Diikuti banyak perupa dari berbagai daerah di luar Riau, pameran seni rupa HikayArt Goro menjelaskan bagaimana Galeri Hang Nadim membangun kolaborasi dan jaringan seni yang lebih luas.
Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru
UNTUK kesekiankalinya, Galeri Hang Nadim (GHN) menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk HikayArt Goro. Pameran ini berlangsung di gedung pameran GHN, Anjungan Kampar Komplek Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai), Pekanbaru, 16 Mei-6 Juni 2026.
Saat pembukaan, Sabtu (16/5), Kepala GHN, Furqon LW, berhalangan hadir karena sakit. Melalui Kabid Humas GHN, Ahmad Beni Joniaman, yang membacakan sambutannya saat pembukaan itu, menjelaskan, pameran HikayArt Goro adalah upaya mengajak para seniman rupa untuk menafsir ulang makna gotong-royong yang selama ini telah melekat dalam diri masyarakat Riau dan Indonesia secara umum.
Gotong-royong atau goro, kata Fuqon, adalah kata yang sangat akrab di telinga orang Indonesia. Alam bawah sadar kita memaklumi bahwa goro adalah upaya penyelesaian masalah secara bersama-sama. Dalam konteks hari ini, kata Furqon, realita faktualnya adalah efisiensi anggaran. Dampaknya ke semua lini kehidupan kita, termasuk berkesenian. Menurutnya, ini adalah masalah.
“Seharusnya yang mengurus masalah ini adalah negara. Tapi sejak dulu hal-hal seperti ini diselesaikan oleh masyarakat sendiri dengan gotong-royong. Ketika goro masyarakat menyelesaikan masalah, ini sebenarnya sudah mengabaikan negara. Karena negara yang membuat masalah dan kita yang menyelesaikannya, masih pentingkah posisi negara bagi masyarakat?” ujarnya.
Pameran HikayArt Goro ini diikuti 40 seniman se-Indonesia, yang 19 di antaranya dari luar Riau, yang menyajikan sudut pandang estetis mereka terhadap goro dan hikayatnya. Pameran ini, kata Furqon lewat Bens, adalah juga bagian dari upaya penyelesaian masalah itu. Bukan penyelesaian taktis, tentu saja. Tapi upaya mengingatkan kita untuk kembali ke makna hakiki dari gotong-royong.
“Selama ini gotong-royong cenderung berorientasi pada kerja bakti, padahal sejak kecil ketika bermain kita sudah menerapkan konsep gotong-royong. Bahkan ketika terjadi bencana Sumatera, yakni di Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar), apa yang dilakukan kawan-kawan seniman dengan menggalang donasi juga bentuk lain dari gotong-royong,” kata seniman yang akrab dipanggil Bens itu mewakili Furqon.
Pada bagian lain, kurator pameran, Cak Winda, menjelaskan, esensi paling penting dalam pameran ini adalah menafsir ulang makna goro tersebut. Menurutnya, kita sering menyebut gotong-royong, tetapi jarang benar-benar berhenti untuk merasakannya. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual, kebersamaan perlahan berubah menjadi istilah yang terus diulang, namun semakin jarang dialami secara sadar.
Makna yang ingin disampaikan dalam HikayArt Goro ini, kata dia, gotong-royong tidak ditempatkan sebagai nilai yang sekadar dirayakan, melainkan sebagai ruang untuk diingat, dipertanyakan, dan ditafsir ulang melalui karya seni. Setiap karya berangkat dari pengalaman personal maupun sosial yang diolah menjadi refleksi visual tentang kebersamaan hari ini.
Di sini, katanya, gotong-royong tidak selalu hadir sebagai harmoni. Ia bisa muncul sebagai kerja yang tak terlihat, relasi yang timpang, atau kerinduan akan kebersamaan yang mulai berubah. HikayArt Goro menghadirkan karya-karya sebagai hikayat visual zaman kini: jejak pengalaman, nilai, dan refleksi yang mengajak kita kembali melihat arti kebersamaan dalam kehidupan hari ini.
“Pameran GHN yang ke-20 ini merupakan pameran yang paling banyak pesertanya dari luar Riau. Mereka datang dari Bali, Depok, Sukoharjo, Bandung, Lampung, dll, selain dari berbagai daerah di Riau. Bukan hanya para perupa senior, banyak dari mereka yang ikut pameran adalah anak-anak muda yang sudah membangun eksistensinya sedemikian rupa dalam seni rupa Indonesia,” ujar Cak Winda.
Bahkan ada peserta yang baru berumur 6 tahun, yakni Naura Syifa Aishakayla Abidin, perupa yang lahir pada tahun 2019 dan sekarang sedang sekolah di SDIT At Taqwa, Surabaya, Jawa Timur. Dia mengikutkan salah satu karyanya yang berjudul “Together Doesn’t Mean the Same”. Naura adalah perupa paling muda dalam pameran ini.
Yang menarik, Naura sudah mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya pameran di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung dengan karya berjudul “Senang Bersamamu” dalam pameran bertajuk National Visual Art Exhibition 2025; pameran Lotus Art Courses Festa Exhibition 2025; pameran seni rupa “Merindu Jiwa” oleh Komunitas Seni Res di Basement Balai Pemuda Surabaya. 2025; pameran “Senandung Kota” oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo di Balai Pemuda Surabaya, 2025; 2nd Lotus Art Courses Biennale Exhibition 2026; pameran Bebas 3 Vinautism Gallery Surabaya 2026; dan Selected Young Artist at ArtJog Kids Exhibition 2026.
