Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Diskusi Revitalisasi Musik Dawai Melayu Kualitas Karya Kuat, Pasar Belum Mendukung

Hary B Koriun • Minggu, 1 Maret 2026 | 14:24 WIB

Para pembicara, Kadis Pariwisata Provinsi Riau Tekad Perbatas Satria Dewa (tengah berpeci), dan para peserta FGD “Merawai Dawai: Upaya Revitalisasi Musik Dawai Melayu sebagai Identitas Budaya Riau
Para pembicara, Kadis Pariwisata Provinsi Riau Tekad Perbatas Satria Dewa (tengah berpeci), dan para peserta FGD “Merawai Dawai: Upaya Revitalisasi Musik Dawai Melayu sebagai Identitas Budaya Riau

Alat musik tradisional Melayu buatan para pengrajin Riau secara kualitas sangat kuat dan bisa bersaing. Sayangnya pasar belum mendukung. Perlu dukungan dan political will dari pemerintah.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - BERTEMPAT di Auditorium Riau Creative Hub (RCH), diskusi kelompok terpumpun atau forum group discussion (FGD) tentang perkembangan alat musik tradisional Melayu bertajuk “Merawai Dawai: Upaya Revitalisasi Musik Dawai Melayu sebagai Identitas Budaya Riau” berlangsung menarik. Diikuti lebih 30-an peserta yang hampir semuanya berpuasa Ramadan, diskusi yang menghadirkan dua seniman pengrajin alat musik tradisional Melayu, Tengku Ramadhan dan Irawan Robhitah, dan dipandu oleh Bens Sani, bejalan serius, seru, akrab, dan penuh canda.

Hadir dalam diskusi ini Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Riau, Tekad Perbatas Satria Dewa. Beberapa seniman, mayoritas musisi tradisional Riau, juga hadir. Mereka antara lain Zalfandri Zaenal (Matrock), Taufik Yendra, Wan Harun Ismail, Giring Fitrah, Hafiz Tisyan, Iwan Landel, Yunat Limuno, Nuril Fahmi, dan beberapa seniman lainnya. Dalam kesempatan itu, Tekad Perbatas memberi apresiasi yang tinggi dengan diselenggarakannya kegiatan ini. Menurutnya, di tengah sempitnya fiskal Pemprov Riau karena berbagai pengetatan anggaran, upaya para seniman melakukan kegiatan dengan berbagai cara, termasuk mendapatkan dana dari berbagai pihak, perlu diapresiasi tinggi.

Meski dengan anggaran yang tak terlalu besar, kata dia, Dispar Riau tetap mendukung kegiatan para seniman genre apa pun. Sebab, kegiatan seni dan kebudayaan tak boleh terhalang oleh kecilnya anggaran dari pemerintah. Dia berharap para seniman dan budayawan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak agar kegiatan berkesenian dan berkebudayaan terus berlanjut.

“Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada Bang Rakis Fadli dan tim yang terlibat dalam acara ini. Di tengah keterbatasan fiskal pemerintah daerah, Bang Rakis bisa menyelenggarakan kegiatan seperti ini dengan dana dari pemerintah pusat,” ujar lelaki asal Siak ini.

Kadispar juga menjelaskan, salah satu komiten Pemprov Riau dalam memberi ruang kepada para seniman dan budayawan untuk berkreasti adalah didirikannya RCH. Sebenarnya, katanya, kegiatan seni dan budaya berada di lingkup Dinas Kebudayaan Riau. Dispar sendiri tempat untuk “menjual” hasil karya kreatif seniman dan budayawan tersebut. RCH dibangun untuk men-display karya tersebut.

“Jadi, sebenarnya Disbud dan Dispar itu tak bisa dipisahkan. Saling berkait kelindan. Seniman dan budayawan berada di dua dinas tersebut. Bagian pelatihan dan fungsi pembinaan atau hulunya ada di Disbud, sedang kami di Dispar berada pada bagian hilir, yakni yang membantu memberi ruang untuk ‘menjual’-nya,” kata mantan Kadispar Kabupaten Siak ini.

