Selama tahun 2025, banyak kelompok diskusi sastra dan budaya, sanggar teater, atau kantong budaya lainnya yang melakukan kegiatan. Mereka menciptakan ruang diskusi, cipta, dan kreativitas.
Klub Buku Lingkar Kecil DI Riau, ada klub buku yang khusus mengulik tentang cerpen. Lingkar Kecil namanya. Inisiatornya Srikartini Widya Ningsih. Dia tinggal di Pangkalankerinci, Pelalawan. Perempuan yang sering menggunakan nama pena Puan Seruni ini mengajak Windi Syahrian Jambak dan Andreas Mazland --pendiri Mazhab Panam-- bergabung sebagai pemantik diskusi. Pilihannya adalah genre cerpen. Mereka bertiga sering melakukan siaran langsung via Instagram saat membahas cerpen-cerpen pengarang Indonesia, agar melibatkan audiens juga. Pilihan jalur media sosial ini juga dilakukan karena ketiganya tinggal di kota terpisah.
Kenapa cerpen yang dipilih, kata Puan Seruni, karena dianggap lebih praktis (singkat) untuk diapresiasi, dibandingkan buku. Apresiasinya bisa lebih banyak, bisa lebih dari dua cerpen dibahas. Mengingat waktu membaca buku yang tak banyak dan masing-masing punya kesibukan. Katanya, jika target seminggu sekali membahas satu buku, masih terlalu berat bagi mereka.
“Saya punya cita-cita bikin rumah baca dengan nama Lingkar Kecil, karena selain saya tinggal di jalan lingkar, saya juga ingin punya sirkel kecil dalam hal berkarya tapi punya arti besar dan fungsi luas bagi sekitar,” kata Puan kepada Riau Pos, Jumat (18/5/2025).
Ide untuk klub buku ini ada sejak lama, karena kerinduan dia berkumpul dengan teman-temannya seperti saat bersama Komunitas Paragraf dulu. Hanya saja, dia butuh teman yang seide dan sehobi untuk mewujudkannya. Saat ada acara di Pustaka Soeman Hs, Oktober 2024, dia berjumpa dan ngobrol dengan Windi dan Andreas, serta beberapa tokoh sastra lainnya, ide itu makin menggeliat untuk dibicarakan. Awal Januari 2025 memberanikan diri menghubungi Windi ditanggapi positif. Mereka diskusi banyak mengenai nama klub, program awal, dan format diskusi seperti apa. Kemudian mereka bertiga sepakat membicarakan cerpen.
Mereka juga mendiskusikan cerpen seperti apa yang akan didiskusikan. Cerpen yang dipilih yang dianggap berdampak bagi perkembangan sastra Indonesia dan bagi mereka pribadi dalam menambah apresiasi dan juga khazanah wawasan soal sastra. Salah satunya mengangkat isu-isu terkini dan relatif berkualitas isi sastranya. Misalnya, mereka memilij karya Sasti Gotama dan Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang dianggap memenuhi kriteria itu.
Karya-karya Sasti, misalnya, dipilih karena cerpennya unik dan temanya mendobrak soal kesehatan mental yang selama ini jarang dibahas cerpenis lain. Sementara SGA dipilih karena terlalu sayang jika tak membicarakan karya penulis kelahiran Boston tersebut. Terlalu banyak karyanya yang bagus dengan gaya bertutur yang imajinatif dan realis, serta plot-plot yang menyentuh. Setiap karya SGA adalah apresiasi berharga karena dalam karyanya ada jejak rekam sejarah dari beberapa peristiwa di negara ini yang mau tidak mau memaksa kita membuka kembali literatur sejarah dan mendiskusikannya, serta memperkaya wawasan.
Diskusi Kota Sikukeluang
Sebagai warga kota yang merasakan langsung dampak pembangunan dan kebijakan daerah, sudah selayaknya masyarakat dilibatkan dalam membaca kota sebagai teks — untuk dikaji, ditafsirkan, dan bahkan dipertanyakan. Membaca kota berarti menelusuri jejak sejarah, relasi kuasa, konflik ekologis, dan potensi budaya yang dapat diberdayakan menuju masa depan kota yang berkeadilan ekologis, berkelanjutan, dan dinamis.
Berangkat dari semangat inilah, Yayasan Sirih Merah Sikukeluang (YSMS) menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kata Kita Kota: Melihat dan Mendengar Pekanbaru Melalui Pendekatan Ekologi”. Kegiatan ini diselenggarakan di Pekanbaru, Sabtu-Senin (26-28/4/2025) dengan melibatkan banyak seniman sebagai peserta.
