Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Diskusi Perempuan, Seni, dan Ruang Bertumbuh; Berkarya di Tengah Tekanan dan Peran Ganda

Hary B Koriun • Minggu, 7 Juni 2026 | 19:46 WIB
Kurator Cak Winda (kiri), Melly Amelia Putri (dua kiri), Sara Baragbah (tengah), Dewi Purwanti (dua kanan) dan Nuria Hafhazah (kanan) saat diskusi bertema “Perempuan, Seni, dan Ruang Tumbuh” di Galeri Hang Nadim, Pekanbaru, Senin (1/6/2026).(Galeri Hang Nadim Untuk Riau Pos)
Kurator Cak Winda (kiri), Melly Amelia Putri (dua kiri), Sara Baragbah (tengah), Dewi Purwanti (dua kanan) dan Nuria Hafhazah (kanan) saat diskusi bertema “Perempuan, Seni, dan Ruang Tumbuh” di Galeri Hang Nadim, Pekanbaru, Senin (1/6/2026).(Galeri Hang Nadim Untuk Riau Pos)

 
Para perempuan ini berjuang melawan segala keterbatasan dan tantangan agar bisa tetap menghasilkan karya seni. Ketika karya berhasil diciptakan dan diberi apresiasi, memberi arti besar dalam proses dan perjalanan yang sudah ditempuh.

Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru

PAMERAN Hikayart GoRo yang diselenggarakan oleh Galeri Hang Nadim (GHN), menghadirkan peserta dengan beragam latar belakang, profesi, pengalaman, dan perjalanan hidup. Di antara keragaman tersebut, empat perempuan dipilih untuk menjadi narasumber dalam sesi berbagi bertajuk “Perempuan, Seni, dan Ruang Bertumbuh” pada Senin (1/6/2026) lalu. Menurut kurator pameran, Cak Winda, meskipun para pembicara dalam diskusi ini semuanya perempuan, pemilihan ini bukan dimaksudkan untuk membedakan perempuan dan laki-laki, melainkan untuk mengangkat perspektif yang lahir dari pengalaman hidup yang khas dan dekat dengan realitas keseharian banyak orang.

Perempuan, kata Cak Winda,  sering kali menjalani banyak peran dalam waktu yang bersamaan. Mereka menjadi ibu, istri, pendidik, pekerja, pelaku usaha, sekaligus individu yang tetap berusaha menjaga mimpi dan ruang tumbuhnya sendiri. Tidak jarang, proses berkarya harus dilakukan di sela-sela kesibukan, di antara berbagai tanggung jawab, bahkan di tengah keterbatasan waktu dan kesempatan. Namun, justru dari situ kita melihat sesuatu yang menarik: kreativitas tidak selalu lahir dari kelonggaran, tetapi sering tumbuh dari ketekunan dan keberanian untuk tetap melangkah.

Empat perempuan yang hadir dalam sesi ini berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang berprofesi sebagai pengusaha, guru, ibu rumah tangga, mahasiswa. Mereka bukan dipilih karena memiliki perjalanan yang sama, tetapi karena masing-masing menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari kehidupan siapa saja. Melalui proses berkarya, mereka menemukan cara untuk mengekspresikan gagasan, mengolah pengalaman hidup, membangun kepercayaan diri, dan menghadirkan suara yang mungkin sebelumnya tidak pernah terucapkan.

“Sebagai kurator, saya melihat bahwa kekuatan seni tidak hanya terletak pada hasil karya yang dipajang di dinding pameran. Kekuatan seni juga hadir dalam proses yang dijalani seseorang untuk sampai pada karya tersebut. Ada keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk belajar, dan keteguhan untuk terus bertumbuh. Nilai-nilai inilah yang saya temukan pada para narasumber yang hadir dalam sesi ini,” ujar lelaki yang juga perupa ini saat diskusi.