Baca Juga: Dampak Pengetatan Anggaran bagi Seni dan Budaya (2), Daerah Merana, Progam Pusat Semakin Banyak
Selain itu, Naura juga punya prestasi tinggi, yakni Diploma Winner dalam Maraton Montmartre Bitola 2025 di Bitola, Makedonia Utara, 2025; Certificat d’Honneur dari Centre UNESCO Troyes, yakni kompetisi seni rupa internasional bertajuk “Graines d’artistes du monde entier”, oleh Institut Mondial d’Art de la Jeunesse, Prancis, 2025; dan Top 100 kategori usia >8 tahun Toyota Dream Car Art Contest 2025.
Dalam menjelaskan tentang konsep penciptaan “Together Doesn’t Mean the Same” yang diikutkan dalam pameran ini, Naura menjelaskan, karya ini menggunakan bentuk lingkaran sebagai simbol kebersamaan, namun diisi oleh beragam figur manusia, hewan, dan bentuk imajinatif yang hadir secara bebas dan tidak seragam. Setiap elemen membawa ceritanya sendiri, tetapi tetap berada dalam satu ruang yang sama. Melalui pendekatan yang spontan dan ekspresif, karya ini menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu harmonis ia bisa ramai, timpang, bahkan terpisah. Justru dalam perbedaan itulah kebersamaan tetap hidup dan terus berubah.
“Sebagai karya anak, gaya visual yang jujur dan bebas menjadi kekuatan utama, menghadirkan gagasan sederhana namun mendalam: bahwa setiap cerita, meski berbeda, dapat hadir bersama dalam satu ruang,” ujar Naura.
Perupa lain dari luar Riau yang ikut dalam pameran ini adalah Sheena Guntoro (Surabaya) dengan karya berjudul “The Queit Guardians”, Robert dan Olga (Surakarta) dengan judul “Cerita Pisang”, Bagaskara Maharastu PI (Yogyakarta) dengan judul “Fragmen Iman dalam Satu Kanvas”, Lode Widya (Ni Luh Gede Widiyani) asal Tabanan, Bali, dengan judul “Tangan-Tangan yang Menjaga”.
Lalu ada Yan Camille (I Wayan Gede Susila Budi Camille) dengan judul “Ruang Teduh” asal Ubud, Bali; Mochamad Samba “Bertemu tana Menyatu” asal Sukoharjo, Jawa Tengah; Gea El Syakina dengan karya “Semangat Gotong Royong Sepanjang Hari” asal Yogyakarta; Mega Puspita Sari dengan karya “Mekar Bersama di Padang Harapan” asal Gresik, Jawa Timur; juga Cahaya Mentari Anindya dengan karya “The Same Burden” asal Depok, Jawa Barat.
Perupa lainnya adalah Mustaghfiry (Ferry) dengan karya berjudul “Help From Myself to Myself from Other Dimension” dari Reteh, Indragiri Hilir, Riau; Nwansawarna (Ramadan Ismaya) dengan judul “Mawarpotong” asal Depok, Jawa Barat; Rendy Maz Sumaxer dengan judul “From the Palm of the Hand to the Web of Life” asal Lampung Selatan, Lampung; Ulfi Audira dengan karya “Karsa” dari Bandung, Jawa Barat; dan Kristenden Yudoko “Penjaga Edenoid” asal Sleman, Yogyakarta.
Masih ada perupa lainnya, yakni Sigit Yudi Prasetyo dengan karya berjudul “Pola” asal Bandar Lampung; M Habil Alfarizi “Manfaatkan Waktu” asal Harau, Sumatra Barat; Mora Siregar “Masjdi di Desaku” asal Pekanbaru; Ibnu Faturrahman “Di Dalam Samudra” asal Pekanbaru; Yuki Callista Patricia “Membangun Rumah” asal Pekanbaru; Zalsha Dewana “Bersih Bersama, Bebas Bersama” asal Pekanbaru; dan Bonar Diat Senat Putro “Tumbuk Bersama Hidup Bersama” asal Yogyakarta.
Pada hari pertama pameran, terjual sebuah lukisan karya Dewi Purwanti yang berjudul “Tidak Tumbuh Sendiri”. Lukisan berbahan akrilik dan media campur di atas kanvas berukuran 40x40 cm tersebut dibeli oleh ekspatriat asal Perancis yang sedang mukim di Pekanbaru.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau yang diwakili Kabid Ekraf, Benny Febrianto, membuka secara resmi pameran ini. Dia mengaku senang GHN menyelenggaran pameran yang diikuti banyak perupa dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya itu hal yang luar biasa karena dunia seni rupa Riau mulai diminati banyak seniman daerah lain dan mereka mengapresiasinya dengan ikut dalam pameran ini. Dia berharap kolaborasi seperti ini terus dibangun di masa depan dengan jaringan yang lebih luas.
Baca Juga: Sukses di Kota Dumai, Karya Monolog "3431" Sambangi Cerenti Kuansing
“Ini kerja yang luar biasa. Atas nama bapak Kadispar Riau, saya mengapresiasi pameran ini. Ke depan saya yakin akan terbangun kolaborasi dengan jaringan yang lebih luas untuk pengembangan ekonomi kreatif seni rupa menuju nilai tambah yang lebih besar dan luas,” ujar Benny Febrianto.
Pembukaan pameran HikayArt Goro juga ditandai dengan penampilan baca puisi oleh penyair Riau, Siti Salmah, yang diiringi alunan akordeon musisi Riau, SPN Zuarman Ahmad. Para pengunjung yang ingin menyaksikan pameran ini bisa masuk dengan harga tiket Rp15.000/ pengunjung. “Tiket masuk ini sebagai salah satu hal yang kami bangun untuk ekosistem seni, bagaimana masyarakat menghargai sebuah kegiatan seni seperti pameran ini,” ujar Furqon LW kepada Riau Pos.***
Editor : Arif Oktafian