FGD ini diinisiasi oleh Rakis Fadli, komposer dari grup musik Melayu, Buloh Mudo, yang berhasil mendapatkan bantuan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Selain FGD ini, kata Fadli, masih ada dua kegiatan lain, yakni pelatihan musik tradisional yang melibatkan siswa sekolah, dan pementasan karya di Anjung Seni Idrus Tintin.

Menurut Fadli, kegiatan diskusi seperti ini penting bagi para musisi dalam memahami bagaimana kerja orang-orang yang membuat alat musik tradisional yang secara tidak langsung melakukan revitalisasi. Meski musik tradisional Melayu dianggap bukan asli musik asal jazirah Melayu karena berasal dari jazirah lain, Arab dan Eropa, namun saat ini alat-alat musik tersebut menjadi identitas Melayu secara umum, khususnya Melayu Riau. Revitalisasi ini penting dilakukan, katanya, agar masa depan musik tradisional Melayu Riau terus hidup dan berkembang sampai kapan pun.

“Tujuan revitalisasi ini adalah agar musik tradisional Melayu Riau tetap terjaga, berkesinambungan, dan eksis. Selain kerja-kerja seniman tradisional yang terus melakukan upaya merawat dan mengembangkannya, kami juga berharap keterlibatan pemangku kepentingan seperti pemerintah dan swasta. Ini adalah kebanggaan kita bersama sebagai orang Melayu, tanpa harus mempermasalahkan dari mana musik tradisional Melayu ini berawal atau berasal,” ujar Fadli.

***

DALAM diskusi itu, Tengku Ramadhan yang sudah tunak membuat alat musik tradisional Melayu, terutama gambus, sejak 2001, menjelaskan, awalnya dia adalah musisi tradisional yang bisa memainkan hampir semua alat musik tradisional, mulai dari gambus, marwas, rebab, dll. Dalam perjalanannya sebagai musisi, dia merasa sedih karena alat-alat musik yang dimiliki para musisi hanya itu ke itu. Bahkan, ibaratnya, kalau dia gendang, sudah bolong pun masih dipakai. Ini saking sedikitnya peralatan. Mau membeli, harganya mahal. Dari situ, dia terpikir bagaimana bisa memproduksi alat-alat musik sendiri, dan kalau bisa dijual ke musisi lainnya.

“Semua berawal dari kesedihan saya. Saya miris, para musisi tradisional Melayu, setiap tampil di acara apa pun, alat-alatnya banyak yang sudah lama dan rusak. Maka, pelan-pelan, saya belajar membuat alat-alat tersebut sejak tahun 2001. Alhamdulillah sampai sekarang masih memproduksi,” ujar Ramadhan.

Menurutnya, kendala yang dihadapi sebenarnya tidak terlalu besar. Alat musik gambus misalnya, bahan bakunya banyak. Bisa kayu nangka, akasia, atau mahoni. Yang jadi persoalan adalah dana produksi. Dia harus menunggu salah satu alat musiknya terjual, baru bisa memproduksi yang baru lagi. Ini terjadi karena penjualannya masih kurang. Namun, tak lama setelah itu, dia banyak memproduksi karena permintaan banyak. Sejak memproduksi gambus hingga 2005 adalah masa puncak penjualan. Banyak permintaan dari berbagai pihak kepadanya.

Tentang bahan baku dari kayu apa pun, Ramadhan tak takut sound (suara/nada) yang dihasilkan akan berbeda. Menurutnya, dari bahan apa pun, yang menjadi kunci adalah pembuatannya. Jika dibuat dengan baik sesuai standar, suara tak akan berubah. Di masa-masa awal, dia juga banyak mendapatkan masukan dari para musisi yang membeli alat darinya. Dari sana dia terus memperbaiki produksi berikutnya. Tahapan ini menurutnya penting karena para musisilah yang memakai alat buatannya, jadi dipastikan masukan mereka akan memperbaiki kualitas produksinya.

