Kegiatan kebudayaan dalam bentuk diskusi sastra, pameran seni, diskusi dan bedah buku, dan yang lainnya sepanjang 2025 memberikan ruang para seniman dan penikmat seni bertemu. Dalam pertemuan itu muncul hal-hal baru tentang banyak rencana di masa depan tentang dunia kreativitas seni maupun penciptaan.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pameran “Alih Imajinasi” GHN, Galeri Hang Nadim (GHN) menginisiasi pameran seni bertajuk “Alih Imajinasi”, yang berusaha menghidupkan dialog antargenerasi dan menggugah narasi visual dari berbagai lapisan masyarakat.
Ketua GHN Furqon LW, menjelaskan, lewat pameran yang digelar selama 20 hari itu sejak 15 Juni 2025 lalu itu, seakan mengajak penikmat seni membaca sebuah perubahan arah dalam berimajinsi. Apakah siswa SD kini sama model imajinasinya dan bagaimana mereka mengubahnya menjadi karya seni. Menurutnya, perubahan dan pergeseran itu nyata. Lukisan umum siswa SD bahkan SMP, dengan ciri khas lukisan dua gunung, matahari di tengah dan jalan yang membelah sawah, kini tidak ditemukan lagi. Ini bisa dilihat lewat belasan dari 40 karya yang dipamerkan yang merupakan karya seorang siswa SD dan sejumlah siswa SMP.
Furqon juga mengatakan, momentum krusial juga bahwa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pemajuan Kebudayaan Melayu Riau dalam proses legislasi di DPRD hingga fenomena artificial inteligent (AI) yang menjadi pemantik awal konsep tema pameran ini.
‘’Tiga fenomena pada penanda kedua ini, sangat berpengaruh langsung dalam geliat berkesenian di masyarakat, termasuk GHN sekarang dan ke masa depan. Di tengah situasi anomali seperti inilah GHN tetap berkomitmen menyelenggarakan pameran sebagai bentuk tanggung jawab sebuah institusi seni yang memproduksi iven-iven seni,’’ sebut Furqon.
Tidak kurang dari 40 karya dipamerkan pada “Alih Imajinasi” ini. Sebagai tuan rumah, peserta asal Pekanbaru tetap dominan. Para seniman dari Kota Bertuah yang ambil bagian termasuk Dewi Purwanti, Wina dan Khansa, Alza Adrizon, Dasril, Fatur, Jati Wahyono, Metrizal, Parlindungan R, Roni Sarwani, dan Raditya Muhammad. Dari luar Pekanbaru, ada nama Santalis dari Tembilahan dan Syafrizal dari Pelelawan. Sementara itu seniman dan perupa dari luar Riau ada Afuukatz dari Bantul (Yogyakarta), Ahmad Ash Shidiq dari Padangpanjang (Sumatra Barat/Sumbar), Alberto dari Padang (Sumbar), Guntur Anggada dari Malang (Jawa Timur/Jatim), Sjafril dari Pasuruan (Jatim), Suksma Jati dari Klaten (Jawa Tengah), Sylvia Wulandari dari Tangerang (Banten), dan Alif dari Palembang (Sumatra Selatan).
Pameran ini cukup menaik minat peserta dari kalangan mahasiswa, juga siswa. Tercatat ada lima mahasiswa dari ISI Padangpanjang, yaitu Firly Yasmin I, Katharizah Hura, Nadhiva Fadillah, Salsabila Azzahra S, dan Shintia. Kemudian Ibnu Faturrahman dari Universitas Lancang Kuning (Unilak), Riau. Dua mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) Ilmam Hakim F dan Isra Fakhrusy S, dan satu dari Universitas Riau (Unri) Nur Daliah. Lalu dua perupa dari kalangan mahasiswa juga datang dari Telkom University Bandung, yaitu Muhammad Fajar R dan Restu Ayuningtiyas L. Dari kalangan siswa SMA juga lumayan ramai. Ada Alecsa RA dan Elvin Afriliansyah N dari SMAN 4 Pekanbaru, Desya Charlota Iswanto dari SMA Santa Maria Pekanbaru, serta Jollene Audreynata dan Yunica Chan dari SMA Darma Yudha Pekanbaru.
Ada juga karya kolektif, yakni karya Cassy Theddy P, Sandra Angelee, Chastine Michaela Chua, Gracia Winnie Susanto dan Yunica Chan dari SMA Darma Yudha. Masih dari sekolah yang sama, karya seni rupa Jollene, Khairunnisa, Jillian dan Kayla turut ambil bagian pada pameran ini. Sementara Syakirah Putri Fatisya menjadi peserta termuda, yaitu SD Muhammadiyah 6 Palembang. Dua peserta lainnya adalah Artrungu, kemudian Adewi yang homeschooling.
Pemilihan Duta Baca Riau
Senin (30/6/2025) lalu, Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Riau menyelenggarakan final Pemilihan Duta Baca Riau 2025. Ada lima peserta yang terpilih maju ke final setelah melalui proses lumayan panjang. Mulai dari seleksi berkas –termasuk menulis esai tentang dunia buku dan baca-- yang diikuti 30-an peserta, kemudian dipilih menjadi 12 peserta yang layak diseleksi tim panelis/juri. Setelah ujian tertulis dan wawancara pada 25 Juni, terpilih lima peserta yang maju ke babak final.
