Selama dua hari, Ketua Lembaga Teater Selembayung, Fedli Aziz, memberi workshop tentang keaktoran dalam teater dan pementasan monolog yang diadaptasi dari cerpen Putu Wijaya. Sebuah ikhtiar dalam melahirkan aktor-aktor baru terater di Riau.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - KOTA Dumai menjadi tempat pertama Lembaga Teater Selembayung untuk melanjutkan program Mengarak Teater tahun 2026 ini. Program yang sudah berlangsung sejak 2007 tersebut, tahun ini lebih spesifik, menyasar pada edukasi dan distribusi pengetahuan keaktoran.
Bukan tanpa alasan mengapa difokuskan pada keaktoran. Meski kita tahu, aktor, akting dan karakter hanya bagian dari ragam keahlian dunia teater yang luas itu. Terutama teater berbasis realisme yang mulai “dipunggungi” banyak komunitas di Indonesia. Tak sedikit, para sutradara mulai mengaburkan peran utama aktor lewat karya-karya non-realis. Bahkan aktor hanya diposisikan sebagai buruh atas keinginan sang sutradara yang bergumul dengan isu-isu besar dan mengemuka di tengah masyarakat dunia.
Ketua Lembaga Teater Selembayung, Fedli Aziz, menjelaskan, sutradara-sutradara itu menjadikan aktor sebagai mainan dan tak memberi ruang secara psikologis dalam menyuarakan kegelisahannya dari sebuah isu. Aktor hanya dianggap salah satu mediator yang menumbuhkan ego belaka. Dan aktor-aktor yang terjebak pada karya serupa itu, akan kesulitan dalam mengolah dan memahami dirinya secara mandiri saat memainkan karya bergenre realis.
Bukan hanya aktor yang seperti itu, katanya, bahkan aktor-aktor pemula maupun setengah sepuh, juga banyak yang tak memahami secara baik bagaimana berakting dan menghidupkan karakter yang diperankan dalam sebuah karya teater (gruping) maupun monolog. Alhasil, audiens hanya menyaksikan seorang aktor melakukan atraksi-atraksi seperti pamer ekspresi, pergumulan hapalan dialog dari teks (naskah) maupun gerak-gerak yang tak berimbang antara kalimat, gerak tubuh, juga ekspresi si karakter yang dimainkan.
Yang menjadi pertanyaan, jelasnya mengutip Konstantin Stanislavski dan Jerzy Growtoski, apa benar menjadi aktor itu sulit dan rumit sehingga sedikit yang mau bertungkus-lumus menggelutinya? Jawaban diplomatisnya, bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung kepada siapa aktor itu belajar dan bagaimana cara mempelajarinya. Bahkan tak sedikit para maestro teater dunia menyebut aktor adalah bagian inti utama dari seni tersebut.
Baca Juga: Perdana, Monolog "Babi" Sambangi Kota Dumai
Dijelaskannya, masih banyak alasan lain mengapa program Mengarak Teater Lembaga Teater Selembayung menyasar pada keaktoran dalam tahun ini. Meski tanpa dukungan anggaran maupun spirit dari para pihak berkompeten, program ini dianggap sebagai tanggung jawab dan kesenangan menuju rasa bahagia dalam berteater. Paling tidak, kata Fedli, pelaku teater bisa mendapatkan suntikan dana dari hasil penjualan tiket masuk, meski belum memadai untuk penghargaan karya kreatif.
“Mari kita berteater dengan riang gembira,” ajak aktor, sutradara, dan penulis naskah drama yang memimpin Lembaga Teater Selembayung sejak 2023 hingga kini tersebut.
Dalam program yang berlangsung dua hari, 3-4 April 2026 di Aula SMAN 2 Dumai itu, terlaksana atas kerja sama Lembaga Teater Selembayung, Komite Teater Dewan Kesenian Dumai (DKD), dan SMAN 2 Dumai. Tidak hanya workshop keaktoran, diakhir dengan pertunjukan monolog berjudul Babi, oleh Fedli Azis dan Micko Celo, yang diadaptasi dari cerpen Putu Wijaya dengan judul sama.