Melalui pertemuan dan percakapan bersama mereka, dia berharap publik dapat melihat bahwa seni bukanlah ruang yang eksklusif bagi mereka yang memiliki pendidikan seni atau telah lama berkecimpung di dunia kreatif. Seni adalah ruang yang terbuka, tempat seseorang dapat mengenali dirinya sendiri, merawat kepekaan, dan membangun makna dari pengalaman hidup yang dimiliki.

Lebih dari itu, katanya, pameran ini juga sebuah ajakan. Jika perempuan dengan segala tantangan yang dihadapinya mampu terus berkarya, maka sesungguhnya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh melalui seni. Tidak harus menjadi seniman profesional. Tidak harus menunggu sempurna. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai, mengekspresikan diri, dan memberi ruang bagi potensi yang ada dalam diri.

“Karena, pada akhirnya, seni bukan milik seniman saja. Seni adalah ruang bertumbuh bagi siapa saja,” jelasnya lagi.

Dewi Purwanti, salah seorang seniman yang ikut dalam pameran ini, mengaku sejak sejak berumur 7 tahun corat-coret di kertas dan media lain. Meski kuliah di jurusan bisnis, passion suka menggambar tidak hilang hingga menikah dan punya anak. Menurutnya, seni merupakan cara mengekspresikan diri dan menyampaikan pesan. Pesan yang disampaikan biasanya bercerita tentang kehidupan. Dewi menghadirkan karya-karya yang terinspirasi dari pengalaman perempuan, perjalanan diri, rasa syukur, harapan, dan kekuatan yang tumbuh dari setiap proses kehidupan.

“Dengan berkarya, dengan sendirinya kita bisa bertumbuh,” ujar perempuan yang juga pengusaha ini.

Perjalanannya sebagai pelukis, katanya, bertumbuh melalui berbagai pameran yang diikuti. Setiap pameran bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang membentuk mental, kepercayaan diri, dan cara pandangnya sebagai seorang seniman. Dari sana sia belajar menerima apresiasi, kritik, dan terus berkembang dalam berkarya.

Jejaring sosial yang terbangun dalam ekosistem seni juga memberikan dampak yang besar bagi perjalanan kreatif dan bisnisnya. Selama ini, dia mengaku bertemu banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari sesama seniman, kurator, galeri, hingga kolektor yang membuka berbagai kesempatan dan kolaborasi.

Apresiasi dan penghargaan yang diberikan oleh para kolektor terhadap karya-karyanya menjadi salah satu sumber semangat terbesar baginya dalam berkarya. Mengetahui bahwa sebuah karya dapat menyentuh hati dan memiliki makna bagi orang lain menjadi motivasi untuk terus berkarya dengan jujur dan sepenuh hati.

“Bagi teman-teman yang baru memulai perjalanan berkarya, jangan ragu untuk melangkah. Teruslah bertumbuh, terus belajar, dan jangan takut untuk menunjukkan karya kepada dunia. Setiap proses memiliki waktunya sendiri. Percayalah bahwa konsistensi, keberanian untuk mencoba, dan ketulusan dalam berkarya akan membawa kita menuju kesempatan-kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” ujarnya sambil memberi motivasi bagi siapa pun yang ingin bertumbuh dalam dunia seni ini.

Sementara itu, Nuria Hafhazah, menjelaskan, sejak kecil dia tidak pernah sekalipun terbayangkan untuk mengikuti kegiatan seni seperti sekarang, apalagi sampai berkarya untuk pameran. Dari dulu, perempuan yang biasa dipanggil Nunu oleh para koleganya ini mengaku hanya rutin mengikuti lomba mewarnai kanak-kanak saat sekolah. Tiba di tahun 2017, saat itu Musabaqah Tilawatil Qur’an Kota Pekanbaru mengadakan lomba cabang baru yaitu kaligrafi kontemporer. Dikarenakan cabang yang baru, hanya dua orang yang mengikuti, sedangkan perlombaan diperbolehkan minimal ada 3 orang peserta, jadi waktu itu mendadak didaftarkan orang tua sehari sebelum lomba dilaksanakan. 

