Masyarakat lewat komunitas seni, menjadi aktor dalam geliat seni-budaya di Riau sepanjang tahun 2025. Tanpa menafikan peran pemerintah, komunitas seni masih menjadi kekuatan gerak seni-budaya di daerah ini.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SEPANJANG tahun 2025, kegiatan seni dan budaya menggeliat. Kegiatan tersebut kebanyakan digerakkan oleh komunitas dan masyarakat. Meski begitu, kegiatan yang dilakukan lembaga atau organisasi pemerintah juga terlihat, meski masih banyak hanya sebatas seremonial. Geliat ini memperlihatkan bahwa komunitas dan masyarakat umum masih menjadi urat nadi bagi geliat seni-budaya. Mereka melakukannya bukan hanya sekadar seremoni dengan menghabiskan anggaran pemerintah, tetapi karena memiliki keinginan dan terus mengapresiasi seni-budaya agar terus tumbuh dalam masyarakat.
Kunjungan Mendikdasmen ke Riau
Geliat kegiatan budaya di Riau pada 2025 dimulai dengan kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada 10 Junuari 2025. Mendikdasmen berkunjung ke Riau dengan beberapa agenda, di antaranya bertemu dengan sekitar 250 pegawati tiga UPT yang berada di bawah Kemdikdasmen, yakni Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) (sebagai UPT dari Badan Bahasa), Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP), dan Balai Guru Penggerak (BGP) Riau. Medikdasmen datang bersama Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Gogot Suharwoto, dan Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Mariman Darto. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala BBPR Toha Machsum MAg, Kepala BPMP Dr Nilam Suri, dan Kepala BGP Riau Reisky Bestary MPd.
Abdul Mu’ti dalam kesempatan itu juga menginginkan UPT, dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) serta 30 UPT-nya mampu secara konsisten melahirkan buku bahan bacaan nonteks yang bermutu, sesuai dengan komitmen untuk menguatkan visi Kemendikdasmen, yaitu “Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Mendikdasmen menitikberatkan lini masa peningkatan literasi bagi para siswa, dengan cara menyediakan bahan bacaan bermutu yang dapat membangun karakter; mendorong rasa ingin tahu, berpikir kritis, realisitis, analitis dan futuristik; mendekatkan pada lingkungan alam dan sosial; serta meningkatkan minat membaca.
“Ketersediaan buku bagi peningkatan literasi sangat penting. Saya berharap semua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen yang di seluruh wilayah Indonesia, memahami hal ini dan menjadi prioritas,” kata Abdul Mu’ti di hadapan para pegawai tiga UPT yang ada di Riau, dalam acara “Bincang Santai” yang diselenggarakan di aula BPMP di Pekanbaru, Jumat (10/1/2025).
Rio Rozalmi Terbitkan Kumcer
Pada awal 2025, tepatnya 1 Januari, terbit sebuah buku kumpulan cerpen dari penulis Riau. Buku berjudul Senja yang Marun itu ditulis oleh Febrio Rozalmi Putra yang menggunakan nama Rio Rozalmi dalam tulisan-tulisan kreatifnya. Yang menarik, 13 cerpen yang termaktub dalam buku ini, semuanya ditulis hanya dalam kurun awaktu dua tahun, 2023-2024.
Cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini, selain sebagian besar merupakan pemenang lomba, juga pernah dimuat di media massa atau buku antologi bersama. Cerpen “Sri Memilih”, misalnya, adalah pemenang kedua lomba cerpen nasional yang ditaja oleh Universitas Al Azhar Indonesia. Kemudian, cerpen “Nur Jawilah Merintih” merupakan pemenang kedua lomba cerpen nasional yang ditaja oleh Penerbit Mumtaz (Cirebon). Lalu cerpen “Istri Siluet” menjadi pemenang pertana lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh Simple Publiser. Kemudian ada tiga cerpen yang pernah dimuat oleh harian Riau Pos, yakni “Orang-Orang yang Kebanjiran”, “Gulungan Uang”, dan “Jembatan”. Lalu ada dua cerpen yang dimuat di harian Singgalang, yakni “Senja yang Marun” yang menjadi judul buku, dan cerpen “Pindah Rumah”. Cerpen berjudul “Tujuh Puluh Tujuh” pernah dimuat di media daring Tiras Time. Dan satu lagi, cerpen “Melewakan Gala” masuk sebagai cerpen pilihan lomba 100 Tahun AA Navis yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumatra Barat (Sumbar).
Rio menceritakan, buku ini masuk dapur percetakkan pada awal Desember 2024 dan selesai cetak tepat pada 1 Januari 2025. Semua cerpen ini juga dikurasi kembali oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat melalui Divisi Karya dan diterbitkan oleh Soega Publishing Bojonegoro, Jawa Timur. Dia tidak tahu berapa eksemplar yang yang sudah terjual, namun yang membeli langsung kepadanya dengan tanda tangan penulis hingga Kamis (30/1/2025) sudah mencapai 72 eksemplar.