Setelah tahun 2005, kata Ramadhan, grafik penjualan alat musiknya turun-naik. Namun dia terus menekuninya dan berharap tetap ada rezeki dari sana. Pada posisi sebagai pengrajin alat musik ini, Ramadhan berharap ada semacam kebijakan dari pemerintah, terutama yang mengurusi kesenian, banyak membuat iven musik Melayu. Dia melihat, potensi besar sebenarnya ada di sekolah-sekolah. Di masa awal hingga 2005, kebanyakan karyanya diserap di sekolah-sekolah karena banyaknya iven musik Melayu yang diadakan pemerintah untuk anak sekolah. Namun setelah itu kondisinya turun-naik. Tak banyak lagi iven anak-anak sekolah yang dibuat pemerintah.

Dalam strategi penjualannya, kata Ramadhan, selama ini masih dilakukan secara tradisional juga, yakni ke para pemusik. Atau malah menunggu orderan dari para pemusik tersebut. Dia belum menggunakan model kekinian, salah satunya memanfaatkan teknologi media sosial. Dia berharap para musisi terjun ke masyarakat mengajak anak-anak dan remaja, dan mengajari mereka bermain musik tradisional agar musik Melayu ini tetap lestari dan terjadi regenerasi.

“Imbasnya tentu ya penjualan alat musik Melayu bisa terus terjaga,” katanya sambil tertawa.

***

PADA bagian lain, Irawan Robhitah, menjelaskan, dia menekuni sebagai pengrajin alat musik tradisional Melayu ini, terutama gambus, sejak 2014. Awalnya dia adalah musisi yang tergabung dalam sebuah band. Sambil kuliah di Universitas Islam Riau (UIR), dia menjadi penjaga salah satu studio band di Pekanbaru. Lelaki yang dipanggil Robi oleh koleganya ini punya cita-cita sederhana, yakni agar alat musik tradisional dianggap setara dengan alat musik modern yang terus berkembang dan pangsa pasarnya lebih luas. Ini terlihat dari apa yang dikerjakannya. Selain membuat alat musik gambus, Robi juga membuat gitar akustik.

Di tengah kesibukannya sebagai intrukstur di Sekolah Musik Purwacaraka, membuat alat musik yang awalnya sekadar hobi baginya, kini sudah menjadi kebutuhan dan pekerjaan. Awalnya dia memang membuat gitar akustik. Pasar gitar akustik ini lebih besar ketimbang alat musik tradisional seperti gambus. Namun, pada suatu waktu, ada pelanggannya yang minta dibuatkan gambus. Dia kemudian mencari referensi tentang gambus ini dan menemukan sebuah skripsi salah seorang mahasiswa musik di UIR yang membahas tentang gambus buatan Tengku Ramadhan.

“Dari skripsi itu, kemudian saya mempelajari apa yang sudah dilakukan oleh Bang Tengku Ramadhan. Dari sana saya mengembangkan apa yang dibuat Bang Ramadhan. Jadi, secara tak langsung saya ini muridnya Bang Ramadhan,” ujarnya.

Dari tampilan, gambus yang dibuat Robi memang lebih artistik dan futuristik dari buatan Ramadhan yang memang cenderung model lama. Namun secara fungsi, sama, tak ada bedanya. Robi juga mengembangkan gambus buatannya dengan memberikan grib atau kolom pada tungkai gambus seperti pada gitar biasa. Ini dilakukan untuk membantu para pemula yang ingin belajar gambus agar lebih mudah menentukan nadanya. Sebab, pada gambus lama, nada dicari berdasarkan insting, dan dengan adanya kolom-kolom itu bisa memudahkan para pemula untuk mengingat letak nadanya.

Dari awalnya coba-coba, Robi malah terus mengembangkan gambus buatannya berdasarkan masukan dari para pembelinya. Sama seperti yang dilakukan Ramadhan, Robi juga menjadikan masukan para musisi yang membeli sebagai bahan untuk perbaikan gambusnya. Yang terjadi, selama 10 tahun membuat gambus, Robi mengaku masih dalam tahapan riset untuk terus melakukan perbaikan. Setelah nanti dianggapnya cukup, katanya, baru dia akan memproduksi dalam jumlah besar, minimal 10-15 gambus per bulannya.