“Alhamdulillah mendapatkan juara II. Dari situ saya mengenal lagi warna-warna dan menyukai mewarnai sampai akhirnya di wadah digital seperti saat ini,” jelasnya

Dia menjelaskan, hal yang membuatnya bertahan di dunia seni ini hingga saat ini adalah berkat dorongan orang sekitar. Berkarya, manurutnya, adalah salah satu upaya membangun kepercayaan diri dan bisa menjadi tempat pelarian yang menenangkan. Seni juga sangat membantunya melewati masa-masa sulit dalam hidup. Di saat suatu kehendak bertentangan dengan orang tua, dia mengaku bahwa “orat-oret” sesuatu dapat melupakan sejenak, apalagi sampai sibuk mengikuti kegiatan pameran seperti sekarang ini. 

Pameran, menurut Nunu, sangat berkaitan dengan lepercayaan diri. Kita jadi lebih berani untuk dikritik dan tentunya juga memajukan perkembangan sisi sosial seseorang. Dalam pameran, dia merasa senang sekali dapat berkenalan dengan orang-orang baru, apalagi dari berbagai kalangan. Juga dari berbagai usia, yang membuat diskusi semakin menarik. Juga bisa melihat bagaimana kehidupan dari berbagai sisi. Dan lagi-lagi, katanya, sangat menyentuh kepercayaan diri dan sisi sosial.

Sejak menggeluti seni, Nunu merasa ada perubahan penting dalam dirinya. Dulu, kata dia, saat berkarya sering sekali mendapat kritikan walaupun dari org terdekat. Semenjak ikut kegiatan seni yang melibatkan banyak orang jadi tidak takut sama sekali karya dia akan jadi seperti apa di mata seseorang karena dia belajar satu hal, yaitu setiap mata memandang sesuatu hal, pasti memiliki deskripsi yang berbeda-beda

“Pelajaran yang dapat saya pahami semenjak mengikuti kegiatan seni, seni di dalam jiwa setiap orang itu pasti berbeda-beda. Dari motivasi untuk memulai, alasan seseorang berkarya, hingga target seseorang dalam seni itu sama sekali tidak sama. Jadi makin ke sini makin bisa memaklumi suatu hal. Tidak mudah menghakimi apalagi menilai seseorang hanya dari cara dia berkarya,” jelasnya lagi.

Pada bagian lain, Melly Amelia Putri menceritakan ketertarikan terhadap seni sudah sejak kecil, bahkan dari sebelum bisa membaca. Hal ini karena orang tuanya bekerja di bidang desain grafis yang memiliki percetakan. Seiring waktu, ketertarikannya pada seni berkembang dan menjurus kepada eksplorasi huruf atau lettering art. Namun di usia remaja, Melly masih diliputi perasaan takut dan cemas untuk menunjukkan hal yang ia punya pada dunia. Sangat khawatir pada penolakan sekaligus penerimaan sehingga banyak karyanya yang hanya bersembunyi di buku sketsa dan Ipad-nya saja. 

Meski begitu, ia tetap mencintai dunia seni. Hal itu membawanya menjadi pengunjung dan penikmat pameran seni rupa, khususnya GHN, secara konsisten selama hampir 5 tahun tanpa pernah mencoba tampil menjadi pengkarya. Bertemu dan berteman dengan orang-orang hebat menumbuhkan dorongan kuat untuk melakukan suatu perubahan. Setelah menerima banyak masukan dan dorongan dari teman-teman dan seniman yang ia jumpai, akhirnya pameran Hikayart Goro menjadi pameran perdana bagi Melly. 

“Sebuah pengalaman hebat karena ini bukan hanya tentang penciptaan karya, tetapi juga keberhasilan menaklukkan ketakutan saya sendiri selama bertahun-tahun,” tuturnya.

