TIDAK mudah menjual buku di era digitalisme seperti sekarang. Meski banyak orang yang tetap mengatakan “lebih enak membaca buku berbentuk kertas”, namun kenyataannya penjualan buku berbahan kertas terus menurun. Para penerbit harus berhitung ketat saat akan menerbitkan buku karena minat pembeli di toko buku terus menurun. Para penulis buku genre apa pun juga kesulitan menemukan penerbit besar (mayor) karena penerbit memang sangat selektif dalam menerbitkan buku. Meski begitu, tetap ada fenomena lain yang mengusung rasa optimisme bahwa tidak sesederhana itu mengetuk palu bahwa matinya toko buku (dengan kapital besa) akan diikuti dengan matinya produk buku kertas secara keseluruhan.
Digitalisme dan harga kertas yang tinggi menjadi dua alasan mengapa penerbitan buku menjadi tersendat dan toko buku offline kembang-kempis mempertahankan eksistensinya. Dan pandemi corona pada 2020-2021 lalu menjadi alasan ketiga. Hingga kini, meski pandemi sudah lama berakhir dan secara umum ekonomi sudah mulai pulih, bisnis penerbitan buku dan turunannya tak pernah benar-benar pulih. Satu per satu toko buku yang berada di pusat perbelanjaan dan kota-kota besar tutup selamanya. Mereka ada yang beralih ke toko online atau e-commerce, tetapi ada yang benar-benar tutup dan tak melakukan kegiatan jual-beli lagi.
Beberapa toko buku offline yang tutup misalnya Books and Beyond. Toko buku ini telah menutup secara permanen seluruh cabang di akhir Mei 2023. Sebelum tutup selamanya, Books and Beyond sempat mengumumkan adanya clearance sale sampai 80% di semua produk buku yang dijualnya. Kini, toko buku Books and Beyond fokus pada penjualan online.
ksebuBaca Juga: Kaleidoskop Kebudayaan Riau 2025 (Bagian 1), Geliat Seni-Budaya yang Digerakkan Komunitas
Lalu ada Togamas. Toko buku ini eksis di beberapa kota di Jawa dengan pusatnya di Malang. Bagi masyarakat Solo, Togamas menjadi oase di tengah pusat kesenian tradisi di kota Solo tersebut. Toko buku lokal di Solo itu resmi berhenti beroperasi sejak Juli 2022, salah satu alasannya adalah pandemi yang mengakibatkan turunnya penjualan. Beberapa toko Togamas kini juga ngos-ngosan meski masih tetap eksis, misalnya di Yogyakarta dan Malang.
Toko buku Kinokuniya juga mengalami hal yang sama. Jaringan toko buku lokal asal Jepang yang berdiri sejak 1927 itu menutup gerainya di Plaza Senayan, Jakarta, sejak April 2021. Kini tinggal satu outlet saja yang berada di Grand Indonesia. Begitu juga dengan toko buku Aksara. Toko buku yang berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, juga menjadi oase di Jakarta. Hadir sejak 2001 dengan menjual berbagai buku alternatif, dua cabangnya tutup. Kini pusat toko buku Aksara buka kembali di Kemang sebagai hub-kreatif dan membuat penjualan online melalui e-commerce.
Dan toko buku Gunung Agung, salah satu toko buku legendaris, juga memilih menutup gerainya secara permanen. Setelah 70 tahun berkibar, PT Gunung Agung Tiga Belas yang menaungi toko buku Gunung Agung mengumumkan menutup semua toko atau outlet yang tersisa sepanjang 2023.
Manajemen mengatakan, keputusan tersebut diambil karena perusahaan tidak dapat bertahan dengan tambahan kerugian operasional yang semakin besar. Dalam pelaksanaan penutupan toko/outlet, kata manajemen, dalam kurun waktu 2020 sampai dengan 2023 mereka melakukannya secara bertahap dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Manajemen menyebutkan, sejak era pandemi Covid-19 pada tahun 2020, Gunung Agung telah melakukan efisiensi dengan melakukan PHK karyawan dan menutup beberapa toko/outlet di beberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, Gresik, Magelang, Bogor, Bekasi, dan Jakarta. Dan kini, toko itu tutup permanen, termasuk yang pusatnya, di Kwitang, Jakarta.
