Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Festival Perahu Baganduang Lubuk Jambi, Kuantan Singingi 2026, Upaya Melestarikan Upacara Tradisi Masyarakat

Desriandi Candra • Minggu, 29 Maret 2026 | 14:43 WIB

Salah satu Perahu Baganduang masih berada di pinggir Sungai Kuantan dalam Festival Perahu Baganduang 2026 di Tepian Muko Lobuah Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuan
Salah satu Perahu Baganduang masih berada di pinggir Sungai Kuantan dalam Festival Perahu Baganduang 2026 di Tepian Muko Lobuah Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuan

Festival Perahu Baganduang yang menjadi tradisi masyarakat Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kamis (26/3/2026) siang hingga sore kembali dihelat kembali. Ribuan masyarakat memadati Tepian Muko Lobuah Desa Banjar Padang, Kuantan Mudik, yang menjadi pusat kegiatan. Bahkan hingga ke pinggir jalan.

KUANSING (RIAUPOS.CO) - PERANG petasan ikut mewarnai pelaksanaan Festival Perahu Baganduang. Bunyi petasan yang sahut-menyahut itu berasal dari perahu Baganduang yang hilir di tengah Sungai Kuantan dan penonton yang hadir. Kepulan asap petasan, kembang api dari petasan, nampak semakin menyemarakkan suasana. Begitu iring-iringan 16 perahu Baganduang di tengah Sungai Kuantan mendekati Tepian Muko Lobuah, suasana terus bertambah ramai. Hingar-bingar suara petasan yang bertubi-tubi itu tak terelakkan lagi sehingga menarik perhatian pengendara yang melintas di atas jembatan Lubuk Jambi.

Satu di antara Perahu Baganduang itu dinaiki Bupati Kuansing Dr H Suhardiman Amby MM bersama Wakil Bupati H Muklisin, Ketua DPRD Juprizal SE MSi, Sekda Zulkarnain ST MSi, Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana SH SIK MH, dan rombongan lainnya. Bupati Kuansing H Suhardiman Amby, Wakil Bupati H Muklisin dan Ketua DPRD H Juprizal SE MSi disambut para datuk penghulu, ninik mamak dan masyarakat Kuantan Mudik. Tampak juga para kepala dinas, badan, Camat Kuantan Mudik Januarisman, camat tetangga, serta pejabat lainnya. Musik rarak calempong mengiringi kedatangan para petinggi negeri itu.

Festival Perahu Baganduang tidak setiap bulan dilaksanakan. Tetapi hanya satu kali dalam setiap tahun. Biasanya, kebiasaan masyarakat Kuantan Mudik, Festival Perahu Baganduang selalu dilaksanakan pada hari raya ketiga Idul Fitri, tetapi di tahun 2026 ini dilaksanakan pada hari raya kelima Idul Fitri.

Perahu Baganduang adalah gabungan dari dua hingga tiga buah perahu panjang (jalur). Baganduang artinya bergandengan. Perahu-perahu ini dirangkai menjadi satu (diganduang) dengan menggunakan bambu. Perahu Baganduang menjadi bagian dari tradisi yang ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi.

Dulu, Perahu Baganduang adalah kendaraan adat yang digunakan oleh pemangku adat atau ninik mamak untuk tradisi Majompuik Limau ke rumah seorang gadis yang akan di nikahkan pada kemenakan mereka. Konon tradisi ini telah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Lubuk Jambi selama kurang lebih satu abad. Perahu Baganduang pertama kali digelar sebagai festival pada tahun 1996. Festival Perahu Baganduang dilaksanakan sekali dalam setahun, terutama pada saat hari raya Idul Fitri. Perahu-perahu ini kemudian dihias agar menarik. Hiasan-hiasan yang digunakan, antara lain, bendera, daun kelapa, payung, kain panjang, buah labu, foto presiden dan wakil presiden, dan benda-benda lainnya yang memiliki simbol adat. Misalnya, padi yang melambangkan kesuburan pertanian dan tanduk kerbau yang melambangkan peternakan. Hiasan itu disebut gulang-gulang. Tapi tidak mudah untuk membuat Perahu Baganduang. Perlu waktu hingga sepuluh hari agar Perahu Baganduang ini siap untuk tampil dalam festival.

“Untuk membuat satu Perahu Baganduang ini, butuh waktu yang lama. Terutama dalam proses pembuatan hiasan gulang-gulang-nya,” ungkap Komaini, salah seorang tokoh pemuda Lubuk Jambi, Jumat ( 27/3/2026).

Makanya, kata Komaini --yang juga Sekcam Kuantan Mudik ini-- desa yang akan ikut dalam Festival Perahu Baganduang di pertengahan bulan Ramadan sudah melakukan persiapan. Mulai mencari jalur yang akan digunakan, mencari bambu untuk membuat gulang-gulang, juga menyiapkan kain pernak-pernik untuk menghiasi gulang-gulang yang beraneka ragam. Ada hiasan berbentuk tanduk kerbau, labu, pikek (tempat padi), payung dan tulisan kata “Allah” yang semuanya punya arti.

Perahu Baganduang ini dibuat secara swadaya oleh masyarakat desa. Para pemuda-pemudi desa, biasanya yang mengerjakan pembuatan Perahu Baganduang didampingi ninik mamak dan Bundo Kanduang. Ninik mamak memberikan tunjuk ajar agar Perahu Baganduang yang dibuat baik dan tidak salah. Sedangkan Bundo Kandung berperan mengantar makan dan minum muda-mudi dan warga desa yang membuat Perahu Baganduang.