Meskipun memiliki peran dan pekerjaan lain yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, hal itu tidak menjadi halangan untuk terus berupaya merawat keinginan berkarya. Katanya, setiap kita selalu punya dorongan untuk membuat sesuatu, apa pun bentuknya, tergantung kita mau terus merawatnya atau tidak. Menurut Melly menciptakan suatu karya bukan hanya sekadar membuat sesuatu, lebih dari itu merupakan sebuah dorongan untuk melihat ke dalam diri, lalu menjadikannya medium ekspresi diri. Sehingga dengan terciptanya suatu karya maka bertumbuhlah kita di sisinya.

Jika ingin berpameran tapi muncul perasaan tidak yakin, merasa tidak pantas, atau insecure karena bukan merupakan lulusan akedemisi seni rupa, kata dia lagi, jangan terburu-buru menutup diri dan berkata tidak mungkin. Kemungkinan dan kesempatan itu ada di luar sana. Tangkap peluang itu sebaik-baiknya, jika belum lolos kurasi maka coba lagi. Bisa jadi butuh banyak momen “gagal” dulu sebelum diri kita siap menerima tantangan di depan. 

“Menyerah bukan opsi jika kita ingin memilih jalan ini. Teruslah berkarya,” ujarnya.

Sara Baragbah punya kisah lain. Sejak masa sekolah SMP-SMA dia sudah punya ketertarikan terhadap dunia seni dan kemudian menyambung kuliah di bidang Fine Art. Dari sana dia mendapatkan pengalaman belajar lebih mendalam tentang teknik dan pengetahuan terkait seni rupa. Tapi setelah selesai kuliah dia tidak aktif berkesenian karena menikah dan tinggal di Pekanbaru.

Menurutnya, itu membutuhkan adaptasi dengan tanggung jawab dan kesibukan yang baru sebagai seorang istri. Selama beberapa tahun dia sibuk dengan urusan rumah tangga, hampir tidak ada ruang untuk berkreasi.  Namun dorongan dan gairah seni selalu muncul, dia merasa butuh berekspresi.

“Saya memilih dunia make-up artis sebagai aktivitas untuk berekspresi, akan tetapi dunia make-up belum bisa  mencukupi gairah seni saya. Masih terasa ada kekosongan di dalam diri karena hasil karya yang hanya dikenang sesaa. Juga, kebebasan berekspresi masih terbatas. Kemudian saya terdorong untuk melukis dan mengekplorasi dunia seni lebih dalam,” jelasnya.

Tantangan terbesarnya dalam berkarya adalah membagi waktu antara tanggung jawab sebagai istri, ibu, dan pkerjaan rumah. Selain itu networking untuk membangun relasi profesional di acara-acara yang sering berlansung di malam hari karena waktu yang terbatas utk mnghadiri acara di malam hari.

Namun dia tetap berusaha untuk berkarya. Dan pertama kali yang dirasakan ketika ikut pameran adalah bangga dengan diri sendiri bisa sampai sejauh ini selain itu lebih percaya diri untuk berekspresi dan lebih menghargai diri sendiri dengan karya yg dihasilkan. Pengalaman berharganya  selama mengikuti Hikayart GoRo adalah memperluas relasi dengan komunitas seni yang lebih besar dan mempunyai pengalamannya tersendiri. Selain itu prasaan senang melihat hasil karya diamati oleh penikmat seni.

“Pelajaran hidup yang  saya dapatkan dari berkarya ialah penemuan kembali identitas diri, menyadari bahwa diri memiliki potensi, bakat, dan pemikiran yang bernilai di luar status sebagai ibu rumah tangga,” ungkap Sara.

Dia berpesan agar siapa pun yang ingin masuk dalam dunia seni agar membuang rasa tidak percaya diri dan pemikiran tentang apa pandangan orang tentang hasil karya yang akan dihasilkan kerana itu yang akan menjadi hambatan untuk berkarya dan berekspresi.***

Editor : Arif Oktafian
#berkaya #galeri hang nadim #perempuan #diskusi