Robi terlihat cukup sabar dalam membangun pangsa pasar bagi karyanya. Dia melakukan riset kecil-kecilan pada masyarakat tentang pasar gambus ini. Kesimpulannya, dia yakin, di Kota Pekanbaru, belum tentu dalam satu RT, RW, atau kelurahan, ada kelompok musik tradisional Melayu yang salah satunya menggunakan gambus. Mungkin di tingkat kecamatan baru ada. Dari sana dia berusaha memperkenalkan lebih dulu musik Melayu ini kepada siapa pun agar mereka tahu. Setelah itu berusaha agar mereka menyukainya, kemudian memainkannya. Nah, dalam posisi mau belajar dan memainkan inilah dia mulai masuk pada produk yang dibuatnya.

“Logikanya saja, kalau musisinya sedikit, pasti akan sulit mengembangkan alat musiknya. Tapi jika banyak yang memainkannya, pasti akan banyak permintaan. Menurut saya, ini soal masa depan musik tradisional Melayu sendiri, bukan hanya hari ini. Harus ada edukasi yang dilakukan terus-menerus agar musik tradisional Melayu diminati dan berkembang lebih luas,” jelasnya lagi.

Bagi Robi, musisi adalah mitra. Tanpa mereka, alat musik yang dibuatnya –juga buatan Ramadhan dan pengrajin lainnya di berbagai daerah di Riau— tidak akan terserap pasar. Selain mitra sebagai pembeli, Robi juga menjadikan musisi sebagai “rekanan” dalam mengembangkan karyanya agar lebih baik. Itulah mengapa dia sangat ingin para musisi memberikan masukan terhadap gambus buatannya. Kata dia, jika ekosistem seni tradisional adalah kura-kura, maka musisi adalah cangkangnya. Jika sang kura-kura ingin mempersar badannya, maka cangkangnya yang lebih dulu harus dikembangkan.

“Salah seorang musisi pernah mengeluh ke saya, sering ketika perform, gambusnya berulah. Pengatur nadanya sering turun yang membuat sound-nya berubah. Persoalan seperti ini jamak terjadi dan harus diantisipasi dari awal. Ini menjadi masukan besar bagi saya untuk mengembangkan gambus yang saya buat agar lebih baik, presisi, dan kesalahannya minimalis saat dipakai,” jelas lelaki yang sudah memiliki toko sendiri untuk mendisplai karyanya ini.

Untuk mengembangkan pasar ke depan, Robi mendengarkan saran dari para peserta diskusi untuk menggunakan media-media modern, seperti media sosial. Menurutnya, hal itu akan dicobanya agar jangkauan pasar karyanya lebih luas. Selama ini, katanya, beberapa musisi dari Malaysia atau Singapura juga pernah membeli alat musik buatannya, meski jumlahnya masih terbatas. Menurutnya, ekosistem musik tradisional Melayu di Riau belum terjalin dengan baik. Belum ada kolaborasi besar tentang bagaimana mengembangkan musik Melayu ini yang sekaligus mengembangkan produksi alatnya. Semuanya masih terbatas.

Salah seorang musisi Riau, Zalfandri Zainal, melihat potensi besar pada karya dua pengrajin alat musik ini. Di masa awal belajar gambus, lelaki yang biasa dipanggil Matrock ini menggunakan alat buatan Ramadhan, juga buatan Robi. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Dia berharap, Pemprov Riau memperhatikan potensi besar alat-alat musik tradisional Melayu buatan anak-anak jati Riau ini agar pasarnya bisa berkembang lebih luas lagi.

“Saya yakin secara pasar mereka bisa berkembang lebih luas lagi. Kualitas alat yang dibuat Bang Ramadhan dan Robi tak kalah dari buatan maestro mana pun. Jazirah Melayu ini sangat luas, di sana terbentang pasar yang menurut saya juga sangat luas. Tapi perlu dukungan pemerintah, bagaimana pun caranya,” ujar petolah grup musik Melayu, Belacan Aromatic, ini.***

Editor : Bayu Saputra
#Musik Melayu #gambus #ekonomi kreatif #riau