Setelah siap, barulah Perahu Baganduang dari desa ikut dalam festival. Di tahun 2026 ini, ada 16 Perahu Baganduang yang tampil dari 10 desa. Masing-masing Desa Banjar Padang tiga, Desa Sangau (2), Desa Pulau Binjai (3), Desa Kasang (1), Desa Seberang Pantai (2), Desa Koto Lubuk Jambi, Desa Kinali, Desa Aurduri, Desa Pebaun Hilir dan Desa Rantau Sialang masing-masing satu perahu.

“Dulu, kalau pemuda Lubuk Jambi mau menikah itu pergi menjemput limau ke rumah gadis yang akan dinikahinya. Bersama ninik mamak pemuda menggunakan Perahu Baganduang. Sebab, dulu belum ada transportasi seperti mobil atau sepeda motor. Jadi Perahu Baganduang yang di festivalkan inilah yang digunakan,” kata Drs Rustam, tokoh masyarakat Kuantan Mudik.

Lalu limau dari rumah gadis yang dibawa digunakan untuk mandi oleh pemuda di pagi Hari raya Idul Fitri. Perahu Baganduang dan Tradisi Manjompuik Limau (menjemput limau) tidak bisa dipisahkan. Makanya, tradisi yang kini di festivalkan saling berkaitan. Untuk menjaga dan melestarikan tradisi ini, sekarang difestivalkan setiap tahunnya pada momen Idul fitri.

Di momen Festival Perahu Baganduang itu, Rustam dan Ketua Panitia Pelaksana Rahmad Nursi, mengusulkan perbaikan Balai Tepian Muko Lobuah yang menjadi lokasi Festival Perahu Baganduang setiap tahunnya karena kondisinya kini sudah rusak dan perlu perbaikan agar ke depan menjadi layak di kunjungi. Selain itu, Rustam juga mengusulkan sebuah Balai Adat atau gedung pertemuan bisa dibangun di Lubuk Jambi. Fungsinya adalah mengajak tinggalkan semua perbedaan di tengah masyarakat untuk bersama-sama membangun Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik.

“Kami berharap Pemkab Kuansing bisa memperhatikan pembangunan infrastruktur di wilayah Kecamatan Kuantan Mudik, termasuk ruas jalan dari Pasar Lubuk Jambi hingga ke perbatasan Hulu Kuantan,” ujar Rustam lagi.

Bupati Kuansing Dr H Suhardiman Amby MM mengatakan, tradisi Manjompuik Limau dan Festival Perahu Baganduang adalah lokal tradisi yang sangat baik dan harus dilestarikan. Dulu digunakan untuk mengantarkan limau ke rumah gadis atau perempuan yang akan menjadi calon untuk dinikahkan ke pemuda yang mengatar limau. Menggunakan Perahu Baganduang limau diantar bersama ninik mamak.

Suhardiman Amby yang bergelar Datuk Panglimo Dalam dan Datuk Seri Setia Amanah itu menegaskan, penggunaan pakaian adat Nusantara merupakan bagian dari strategi untuk memperluas gaung Festival Perahu Beganduang agar semakin dikenal luas.

“Saya ingin festival ini lebih besar dan lebih dikenal. Salah satunya dengan menghadirkan nuansa budaya Nusantara melalui pakaian adat yang dikenakan para tamu dan undangan, sehingga tumbuh rasa memiliki terhadap budaya di Lubuk Jambi,” ujar Suhardiman Amby.

Suhardiman juga memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Lubuk Jambi, para tokoh adat, pemerintah kecamatan, serta seluruh kepala desa yang dinilai konsisten dalam melestarikan tradisi Festival Perahu Baganduang sebagai warisan budaya daerah.


Terkait permintaan agar Balai Tepian Muko Lobuah yang menjadi lokasi Festival Perahu Baganduang, Suhardiman Amby menyebutkan bahwa dirinya sudah meminta tiga tahun lalu agar sertifikat kepemilikan lahannya diserahkan pada Pemkab. Ini menjadi dasar Pemkab bisa menyiapkan anggaran untuk perbaikan Balai Tepian Muko Lobuah Desa Banjar Padang. “Mudah-mudahan tradisi ini tetap terus terjaga dan lestari di tengah masyarakat Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik,” ujar Suhardiman Amby.

Sudah Masuk WBTB

Tradisi Perahu Baganduang masyarakat Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik ini sudah diakui oleh negara sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2017. Dia tercatat dengan nomor WBTB 60043/MPKE/KB/2017. Khasanah tradisi milik Kabupaten Kuansing ini sedang di usulkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) di Kementerian Hukum RI.

“Alhamdulillah, Perahu Baganduang sudah tercatat sebagai WBTB Indonesia asal Kabupaten Kuansing,” kata Kadis Budpar Kuansing, Ir Emmerson.
Menurut Emmerson, keberhasilan ini adalah bentuk perjuangan masyarakat Lubuk Jambi yang gigih menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya ini secara turun-temurun sehingga tetap bertahan hingga sekarang.

Pemkab maupun Budpar Kuansing tetap memberikan dukungan dalam pelaksanaan Festival Perahu Baganduang setiap tahunnya. Budpar sendiri berkeinginan untuk melakukan perbaikan sarana dan prasarana yang ada. Sayangnya, karena terjadinya efisiensi anggaran itu tidak terlaksana. Untuk menjaga, melestarikan, dan menggaungkan tradisi ini, Budpar Kuansing berharap dukungan Pemprov Riau lewat Dinas Pariwisata Riau. Diharapkan, ke depan, tradisi Manjompuik Limau dan Perahu Baganduang bisa semakin dikenal luas. Tidak hanya di Riau, tetapi di Indonesia dan mancanegara.***

Editor : Bayu Saputra
#ranggi #ranggi riaupos #kebudayaan #perahu baganduang