Dalam babak final yang juga perayaan sederhana 17 tahun berdirinya Perpustakaan Soeman Hs, dihadiri Kadispersip Riau Dra Mimi Yuliani Nazir Apt MM, Bunda Riau Henny Sasmita Wahid, mantan Gubernur Riau Rusli Zainal, keluarga almarhum Soeman Hs, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr Umi Kulsum MHum, Penanggung Jawab Kegiatan dan Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Indri Kusuma, daan Ketua Panitia Pelaksana Delviana Fransiska SSos MIKom, para pegiat literasi dari beberapa komunitas literasi.
Setelah seleksi pemberkasan, 12 nama yang lolos dari pemberkasan adalah Wahyu Ocktafialni, Azzahra Maulida Risanda, Dea Gita Ningsih, Sadriadi, Ade Puspita Ningsih, Karin Novita Rahmadani, Nadia, Pusvi Defi, Alvaretta Vito Dhinosa, Fadilah Sari, M Alfis Syahri, dan Siti Aimatullah Mahmuda. Mereka berasal dari berbagai daerah di Riau. Yakni dari Pekanbaru, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Dumai, dan Pelalawan. Latar belakangnya juga beragam. Ada yang sudah lama menjadi pegiat literasi, mahasiswa yang mencintai literasi, juga pegawai swasta di bidang perbukuan, dll.
Lalu, mereka yang lolos ke babak final adalah Wahyu, Azzahra, Dea, Ade Puspita, dan Karin. Pada acara puncak, setelah melihat paparan para peserta dan jawaban mereka atas pertanyaan para panelis –plus nilai ujian tertulis dan wawancara— akhirnya Wahyu terpilih sebagai Duta Baca Riau menggantikan Wamdi yang sudah purnatugas. Terpilihnya Wahyu, selain dari tabulasi nilai yang didapat, juga hasil diskusi yang lumayan ketat dari para panelis –Prof Dr Junaidi, Hary B Koriun, Vivien Anjadi Suwito-- karena kelima finalis punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kadispersip Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan, pemilihan Duta Baca Riau ini penting dalam membantu pihaknya dalam mengampanyekan dunia literasi kepada masyarakat, termasuk kegemaran membaca. Duta Baca Riau juga akan menjadi tandem Bunda Literasi Riau, jabatan yang melekat pada istri Gubernur Riau, dalam hal ini Henny Sasmita Wahid, saat turun ke masyarakat menyampaikan dan mengampanyekan literasi dan kecintaan terhadap buku, dan kegiatan lainnya.
“Saya yakin, semua finalis adalah mereka yang selama ini sudah berjuang di bidang literasi dengan cara mereka masing-masing. Sekarang kami pinjam tenaganya untuk membantu pemerintah dalam memasyarakat dunia literasi dan minat baca kepada masyarakat,” ujar mantan Kepala Dinas Kesehatan Riau tersebut.
Diskusi Batik Talang Mamak
Sepasang sastrawan suami-istri dari Yogyakarta, Raudal Tanjung Banua dan Nur Wahida Idris, membangun ide pemberdayaan masyarakat Talang Mamak lewat karya sastra dan batik. Selain menyuarakan proses pembangunan yang tak adil bagi masyarakat tradisional, keduanya juga menggali potensi ekonomi dari kekayaan budaya. Keduanya sering bolak-balik ke sana dan menghasilkan karya. Raudal dengan tulisan-tulisannya berupa laporan perjalanan, cerpen, dan puisi, sementara Ida –begitu Nur Wahida dipanggil—mengajari para perempuan Talang Mamak mencanting (membantik).
Ida berhasil menciptakan dua motif batik khas Talang Mamak, yakni Tolak Bala dan Padi Ladang. Dua motif itu hasil dari perenungan Ida selama tinggal di Talang Mamak beberapa waktu. Di sana dia mempelajari dan menyerap kebiasaan sehari-hari masyarakat melalui simbol-simbol dan filosofi hidup mereka. Mulai dari cara bertani, kepercayaan tradisional mereka, upacara-upacara pengobatan, tolak bala, dan sebagainya. Pengamatan dan perenungan itu berhasil dituangkan dalam desain-desain yang dibuatnya dan menghasilkan dua motif batik tersebut.
Perjalanan Raudal dan Ida itu diceritakannya dalam sebuah diskusi bertajuk “Diskusi Batik dan Perjalanan ke Talang Mamak” yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pemantauan Akuntabilitas Berkelanjutan (PPAB) di Rumah Kopi Tanah Merah, Kabupaten Kampar, pada 9 Agustus 2025 lalu. PPAB didirikan oleh Andiko Sutan Mancayo, seorang pengacara yang banyak melakukan advokasi terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat adat yang terpinggirkan dalam pembangunan. PPAB berpusat di Batam, Kepulauan Riau, namun banyak melakukan advokasi di banyak wilayah di Indonesia, bahkan juga di beberapa negara di dunia.