“Kami diceritakan oleh Bang Fedli bahwa beliau berkeinginan menaja workshop khusus keaktoran keliling Riau tahun ini. Dia juga bilang, akan menghadiahkan pementasan monolog di akhir workshop yang naskahnya ditulis dan dimainkannya sendiri. Bagi kami itu menarik dan gayung bersambut, sebab Komite Teater DKD juga sedang merencanakan workshop teater menuju FLS3N tahun ini. Alhamdulillah, kegiatan bersama Bang Fedli berjalan lancar. Apalagi guru seni dan para siswa peserta workshop sangat antusias mengikutinya. Saat ini mereka punya bekal untuk mempersiapkan diri menuju FLS3N bidang monolog,” jelas Ketua Komite Teater DKD, David Alamsyah yang diamini dua rekannya, Angga dan Andra.
Pelatihan monolog itu diikuti 20-an peserta utusan dari beberapa sekolah di Kota Dumai. Rata-rata para siswa-siswi kelas X dan Xl yang tahu, pernah dan masih beraktivitas di ekskul teater sekolah masing-masing. Mereka berlatih selama dua hari bersama Fedli.
Pengalaman Baru
Salah seorang peserta, Lutvia, menceritakan, sepekan sebelum workshop, panitia membuat grup WA dan mengirim link beberapa naskah monolog. Naskah itu dipilih dan semua peserta yang dinyatakan lolos seleksi diminta memahami dan menghapalnya. Karena saat pelatihan nanti, narasumber akan langsung mengarah ke naskah.
“Kalau itu bagi kami oke saja dan kami melakukannya. Tapi saat pertemuan awal, kami jadi kikuk, sebab pembahasan narasumber malah tidak menyinggung soal aktor, monolog, atau teater secara umum. Dia bilang, ‘Mari kita belajar tentang diri sendiri. Paling tidak, mempelajari manusia baik secara fisik maupun non-fisik’. Nah, kami mulai main tebak-tebakan, fisik itu apa-apa saja dan non-fisik apa-apa saja? Ya, kami terus dituntun menuju ‘aku’ masing-masing,” ujarnya.
Pengakuan semua peserta, pengalaman ini menarik karena selama ini, mereka anggap soal ketubuhan (fisik) dan soal gaib (non-fisik) dalam setiap diri itu biasa saja. Tak perlu dibahas, apalagi sampai dikaji berdalam-dalam. Hanya saja mereka mengaku tersentak, karena pernyataan, “Bagaimana kalian bisa memerankan karakter dalam teater, jika diri sendiri saja tidak tahu, apalagi paham. Kenapa? Karena karakter yang diciptakan dan dimainkan juga punya fisik dan non-fisik seperti aktor yang memerankannya.”
Kasih, seorang siswi yang juga belajar ilmu lukis, mengatakan, setelah mereka dibimbing mengenal diri secara fisik dan non-fisik, mereka juga diminta untuk mengenal diri lebih jauh. Misalnya, cara berpikir, mengambil keputusan, bergaul dengan lingkungan sekitar, dan seterusnya. Dilanjutkan dengan mengenal sejarah diri, keluarga latar belakang pendidikan, dan banyak lagi. Lalu, dalam semua hal itu, mereka diarahkan untuk mengenal dan memahami posisinya sebagai anak, kakak atau abang, juga sebagai siswa-siswi dalam ruang lingkup kecil maupun luas.
“Kami benar-benar diajak berpikir jernih dan kritis terhadap diri sendiri, lingkungan keluarga, sekolah, dan pergaulan selama ini. Ternyata di pelajaran selanjutnya, barulah kami diarahkan ke dalam naskah monolog yang telah kami pilih sebelum pelatihan. Masing-masing kami diminta untuk menjelaskan tentang naskah dan karakter yang ada divdalamnya,” kata Kasih.
Siswa lainnya, Asra, mengatakan, ternyata selama ini mereka hanya dapat pengetahuan sepotong-sepotong dan tidak sedetil ini. Itu pun tanpa penjelasan yang lengkap sehingga saat mereka bermonolog atau bermain teater secara grup, cukup menghapal naskah dengan ragam ekspresi dan perasaan yang digambarkan karakter. Mengikuti arahan sutradara dan tak diarahkan secara detil seperti pelajaran saat ini.
