Setiap daerah memiliki kekhasan budaya lokalnya yang perlu diangkat ke permukaan, termasuk Kota Dumai. Kota pelabuhan yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka ini berharap menjadi kota yang literat di masa depan.
TRISNA Wardayanti tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Dia menyimak dan mengikuti setiap materi yang diberikan oleh masing-masing narasumber dengan serius. Dalam sesi tanya-jawab, dia juga aktif bertanya hal yang dia belum paham tentang dunia penulisan. Dia mengaku senang dan beruntung terpilih mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Lokal Kota Dumai, di Pendopo Pemkot Dumai.
Menurutnya, materi dan motivasi yang diberikan oleh para narasumber sangat membantu dirinya dalam membangkitkan kembali gairah menulis. Selama ini dia menulis berbagai genre tulisan, termasuk novel, di platform digital, dan mengalami kejenuhan. Dengan mengikuti kegiatan ini, katanya, gairahnya untuk menulis kembali membara.
“Terus terang, saya banyak mencoba berbagai genre tulisan, tetapi merasa tidak memuaskan karena banyak kesalahan di sana-sini. Bimtek ini membuka pikiran saya untuk terus menulis dan menjadi lebih baik,” kata Trisna.
Selama dua hari, Rabu-Kamis (10-11/6/2026), Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Kota Dumai menyelenggaran Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Lokal Kota Dumai, di Pendopo Pemkot Dumai. Pendanaan kegiatan ini berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Dana Bantuan Pengembangan Program Perpustakaan Daerah Tahun 2026 dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Di Dumai, Dispersip Dumai sebagai pengelolanya. Selain Dumai, beberapa daerah di Riau juga mendapatkan bantuan program ini, seperti Indragiri Hulu (Inhu), Indragiri Hilir (Inhil), dan Kota Pekanbaru.
Menurut pustakawan Dispersip Dumai yang ikut terlibat secara intens dalam kegiatan ini, Rizca Defriyanti, tahapan-tahapan kegiatan sudah dilakukan sejak awal tahun dengan melakukan persiapan di berbagai hal agar kegiatan ini berjalan lancar, sukses, dan memberi hasil akhir seperti yang diinginkan oleh Perpusnas. Mulai dari penyaringan peserta, misalnya, dari 61 orang yang mendaftar, 50 di antaranya terpilih untuk mengikuti bimtek ini. Para peserta berasal dari berbagai kalangan seperti pegiat literasi, guru, pegawai pemerintah, penulis lepas, mahasiswa, masyarakat umum, hingga akademisi. Bahkan ada beberapa peserta yang lulusan S-1 hingga doktoral.
Penyaringan dilakukan dengan menilai karya esai semua pendaftar. Penilaian ini dilakukan oleh tiga narasumber yang ditunjuk. Yakni Prof Dr H Muhammad Rizal Akbar SSi MPhil (Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin [IAITF] Dumai), Yulita Fitriana SPd MA (Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Provinsi Riau), dan Hary B Koriun (Redaktur Pelaksana Riau Pos).
Setelah terpilih 50 peserta, kata Rizca, mereka mendapatkan materi dari para narasumber dalam bimtek sebagai pendalaman dari karya yang sudah ditulis untuk diperbaiki dan dipertajam, baik materi tulisan, visi, dan konten lainnya. Harapannya, setelah mengikuti bimtek, kualitas naskah peserta meningkat dan siap diterbitkan menjadi sebuah buku antologi bersama yang diedarkan dan dibaca oleh masyarakat, terutama di perpustakaan.
“Kami yakin narasumber yang kami pilih adalah orang-orang yang tunak di bidang ini untuk membantu para peserta menaikkan kualitas tulisannya dan layak diterbitkan menjadi buku bunga rampai tentang budaya lokal Dumai,” ujar Rizca saat acara bimtek kepada Riau Pos, Kamis (11/6).
Saat acara bimtek, para peserta sangat antusias mengikuti materi-materi yang diberikan oleh narasumber yang dibantu moderator Syahrul Affandi SPd. Dalam dua kesempatan, Prof HM Rizal Akbar memberikan materi dengan penekanan tema “Budaya dan Kearifan Lokal Kota Dumai” dan “Teknik dan Metode Pengumpulan Data dalam Kepenulisan”. Pada materi pertama, M Rizal Akbar menjelaskan tentang apa dan bagaimana kriteria yang dimaksud dengan kearifan lokal yang terdapat di Dumai. Kearifan lokal yang dimaksud mencakup pada kebudayaan (Melayu) yang lahir, tumbuh, dan berkembang di Dumai. Mulai dari adat-istiadat masyarakat, permainan tradisional, musik, makanan khas, dan lainnya.
Sedangkan pada materi kedua dijelaskan tentang bagaimana seorang penulis harus melakukan penelitian atau riset untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan dengan metode riset tertentu. Dalam hal ini metode penelitian kebudayaan. Tulisan yang baik dan mendalam harus memiliki data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Tanpa data yang valid dan akurat, maka tulisan kita akan tumpul dan susah dipertanggungjawabkan,” jelas M Rizal Akbar.