Hadir dalam kegiatan itu beberapa aktivis seni, literasi, sastra, dan lingkungan dari banyak organisasi yang ada di Riau. Mereka, antara lain, kartunis senior Furqon LW, pegiat literasi anak Siti Salmah, filmaker Ridho Arofa, kurator seni Fachrozi Amri, Willy Fly (Riau Beraksi), Attayaya Yar Zam (Riau Magz), beberapa perwakilan dari Jikalahari, Suku Seni, Djangat Indonesia, Avr UIR, Pekanbaru Book Party, Kotak Baca, Komunitas Paragraf, perwakilan beberapa media, dll.
Manajer Program Sikukeluang, Gusmarian, menjelaskan, tujuan dari FGD ini adalah mengajak jaringan komunitas untuk bersama-sama membaca ulang Kota Pekanbaru melalui pendekatan ekologi perkotaan. Menurutnya, ini penting ketika pendekatan lingkungan dan kesenian banyak dianggap tidak penting dalam pembangunan di banyak kota di Indonesia.
“Kita ingin memetakan hubungan antara ruang, masyarakat, dan lingkungan hidup sebagai satu kesatuan lanskap budaya yang dinamis,” kata Gusmarian, Sabtu (26/4). Ia berharap FGD ini dapat menjadi pemantik lahirnya gagasan yang dapat ditindaklanjuti dalam bentuk karya seni, riset, atau advokasi kebijakan berbasis ekologi.
Dalam diskusi yang dimoderatori sejarawan muda Riau, Bayu Made Winata, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Ahlul Fadhli, menjelaskan data kependudukan Pekanbaru berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, yakni 1.608,37 jiwa/km² dengan laju pertumbuhan 1,58% per tahun. Dari data itu, Ahlul menyoroti berbagai persoalan yang muncul: mulai dari kualitas udara dan air, tumpang tindih kebijakan pembangunan, hingga pengelolaan sampah yang masih jauh dari kata tuntas.
Masalah sampah menjadi sorotan utama. Ahlul menyinggung gugatan warga negara (citizen lawsuit) yang dilayangkan Walhi Riau bersama beberapa organisasi terhadap Wali Kota Pekanbaru, DPRD Pekanbaru, dan DLHK Pekanbaru pada 2021. Dalam gugatan tersebut, pengadilan menyatakan ketiganya telah melakukan pelanggaran hukum dalam pengelolaan sampah kota.
Diskusi Cerpen Komunitas Paragraf
Dunia penulisan cerpen di Riau, saat ini, dianggap tidak sedang baik-baik saja. Meskipun terus melahirkan penulis, tetapi perkembangannya tak signifikan. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Ini jika dibandingkan dengan dua provinsi tetangga seperti Sumatra Barat (Sumbar) atau Sumatra Utara (Sumut). Dua daerah itu, hari ini, memiliki penulis-penulis cerpen yang sangat diperhitungkan secara luas. Salah satu barometernya, cerpen-cerpen mereka mampu menembus media arus utama nasional, memenangkan lomba tingkat nasional, dan diperbincangkan dalam dunia sastra secara luas.
Berangkat dari fenomena dunia cerpen Riau terkini, Komunitas Paragraf menyelenggarakan diskusi “Cerpen Riau: Hari Ini dan Esok” di Pekanbaru, Ahad (4/5/2025). Dipandu cerpenis Windi Syahrian, dosen FIB Universitas Lancang Kuning (Unilak), Alvi Puspita SPd MA, menjadi pembicara tunggal. Dengan kertas kerja berjudul ini “Cerpen Riau Kini dan Esok: Di simpang Produktivitas dan Kedangkalan”, Alvi menyoroti beberapa fenomena tentang dunia cerpen Riau hari ini sambil merefleksikan kondisi di masa lalu. Beberapa hal yang ditekankannya antara lain mulai surutnya karya cerpen Riau yang (relatif) berkualitas, masalah lokalitas yang sering hanya menjadi tempelan, dan persoalan lainnya yang membuat dunia cerpen Riau tertinggal dibanding daerah lain. Alvi mencoba menarik benang merah bagaimana wajah cerpen Riau sejak awal zaman Soeman HS yang dikenal sebagai Bapak Cerpen Indonesia itu, hingga generasi sekarang.
Menurut Alvi, dari segi kuantitas, penulis cerpen Riau tidak pernah berhenti tumbuh, namun dia mempertanyakan unsur kedalaman karya mereka.
