukan dan beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaan dari Eko Fazra adalah bagaimana jika mendapatkan order atau kerjasama dari sebuah lembaga yang menabrak idealisme. Misalnya soal LGBT, keperpihakan politik, dan lainnya. Dhany menjelaskan bahwa soal itu, dia sangat tegas dan menolaknya. Dia mencontohkan, saat musim kontestasi politik, baik pilpres, pemilu, atau pilkada datang padanya. Meski ditawari dengan bayaran mahal, Dhany menolaknya. Ini berbeda, katanya, dengan tawaran dari mantan Gubernur Riau, Syamsuar, untuk masuk dalam tim media sosialnya, termasuk kartun. Kata Dhany, saat itu Syamsuar sudah terpilih, dan dia bekerja sebagai profesional di bidang itu.
“Sebuah LSM yang bergerak di bidang kesetaraan gender juga pernah menawari kerjasama dengan membuat konten tentang LGBT yang disamarkan. Saya tak mau. Saya tak ingin kerja saya lebih 10 tahun membangun kredibilitas, hancur hanya karena satu konten, meski dibayar mahal,” jelasnya.
Pada bagian lain, Furqon menyarankan agar Dhany mau menerima tawaran sebuah penerbi major dari Jakarta untuk menerbitkan kartun-kartunnya dalam bentuk buku. Sebab, dengan mengambil tema yang terhubung dengan waktu –anak-anak tahun 1980-an hingga 1990-an-- bisa saja suatu saat penggemarnya akan berkurang seiring waktu juga. Sebab, orang-orang yang di tahun-tahun tersebut mengalami masa kecil, saat ini sudah berusia di atas 50 tahunan. Jika dibukukan, paling tidak ada dokumen yang bisa dibaca oleh penggemar kartun Dhany. Furqon mencontohkan kartunis Datuk Lat dari Malaysia yang juga membuat kartun tentang orang-orang seangkatan dia saat mengalami masa kecil. Tahun 1950-an. Seiring waktu banyak dari mereka yang sudah meninggal dan pelan tapi pasti para penggemarnya berkurang. Namun generasi berikutnya bisa membaca karya-karya Lat lewat kartun yang dibukukan, yakni seri Kampung Boy.
Mengenai hal ini, Dhany masih berpikir panjang. Katanya, “Saya masih merasa asyik dengan yang sekarang. Tapi saya tetap memikirkannya. Semoga suatu saat nanti saat saya sudah memutuskan iya, tawaran itu masih berlaku,” jelasnya.***
Editor : Bayu Saputra