Salah seorang penggerak Komunitas Malam Puisi Pekanbaru, Cindy Neo, menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya. Puisi-puisi yang terhimpun memiliki tema besar tentang perjalanan sunyi mencari jati diri.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - DUNIA puisi selalu memberi ruang kepada siapa pun untuk berekspresi dan berkreasi dalam meluahkan perasaan dan pikiran. Puisi bisa lahir dari momen apa saja. Bisa dari tafsir terhadap perjalanan hidup pribadi seseorang, orang lain, kenyataan sosial, dan sebagainya. Tema-temanya pun beragam. Bisa spiritual, cinta dan kasih sayang dalam arti luas, perjalanan, alam dan seluruh persoalannya, dan banyak lagi. Puisi bisa lahir dari pencarian mendalam, bisa juga secara spontanitas. Masing-masing penyair punya cara tersendiri dalam melahirkan karya puisinya.
Pada November 2025 lalu, Cindy Neo –nama pena dari Sindy Aprianti—telah meluncurkan buku puisinya, Dalam Sunyi, Aku Pulang. Ada 92 puisi yang termaktub dalam buku setebal 136 halaman tersebut, yang ditulis dalam rentang panjang dalam proses penulisan sang penyair. Pada 21 Desember 2025, buku ini diluncurkan di Kopi Uwo, Pekanbaru. Penyair Kunni Masrohanti menjadi pembedah dalam acara itu, yang dihadari para pecinta puisi seperti Murparsaulian, Bambang Kariyawan, Sausan Alward, Mulyati Umar, Eko Ragil, Murparsaulian, Laura Rafti, Muhammad Asqalani Nasution, Ali Imran, Dedi Saputra, Wahyu Abla, Dea Gita, dll.
Menurut Cindy, puisi-puisi yang termuat dalam buku ini ditulis dalam waktu yang variatif. Puisi-puisi yang paling awal dalam ditulis beberapa tahun sebelum buku ini terbit. Proses kreatifnya lahir dari pengalaman personal, perenungan dalam kesunyian, dan proses saat pulang dari retreat puasa bersama Tiga Fakir --guru-guru spiritualnya pada saat program puasa-- dan juga respons terhadap peristiwa-peristiwa kecil yang sering luput dari perhatian. Biasanya dia mencatat gagasan secara spontan, lalu membiarkannya “mengendap” sebelum dimatangkan menjadi puisi utuh.
Cindy mengaku mulai menulis puisi sejak lama. Sejak SD sudah suka berkhayal dan menulis, salah satunya puisi. Tetapi secara lebih serius sekitar beberapa tahun ini, terutama tahun 2025 terakhir ketika dia merasa puisi bukan sekadar ekspresi sesaat, melainkan ruang perenungan dan pencarian makna hidup untuk mengespresikan proses perjalanan batinnya. Keinginan membukukan puisi muncul ketika dia menyadari bahwa tema-tema yang dia tulis memiliki benang merah. Prosesnya cukup panjang: memilih naskah, menyunting ulang, menyusun urutan puisi agar memiliki alur rasa, hingga akhirnya siap diterbitkan pada akhir 2025
“Kendala yang saya hadapi saat berusaha mengumpulkan dan membukukan puisi-puisi tersebut, yang paling utama adalah proses kurasi, memilih puisi yang benar-benar layak dimasukkan. Selain itu, keterbatasan waktu dan penyesuaian dengan proses penerbitan juga menjadi tantangan tersendiri,” ujar perempuan kelahiran Pekanbaru 32 tahun lalu ini kepada Riau Pos, Rabu (18/2/2026).
Dalam persiapan untuk membukukan puisi-puisi tersebut, dia dibantu beberapa sahabat dan rekan sesama penulis. Mereka turut memberi masukan, baik dalam bentuk diskusi maupun pembacaan awal naskah. Dukungan keluarga juga sangat berarti dalam proses penyelesaiannya. Dijelaskannya, tidak ada target yang bersifat material dalam penerbitan buku ini. Harapan Cindy sederhana: buku ini dapat menemukan pembacanya dan memberi ruang refleksi, terutama bagi mereka yang pernah mengalami pergulatan batin dalam kesunyian.
“Secara umum, puisi-puisi dalam buku ini memiliki keterkaitan tema, yakni tentang kesunyian, perjalanan batin, pulang, baik secara fisik maupun spiritual. Namun di dalamnya juga terdapat subtema seperti kehilangan, harapan, dan penerimaan,” ujar putri pasangan Junaidi dan Siti Juleha ini.
Cindy mengaku, saat buku itu terbit, lalu diluncurkan –dan dibaca oleh beberapa orang yang hadir saat peluncuran-- ada rasa syukur dan haru dalam dirinya. Setiap pembaca membawa tafsirnya sendiri, dan itu memperkaya makna puisi-puisi tersebut di luar apa yang dia bayangkan saat menulisnya. Dan yang paling penting, dia merasa melepaskan dirinya yang lama dan menemukan diri yang baru lewat puisi-puisi dalam buku ini.