Hadir dalam diskusi ini beberapa sastrawan dan peminat sasra seperti akademis Dr M Badri (UIN Suska), Pramudia Pangestu (Tikum Buku), penyair Murparsaulian, Sugiarti (FLP Riau), Husin (NonBlok), penyair Budy Utamy, Siti Salmah, Bambang Kariyawan (FLP), cerpenis Rio Rozalmi (FLP), penulis Efry Husin Juani (Tapung, Kampar), penulis prosa Nandik Sufaryono, Wahyudin (Hutan Biru), Prayogi Hadi Santosa (Suku Seni), Sinta Saraswati (Pekanbaru Bookparty), Helsi Ramadhani (Unri), Muhamad Rafi (Kalistra), pegiat literasi Putra Arif, Delfianty Martin, dan yang lainnya. Dari Komunitas Paragraf sendiri Redovan Jamil dan Anton WP.
Alvi mengkritisi banyak cerpenis Riau sekarang yang menjadikan lokalitas kemelayuan sebagai tempelan dalam cerita, bukan sebagai inti kekuatan utama dalam cerita. Sebab, jika hanya menjadi sebuah tempelan, maka cerpen yang ditulis tidak mendalam dan struktur bangunannya tidak terlalu kuat. Ini terjadi karena banyak lomba menulis cerpen di Riau yang memaksakan tema lokalitas yang sempit.
“Tema lokalitas ini menjerat dan memaksakan penulis yang ikut lomba sehingga tanpa riset yang baik dan mendalam, mereka akhirnya menjadikan lokalitas hanya sebegai tempelan dalam cerita,” ujar Alvi.
Drama Musikal Anak Begawai
Mantan Ketua Jaringan Teater Riau (JTR), Rian Kurniawan Harahap, pernah mengatakan, teater anak di Riau memang belum mendapatkan tempat secara layak. Belum banyak sanggar teater yang mau menggarapnya. Sebab, berbeda dengan teater yang dimainkan orang dewasa, teater yang melibatkan mayoritas anak-anak ini, punya tingkat kesulitan yang lebih dibanding teater biasa pada umumnya.
“Mungkin karena itulah tak banyak sanggar teater yang mau menggarapnya. Bukan berarti tak ada,” ujar guru di salah satu sekolah swasta di Pekanbaru tersebut.
Maka, ketika ada kelompok atau sanggar yang mau menggarap teater anak ini, merupakan berkah. Apalagi dengan pertunjukan berbayar. Sebab, itu adalah sebuah pertaruhan. Apakah tingkat apresiasi masyarakat terhadap teater anak di Riau –khususnya Pekanbaru—sudah muncul? Bagaimana peran orang tua (orang dewasa) dalam meyakinkan anak-anak mereka untuk menonton? Dan bagaimana pula tingkat keinginan orang dewasa menonton pertunjukan teater anak ini?
Mungkin tanpa bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, selama tiga hari, Jumat-Ahad (23-25/5/2025) lalu, Yayasan Begawai Riau Independen mementaskan drama musikal –semacam opera—anak berjudul Senandung Bunian, di Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT), Purna MTQ, Pekanbaru.
Ketua Yayasan Begawai Riau Independen, Benie Riaw, menjelaskan, Senandung Bunian digagas sebagai ruang edukatif dan kreatif bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal budaya Melayu, khususnya warisan Kerajaan Siak Sriindrapura. Pertunjukan ini menggabungkan unsur sejarah, mitos, dan kesenian tradisional dalam bentuk seni pertunjukan imajinatif.
Poin-poin pentingnya adalah melestarikan budaya Melayu melalui seni pertunjukan; menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan tokoh-tokoh lokal; mengembangkan bakat seni anak dan remaja dalam bidang musik, tari, dan teater; dan menumbuhkan kesadaran sosial; dan nilai kebersamaan melalui refleksi budaya.
“Poin-poin tersebut penting ditanamkan kepada anak-anak dan remaja di usia mereka sekarang agar mengakar dalam diri, dan tak tercerabut saat mereka dewasa, saat menghadapi kehidupan modern yang kadang kehilangan identitas dan jati diri,” kata Benie kepada Riau Pos, Rabu (28/5/2025).
Dijelaskannya, ada 32 siswa SD dan SMP di Pekanbaru dari berbagai sanggar yang ikut berperan dalam pementasan ini. Kru yang bekerja untuk pementasan tiga hari tersebut –setiap hari dua kali pementasan—sekitar 51 orang. Benie sendiri bertindak sebagai ketua yayasan yang bertanggung jawab atas pementasan ini, sekaligus sebagai sutradara, penulis naskah, dan komposer. Sementara bertindak sebagai produser adalah H Abdullah. Nama lainnya yang terlibayt adalah Fachrozi Amri (sekretaris yayasan dan manajer produksi), Fedli Aziz (dramaturgi), Eri Bob (music director), dan beberapa nama lainnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi masyarakat, juga dukungan berbagai pihak untuk pertunjukan ini,” jelas Benie lagi.(Bersambung)
Editor : Bayu Saputra