Hingga saat ini, toko buku jaringan Kompas Grup, Gramedia, yang masih belum terdengar akan menutup gerainya. Bahkan malah membuka gerai baru di beberapa kota. Di Jakarta dan kota besar lainnya Gramedia malah membuat konsep baru: menggabungkan toko buku, perpustakaan, kedai kopi, dan ruang diskusi. Beberapa toko buku lainnya seperti Periplus juga masih eksis. Salah satu cara yang dilakukan beberapa toko buku besar seperti Gramedia untuk eksis, tidak hanya menjual buku. Mereka juga menjual banyak produk lain, seperti alat tulis, alat musik, peralatan olahraga, berbagai jenis tas, dan produk lainnya yang memungkin orang datang ke toko buku bukan hanya semata untuk membeli buku. Hal ini terlihat efektif hingga kini karena toko-toko buku yang melakukan hal tersebut masih tetap eksis. Mereka juga menjual buku secara online dan e-commerce, juga e-book, terutama toko buku yang terafiliasi dengan penerbit buku.
Ambruknya banyak toko buku offline dibarengi dengan semakin banyaknya toko buku online yang memanfaatkan media sosial dan e-commerce sebagai medium untuk mendapatkan pembeli. Beberapa toko buku online yang sudah lama dan memiliki nama besar banyak mendapatkan pelanggan. Namun dengan masuknya toko offline ke pasar online ini, pertarungannya menjadi berat. Begitu juga para pelapak pribadi yang banyak menggelar dagangannya di online ini. Tapi, itulah pertarungan pasar yang memang harus dihadapi. Intinya tetap satu: buku cetak masih tetap hidup dijual dengan cara apa pun.
Secara keseluruhan, bisnis produk yang berbasis kertas, termasuk surat kabar, memang mengalami masa senja. Alasannya hampir sama. Bahan baku yang mahal, gempuran Covid-19, dan digitalisme yang tak bisa dihindari. Anak-anak muda di masa dulu yang mencintai buku dan surat kabar, berbeda jauh dengan generasi terkini yang cukup memiliki HP atau telepon pintar saja. Di telepon pintar itu, semuanya ada. Tak hanya bacaan, juga ada e-commerce yang menjual banyak produk. Selain itu, belanja online –meski sebenarnya harganya lebih mahal karena ada ongkos kirim— kini juga sudah menjadi gaya hidup. Juga faktor kepraktisan dan kemudahannya.
Lalu, apakah buku cetak dan toko buku offline akan menghilang dari muka bumi ini sauatu saat kelak? Banyak orang yakin, tapi juga banyak yang tak yakin. Di Eropa dan Amerika Serikat (AS), perkembangan penjualan buku cetak dan surat kabar cetak malah mengalami peningkatan, meski pelan. Jika beberapa waktu lalu beberapa koran yang sudah berusia tua banyak bertumbangan, kini malah banyak yang tetap eksis. Begitu juga penerbit buku cetak tetap eksis dan toko buku offline semakin banyak dikunjungi masyarakat. Kondisi ini memberikan rasa optimis bahwa masa depan produk berbasis kertas tetap punya masa depan.
Fenomena di Indonesia juga memberi setitik harapan. Generasi Z sekarang banyak yang beralih membaca buku cetak ketimbang digital. Menurut sebuah sumber, novel Laut Bercerita karya Leila S Chudori yang saat ini sudah tembus cetak ke-112, karena Gen Z yang berbondong-bondong membaca dan membelinya. Juga banyak judul buku lainnya yang banyak mengalami bestsellers. Selain itu, meski toko buku dengan kapital besar banyak yang tutup, toko-toko buku kecil yang juga menjadi ruang ngopi sambil diskusi buku, menjamur di banyak kota di Indonesia. Ini belum dihitung ruang-ruang lain yang melibatkan anak-anak muda yang gemar membeli dan membaca buku.
Ruang-ruang tersebut memberi rasa optimisme kembali bahwa buku cetak akan tetap hidup dan bisa pulih kembali seperti semula, sebelum gempuran digital sempat membuatnya down.***
Editor : Bayu Saputra