“Ini buku cerpen tunggal pertama saya, saya merasa bahagia dengan kelahiran buku ini,” ujar Rio Rizalmi kepada Riau Pos, Jumat (31/1/2025).
Pementasan Teater Pecundang
Memasuki bulan Maret, Lembaga Teater Selembayung tetap berjuang untuk survive dengan menggelar pertunjukan teater di Anjung Seni Idrus Tintin, Rabu (26/2/2025) malam. Pimpinan Produksi Rina NE dan seluruh tim kreatif bekerja keras dengan mementaskan naskah Pecundang yang ditulis dan distradarai sendiri oleh Fedli Aziz.
Menurut Fedli, naskah Pecundang yang dia tulis adalah pemenang kedua dalam Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun 2004 untuk kategori naskah drama. Sebelumnya, naskah ini pernah ditampilkan dalam helat Gelora Teater Riau 2005 yang diselenggarakan DKR. Disutradarai Rina NE, ketika itu Pecundang meraih berbagai penghargaan. Seperti aktor dan aktris terbaik, serta sutradara dan penyaji terbaik. Setelah itu naskah tersebut kembali ditampilkan pada sebuah helat teater yang juga disutradarai Rina NE. Kedua pementasan itu diselenggarakan di Pekanbaru.
Dalam pementasan kali ini, Fedli sendiri yang menyutradarai naskah yang dia tulis tersebut. Rina NE sendiri menjadi pimpinan produksi. Menurut Fedli, setelah 20 tahun tak dipentaskan, pementasan kembali naskah Pecundang bermaksud mengembalikan ingatan proses kreatif generasi Teater Selembayung pada generasinya dulu, yakni generasi yang memboyong Sanggar Selembayung hengkang dari Fakultas Sastra Unilak menuju komunitas independen dengan nama Lembaga Teater Selembayung. Selain itu, juga karena 10 tahun terakhir, Teater Selembayung sibuk tampil di luar Riau dalam berbagai perhelatan, nasional maupun internasional, sehingga tidak lagi bersentuhan dengan penonton/audiens yang sudah mereka bangun sejak 2007 dengan menjual tiket saat mereka menonton teater.
Kata mantan wartawan Riau Pos ini, terakhir Selembayung tampil dengan menjual tiket pada tahun 2015 dengan karya Opera Bulang Cahaya di Anjung Seni Idrus Tintin. Ternyata, menurutnya, minat pecinta teater masih ramai. Masih banyak yang rindu pementasan karya teater realis ala Selembayung. Buktinya, kata dia, meski hujan deras saat pementasan malam itu, tak kurang dari 300-an tiket terjual dari 500 tiket yang disediakan.
“Jumlah penonton bisa mencapai angka maksimal jika hari cerah. Apalagi banyak penonton yang menelepon tim ticketing dan meminta maaf tak bisa hadir. Bahkan dari mereka ada dari luar Kota Pekanbaru,” kata Fedli, Jumat (7/3).
Pementasan Pecundang kali ini dimainkan 7 aktor, meski di dalam naskah aslinya hanya lima orang pemeran. Kali ini dia menambah dua aktor sebagai penyanyi dan anaknya (tetangga) aktor utama, Kabut dan Latifah. Para aktor yang terlibat dalam pementasan kali ini adalah Aditiya Hariyadi, Tri Sepnita, Vivi Syaputri, Ekky Gurin, Sulthan Rasyidsyah Alfarizi, Maria Pelita, dan Humaira Aulia Putri Jefrizal.
Teroka Arsip Suku Seni
Salah satu lembaga atau komunitas yang banyak menyelenggarakan kegiatan pada 2025 adalah Suku Seni Riau. Pada Maret, salah satu kantong budaya yang berada di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar ini membuat program unggulan terkait pengarsipan seni, yakni Teroka Arsip Seni Riau dengan nama “Teroka Arsip Seni, Cipta Seni Arsip”. Muara yang diharapkan dari program ini adalah terbentuknya Ruang Arsip Seni Riau. Ini adalah kerja panjang, dan teroka ini merupakan kegiatan awal untuk menghimpun data arsip seni dari lima daerah. Untuk tahun ini, lima daerah itu adalah Kampar, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu.
Kegiatan itu kemudian diikuti dengan kegiatan Telusur Arsip Seni Kota, yangg lebih fokus pada penghimpunan arsip seni di Kota Pekanbaru. Progam ini sebenarnya adalah satu kesatuan. Yang dimulai dengan Teroka Arsip Seni Riau 5 Lokus, Telusur Arsip Seni Kota, Pameran Arsip Seni Riau, dan Art Lab Cipta Seni Arsip. Kelima kegiatan itu bisa disebut saling kait-kelindan, saling melengkapi, atau turunan.
Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, menjelaskan, program yang dia inisiasi ini awalnya mengutamakan dan fokus pada arsip-arsip yang masih banyak berserak. Jadi bukan arsip yang sudah diselamatkan dengan baik. Dia dan tim menyelusuri ke seniman-seniman, lembaga, komunitas, dan berbagai tempat yang memungkinkan ditemukannya arsip-arsip seni tersebut. Baik itu berup foto, video, rupa, poster, katalog, buku majalah, kliping koran, dan lain-lain.
“Program ini lebih pada kerisauan minimnya ruang arsip khusus seni budaya di Riau sehingga kita susah untuk menemukan dan membaca peta perkembangan seni Riau,” kata Marhalim kepada Riau Pos di Pekanbaru, Jumat (21/3/2025).
Jauh sebelum ini, banyak muncul berita perburuan arsip dan naskah lama Melayu oleh banyak peneliti yang didanai Pemerintah Malaysia. Mereka datang langsung ke ceruk-ceruk wilayah, menemui masyarakat langsung, dan membeli naskah-naskah tersebut dengan harga yang menggiurkan. Itu dilakukan Pemerintah Malaysia yang berambisi untuk menjadi Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, bahkan dunia. Namun, kata Marhalim, apa yang dilakukan Suku Seni ini, bukan sebuah kounter atau bersaing karena hal itu meski sebenarnya apa yang dilakukan para peneliti Malaysia itu juga menjadi sumber kerisauan bersama selama ini.
Seniman Bahas Raperda Budaya
Ketika Pemprov Riau membuat Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pemajuan Kebudayaan Melayu Riau, banyak seniman tak tahu karena tidak dilibatkan. Mereka juga tak tahu pada posisi mana seniman ditempatkan dalam ranperda tersebut. Maka, pada Jumat, 21 Maret 2025, para seniman berkumpul di sekretariat Rumah Sunting, di Pekanbaru. Mereka menggelar diskusi dengan tema “Ranperda Pemajuan Kebudayaan Melayu Riau Penyempurnaan untuk Kebudayaan”. Direktur Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, menjadi pemantik diskusi dengan memaparkan apa saja yang ada dalam Ranperda tersebut.
Hadir dalam diskusi itu pentolan Sindikat Kartun Riau, Furqon LW; Kepala Suku Seni Riau yang juga Ketua Asosiasi Seniman Riau (Aseri), Marhalim Zaini; Pendiri NonBlok, Ade Greden Donora; Ketua PaSKI Riau, Bens Sani; aktivis Fitra Riau, Triono; seniman dan akademisi Husin; sastrawan dan wartawan senior Kazzaini Ks; koreografer Wan Harun Ismail; pegiat Forum Lingkar Pena, Bambang Karyawan; Attayaya Yar Zam dari Riau MAC; aktivis hukum dan pecinta budaya, Ilham M Yasir, dan beberapa seniman lainnya.
Pertemuan itu juga memunculkan kesepakatan pembentukan Koalisi Masyarakat Seni Riau (Komaseri). Para seniman secara aklamasi menujuk Kunni sebagai koordinator. Salah satu tugas utama lembaga ini adalah mengawal pembahasan Ranperda ini dan bekerja keras agar suara seniman didengar oleh pemerintah dan DPRD Riau.
Kunni memaparkan bahwa Ranperda Pemajuan Kebudayaan Melayu Riau ini dilengkapi dengan naskah kkademis –tapi tidak tahu siapa saja tim yang menyusun naskah akademis tersebut-- dan disusun sebagai dasar penyusunan Perda yang bertujuan untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan Melayu Riau agar selaras dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Nasional sebagai salah satu dasar hukumnya, termasuk turunannya, Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan.
Dalam ranperda itu, menurut Kunni, juga terdapat tujuannya, pertama, sebagai Pelestarian dan Pengembangan, yakni melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Melayu Riau sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional Indonesia. Kedua, Penjaminan Hak, yakni menjamin hak masyarakat adat dan budayawan dalam mengekspresikan kebudayaan mereka secara bebas dan bertanggung jawab. Ketiga, sebagai Penyesuaian Regulasi, yakni menyesuaikan regulasi daerah dengan perkembangan hukum dan kebijakan nasional terkait kebudayaan. Dan keempat adalah Peningkatan IPK, yakni meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Melayu Riau sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan berbasis budaya.
Dalam diskusi yang berkembang kemudian, kartunis Furqon LW, mempertanyakan bagaimana peran Dewan Kesenian Riau (DKR), Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) yang diusulkan dibentuk dalam Ranperda itu, juga peran Riau Kreatif Hub, dan badan-badan seni lainnya. Furqon juga meminta Pemprov Riau menyediakan Dana Abadi Kebudayaan, termasuk di dalamnya untuk kesenian, yang tidak berada dalam APBD.
“Dana Abadi Kebudayaan ini penting untuk menjamin keberlanjutan kegiatan kebudayaan seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah pusat,” kata Furqon.(Bersambung)
Editor : Bayu Saputra