“Di sini, kami diminta melakukan observasi atau riset kecil-kecilan tentang karakter sesuai tuntunan dalam naskah. Lalu kami diarahkan menciptakan sosok baru yang berbeda dengan diri kami sendiri seperti penjelasan awal narasumber. Ternyata penuh tantangan dan rumit juga. Belum lagi soal vokal, intonasi, artikulasi, sorotan mata, cara bernapas, cara berpikir dan bertindak sesuai yang diarahkan naskah dan seterusnya. Waduh... Terus terang saya tertantang dan merasakan keasyikan tersendiri,” jelas Asra. “Meski dua hari, kami benar-benar dapat pengetahuan dan pengalaman menarik dan menantang. Bekal ini sangat berharga dan kami sangat berterima kasih,” kata tambahnya.
Peserta lainnya, Audi, juga memberikan pandangannya. Gadis belia yang belum pernah bermain teater, apalagi bermonolog itu, mengatakan, setelah diberi tugas usai workshop hari pertama, malamnya dia tidak bisa tidur. Entah apa yang menuntunnya, rasa penasarannya dari materi yang diberikan, membuatnya mencari berbagai referensi dan literasi. Mencoba untuk memahami naskah dan karakter yang diinginkan penulisnya. Muncul pertanyaan, semua peristiwa, kisah dan cerita yang dialami sang karakter tentu jauh berbeda dengan pengalaman hidupnya sebagai aktor. Nah, bagaimana caranya bisa masuk, menghidupkan situasi dan suasananya?
“Saya dan kawan-kawan, untuk memulai semuanya, kami harus melakukan percobaan yakni bagaimana jika saya yang mengalami apa yang dialami tokoh dalam kisah itu. Apa yang harus dan bagaimana saya berpikir, bersikap, mengambil keputusan dan seterusnya. Waktu itu saya lakukan, ternyata ada perasaan takut juga masuk ke dalam kondisi dan situasi kejiwaan orang lain, apalagi merasakannya secara fisik,” kata Audi.
Apalagi besoknya, mereka diminta mempresentasikan atau menampilkan penemuan mereka dalam naskah yang dipilih. Latihan seharian dan berulang-ulang menambah keberanian mereka untuk mengeksplore bakat dan potensi yang tersembunyi didalam diri masing-masing.
Monolog Babi yang “Menjengkelkan”
Fedli mengaku mendapat banyak penolakan mementaskan monolognya itu. Pasalnya, karena judul yang diusung. Padahal naskah itu berangkat dari karya cerpen Putu Wijaya dalam kumpulan cerpennya. Kata “babi” dianggap sensitif, terutama dihelat seni pemerintah daerah, dengan alasan yang tak jelas. Kebanyakan hanya mengatakan, “Takutnya nanti begini atau begitu. Takutnya pimpinan tak setuju, marah, dan seterusnya.”
Bagi audiens atau penonton yang hadir di malam pementasan, menonton karya itu cukup membuat ekspektasi mereka buyar. Kata “Babi” yang membuat sebagian orang cukup mengganggu, bagi mereka memantik rasa penasaran. Sayangnya, babi yang mereka bayangkan ternyata hanya jebakan dan tak tampak hingga akhir pertunjukan. Ternyata, babi yang dimaksudkan, hanyalah ilusi si tokoh atau karakter yang dimainkan. Ya, hal itu bisa dipahami bahwa manusia adalah mahluk yang cerewet dan suka menggerutu, bahkan mengutuk diri sendiri, apalagi dalam kesendiriannya.
“Karya-karya sastra Putu Wijaya memang menarik dan penuh jebakan. Saya belum pernah baca cerpen ‘Babi’ itu dan baru tahu setelah nonton monolog ini. Saya suka sekali bagaimana situasi dan suasana yang dibangun dalam karya ini,” kata Riska, jebolan teater ISI Yogjakarta dalam diskusi usai pertunjukan.
Ketua Umum Dewan Kesenian Dumai, Agoes S Alam, menjelaskan, para audiens --terutama siswa-siswi yang ikut-- mendapatkan distribusi pengetahuan berharga tentang aktor, akting, karakter, monolog dan teater secara baik. Workshop keaktoran ini adalah bekal yang cukup bagi anak-anak seusia mereka untuk berkompetisi nantinya di FLS3N 2026.
“Kami juga berharap anak-anak juga turun di helat monolog lainnya, selain kompetisi rutin pemerintah tersebut. Jika memungkinkan, DKD juga bisa menajanlomba monolog tingkat pelajat dalam tahun ini,” ungkapnya.***
Editor : Bayu Saputra