Kata Cindy lagi, buku puisinya ini didistribusikan secara terbatas, terutama kepada teman-teman terdekat dan keluarga. Namun, bagi yang menginginkannya, bisa melalui pemesanan langsung maupun pada momen-momen kegiatan literasi. Ke depan, katanya, terbuka kemungkinan untuk distribusi yang lebih luas. Saat ini, juga bisa didapatkan di market place.
Dalam menulis puisi, Cindy mengidolakan Agus Noor. Agus adalah sastrawan multitalenta. Selain seorang penyair, dia juga cerpenis, juga penulis dan sutradara teater. Agus tinggal di Yogyakarta. Cindy juga mengidolakan guru spiritualnya di tempat belajar dan berdiskusi, yaitu Ustaz Muhammad Nur Jabir –yang menulis pengantar dalam bukunya. Nur Jabir adalah salah satu penulis yang juga pendiri Rumi Institute.
Mengenai pola-pola dan gaya berpuisi, sejauh ini dia berusaha menulis mengalir dengan apa yang dia rasakan, dilihat, dan peristiwa-peristiwa perjalanan batinnya. Cindy berusaha untuk jujur dalam tulisan dan pengalaman dia berdasarkan apa saja yang telah dia jalani dalam menemukan dirinya.
Dalam prosesnya sebagai penyair, Cindy pernah menjadi penggerak Komunitas Malam Puisi Pekanbaru. Komunitas Malam Puisi Pekanbaru, di masanya, pernah sangat aktif dalam menggelar dan menginisiasi pembacaan puisi di kafe-kafe. Anggotanya lumayan banyak. Dari sekadar baca puisi yang berpindah dari kafe ke kafe, beberapa aktivisnya kemudian banyak yang terjun ke dunia penulisan di berbagai genre sastra. Tetapi tetap banyak yang masih di jalur puisi. Mereka antara lain Alpha Hambaly, Boy Riza Utama, May Moon Nasution, Muhammad Irsyad Jaelani, Anju Zasdar, Reky Arfal, Redho, Nurdiansyah, dll. Cindy juga pernah masuk di Komunitas AIS (Asqa Imajination School) yang diinisiasi oleh Muhammad Asqalani Nasution.
“Selebihnya saya mengalir saja, menjadi seapaadanya saya,” ujar perempuan yang kini memulai bisnis dekorasi dengan bendera Lucky Decoration dan kafe Selatan Coffee tersebut.
Hingga kini Cindy masih terus menulis apa pun, sebagiannya adalah puisi. Dia mengaku, menulis adalah proses belajar yang tidak pernah selesai dan bentuk dari terapi dirinya. Soal pembukuan kembali, katanya, sangat terbuka kemungkinan jika naskahnya sudah cukup matang.
“Saya persembahkan buku ini untuk diri saya sendiri, di mana saya menemukan diri saya dalam versi yang baru dan jujur. Juga saya persembahkan kepada pembaca serta tangan-tangan yang bersedia dan siap menerima buku ini seapadanya, bahwa melalui kesunyian segala sesuatu memiliki jawaban-Nya,” alumnus Universitas Lancang Kuning, Riau, ini.
Selain Muhammad Nur Jabir yang memberi pengantar, beberapa teman dan penyair juga memberikan komentar atas lahirnya buku ini. Salah satu rekan Cindy saat menggerakkan Malam Puisi Pekanbaru, Muhammad Irsyad Jaelani, menjelaskan, di tengah riuh kefakiran terhadap kepercayaan berjalannya aktivitas sosial, Cindy menawarkan hening, kesunyian, dan menulis puisi sembari mengajak kita untuk menyingkir dari riuh dan gemuruh kekacauan sosial hari ini.
Irsyad mencontohkan puisi berjudul “Perjamuan Malam, Ruang Kosong” yang ditulis Cindy yang mengingatkannya pada puisi-puisi zikir yang ditulis penyair Jawa Barat, Acep Zamzam Noor, yang tegas dan lirih mengejar keheningan. Kata Irsyad, Cindy seperti menyelam pada bait-bait sufistik itu sendiri.
“Puisi-puisi dalam buku ini seperti hendak menyuruh kita berhenti sejenak mencari tempat di ruang ramai dan penuh desakan berebut panggung sosial. Cindy membawa kita pulang. Ia memulainya, barangkali dengan tertatih, bahwa penglihatannya sampai pada apa yang pernah disampaikan Chandra Malik jika perjalanan paling jauh adalah perjalanan menuju diri sendiri,” ujar alumnus magister Universitas Riau ini.
Pada bagian lain Kunni Masrohanti mengatakan, puisi-puisi Cindy tidak hanya menawarkan imajinasi dari ruang-ruang sunyi, tetapi juga mimpi tanpa basa-basi. Juga tentang rasa, cerita, dan penjaga ruang-ruang lain di langit semesta ini. Kata-kata dibiarkan berlari begitu cepat, tapi bukan tanpa jerat. Ada isyarat agar kita berpikir lebih hebat.
“Ia menawarkan lebih dari puisi agar kata-kata yang hadir benar-benar memberi arti,” kata penyair perempuan Riau ini.***
Editor : Bayu Saputra