“Saya resah melihat ketidakadilan di masyarakat dalam proses pembangunan yang sebenarnya baik. Terutama masyarakat terpencil yang susah mendapatkan akses dibanding kita yang tinggal di kota. Salah satunya adalah masyarakat Suku Talang Mamak,” kata Andiko saat memberi pengantar diskusi.
Andiko yakin, karya sastra yang ditulis Raudal bisa menyampaikan kecemasan yang dialami masyarakat Talang Mamak. Paling tidak suara-suara masyarakat yang kesulitan tersebut bisa dibaca dan didengar masyarakat. Pada fase selanjutnya, Raudal melihat masyarakat Talang Mamak punya potensi lain yang nantinya bisa dikembangkan dari sisi ekonomis. Yakni batik. Raudal kemudian membawa istrinya, Ida –yang merupakan sarjana seni bidang batik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta-- untuk masuk lagi ke Talang Mamak dalam perjalanan selanjutnya. Dari sanalah dua motif batik tersebut lahir dari tangan Ida.
Raudal masuk ke permukiman Suku Talang Mamak, yakni di Desa Talang Sungai Parit, Kecamatan Rakit Kulim, pada tahun 2023. Dan sejak itu, dia sudah datang ke sana sebanyak lima kali. Tiga kali untuk kebutuhan tulisan –berupa catatan perjalanan yang disebarkan ke beberapa media cetak maupun daring, juga dalam bentuk lain seperti cerpen dan puisi—dan dua kali menemani Ida untuk mencari ide membuat batik, juga melakukan pelatihan batik bagi perempuan di desa tersebut. Seluruh biaya yang dikeluarkan dalam perjalanan itu dibiayai oleh Andiko lewat PPAB.
“Saya sudah lama mendengar nama Talang Mamak, sebagaimana orang Sakai dan Kubu. Tapi sebelumnya hanya mendengar selintas-selintas saja, dan itu justru mmbuat rasa penasaran. Jadi ketika ada tawaran untuk datang ke Talang Mamak, saya merasa deja vu. Apalagi perjalanan ke daerah terpencil selama ini menjadi minat saya,” ujar Raudal saat dihubungi Riau Pos, Sabtu (6/9/2005).
Diskusi Karya Sastra Suku Seni
Para September-November 2025, Suku Seni Riau mengadakan diskusi beberapa buku karya sastra. Yakni novel Ingatan Ikan-Ikan karya Sasti Gotama; kumpulan puisi Hindia, Sebentang Peta Kumal karya Boy Riza Utama; kumpulan puisi Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra; kumpulan cerpen Cerobong Tua Terus Mendera karya Raudal Tanjung Banua; dan naskah drama Dilanggar Todak karya Marhalim Zaini. Acara ini didukung Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan.
Diskusi novel Sasti menampilkan dua pembicara, yakni akademisi Alvi Puspita dan Hary B Koriun pada Selasa (9/9/2025). Diskusi buku Boy Riza menampilkan Murparsaulian dan Joni Hendri pada Selasa (23/9/2025). Kemudian diskusi kumpulan cerpen Cerobong Tua Terus Mendera menampilkan Dr M Badri dan Olyrinson sebagai pemateri pada Sabtu (4/10/2025). Diskusi Dengung Tanah Goyah menampilkan Redovan Jamil MPd dan Dr Roziah pada Selasa (23/9/2025). Sedangkan pembicara diskusi buku Dilanggar Todak adalah Deni Afriadi dan Pinto Anugrah pada Rabu (13/9/2025).
Dalam lima kali diskusi itu, hadir sastrawan, pecinta sastra, dan pegiat budaya. Mereka antara lain Murparsaulian, Andreas Mazland, WS Djambak, Dedi Syahputra, Bambang Karyawan, Laposa Mirdja, Mulyati Umar, Wahyu Abla, Joni Hendri, Laposa Mirdja, dan yang lainnya. Anton WP, Pramudya Pangestu, Azzahra Risanda, Ilham Ramadhan, Icihelsi, Muhammad Reihan, dll. Dalam kegiatan ini, 15 peserta terpilih di setiap diskusi mendapatkan buku-buku yang didiskusikan yang diberikan secara gratis.
Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini MA, menjelaskan, sudah sejak lama komunitas yang dibentuknya ini melakukan berbagai kegiatan, termasuk diskusi dan bedah buku. Tahun ini akan ada bedah 5 buku hingga akhir tahun. Menurutnya, kegiatan-kegiatan seperti ini adalah salah satu cara menumbuhkan minat baca, memahami isinya dari berbagai sudut pandang, dan menjadi pemantik diskusi karena pembaca memiliki tafsir yang berbeda terhadap karya sastra.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Harapan kami, semoga di masa depan kegiatan seperti ini terus berlanjut,” jelas lelaki yang juga Ketua Asosiasi Seniman Riau (Aseri) ini.***
Editor : Bayu Saputra