Dalam kesempatan lain, Yulita Fitriana memberikan materi tentang “Dasar-Dasar Kepenulisan dan Teknik Penulisan” dan “Kebahasaan dan Teknik Pengembangan Naskah dalam Kepenulisan”. Pada materi pertama, Yulita membahas tentang dasar penulisan dan bagaimana mengembangkan teknik-teknik penulisan agar pembaca menarik pada naskah yang dihasilkan penulisnya. Menguasai dasar dan teknis penulisan secara baik dan benar, kata Yulita, akan membuat tulisan menjadi kuat, mendalam, berisi, dan tak mudah dilupakan pembaca.
Pada materi kedua, Yulita menyampaikan pentingnya memahami bahasa (Indonesia) dalam penulisan. Hal ini termasuk mengembangkan naskah agar lebih plastis, mudah dipahami, dan membuat pembaca betah hingga menyelesaikan tulisan tersebut. Menurutnya, untuk memahami dua materi tersebut, para (calon) penulis harus terus berlatih dan mengulang-ulang, membaca karya penulis yang lebih baik, dan terus berusaha mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa agar tulisannya tidak kaku dan enak dibaca.
“Seorang penulis yang baik harus tahu dasar dan teknik menulis, menguasai bahasa, dan mampu mengembangkan naskahnya dengan baik. Dan itu bisa dipelajari,” ujar lulusan Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Sedangkan Hary B Koriun memberikan beberapa materi seperti “Teknik Membuat Judul yang Menarik”, “Penyusunan Kerangka Tulisan”, “Penggunaan Bahasa yang Efektif dan Komunikatif”, “Teknik Swasunting”, “Gaya Selingkung dan Layout Naskah”, dan “Proses Penerbitan Naskah”. Hary menjelaskan, seorang penulis yang baik, selain memahami apa yang disampaikan oleh Prof M Rizal Akbar dan Yulita Fitriana, juga harus memahami bahasa tulis yang baik sebagai bekal untuk menyunting naskahnya sendiri (swasunting/self editing). Meski begitu, katanya, sehebat apa pun seorang penulis dalam menghasilkan naskah dan memahami swasunting, dia tetap perlu editor atau penyunting di luar dirinya.
“Banyak penulis yang mengaku dirinya hebat, tetapi tanpa editor atau penyunting lain, dia tak akan tahu kesalahannya. Dan untuk menjadi penyunting itu tidak mudah. Maka penulis juga harus mempelajari seluk-beluk dunia penyuntingan untuk tulisannya sendiri sebelum ditangani oleh penyunting yang menangani sebuah penerbitan,” ujar Hary.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Dumai, Syahrinaldi SSos MSi saat pembukaan bimtek, menjelaskan, pembudayaan kegemaran membaca sebagaiman diamanatkan dalam UU No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan literasi, salah satunya adalah pengembangan kemampuang menulis. Dijelaskannya, kegiatan penulisan tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan pengetahuan, serta kekayaan budaya daerah, termasuk Kota Dumai. Kegiatan bimtek ini, kata dia, adalah sebagai upaya meningkatkan kapasitas penulisan sekaligus menghasilkan karya tulis yang mengangkat khasanah budaya dan kearifan lokal Dumai.
“Kota Dumai memiliki beragam potensi budaya dan kearifan lokal yang perlu didokumentasikan dan dipublikasikan agar tetap lestari dan dikenal oleh masyarakat luas. Kegiatan bimtek ini merupakan salah satu upaya untuk hal itu,” kata Syahrinaldi.
Sementara itu, Sekretaris Dispersip Dumai Mira Syaifi Miswati SKom didampingi Kabid Perpustakaan Irna Ariyanti SSos, mengucapkan terima kasih kepada para narasumber yang telah memberikan ilmunya kepada para peserta bimtek. Menurutnya, bimbingan yang diberikan kepada para penulis diharapkan akan digunakan oleh mereka untuk memperbaiki dan mempertajam karya mereka agar lebih berkualitas lagi.
Dia juga memberi apresiasi tinggi kepada 50 peserta yang ikut bimtek karena mengikuti kegiatan dengan bersungguh-sungguh, aktif, komunikatif, dan penuh antusias dalam menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi dibanding tulisan awal yang membuat mereka terpilih ikut bimtek ini. Menurutnya, dengan dibukukannya karya-karya para peserta, membuat mereka bersungguh-sungguh dan tak ingin melewatkan dalam mendapatkan ilmu dari para narasumber.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para narasumber yang bernas saat memberikan materi. Juga kepada para peserta yang penuh antusias mengikuti kegiatan ini. Ini menjelaskan bahwa pembangunan literasi di Dumai mendapat dukungan besar dari masyarakat yang mencintai bidang ini,” ujar Mira Saifi.
Mira juga menjelaskan bahwa ke depan Pemkot Dumai akan terus berusaha melakukan kegiatan-kegiatan berbasis literasi dan kepenulisan, termasuk mengangkat kembali legenda, mitos, dan cerita rakyat Dumai dalam bentuk tulisan dan dibukukan. Kata dia, Bunda Literasi Dumai, Leni Ramaini Paisal, sangat antusias dalam mengembangkan literasi di dumai, termasuk merencanakan banyak hal agar tingkat literasi di dumai meningkat dan unggul di masa depan. Baik dalam bidang penulisan maupun literasi yang lain.***
Editor : Bayu Saputra