Memperingati 21 tahun berdirinya, Sanggar Ketelah Budak mementaskan Operet Anak Dedap Durhaka di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, 24-25 Juli 2026. Salah satu ikhtiar dalam memberikan laluan seni kepada anak-anak yang tak banyak mendapatkan porsi dalam dunia seni.
TIGA puluhan aktor cilik tersenyum bangga, tertawa lepas, berbaris di panggung dan memberi salam hormat kepada audiens, diiringi nyanyian penutup operet yang menggema dalam gedung megah dengan keceriaan khas kanak-kanak. Persembahan karya yang telah menjalani proses sepanjang lebih setengah tahun itu memperlihatkan hasilnya di hadapan publiknya. Paling tidak, Sanggar Keletah Budak (SKB) menunjukkan eksistensi dan kerja kreatifnya yang tak henti-henti sepanjang usianya yang memasuki 21 tahun. SKB telah memberi warna dan sumbangsih tak ternilai di arus utama dunia seni di Riau.
Persembahan operet anak digelar sebanyak tiga sesi, Jumat (24/7/2026) pukul 16.00 WIB dan Sabtu (25/7/2026) pukul 14.00 WIB dan pukul 20.00 WIB di Anjung Seni Idrus Tintin. Dan setiap sesinya diramaikan anak-anak panti asuhan dan komunitas anak lainnya yang sengaja diundang pihak pengelola SKB untuk memberikan hiburan dalam suasana sukaria. Kehadiran penonton khusus yang diapresiasi para donatur dengan mendonasikan tiket menonton untuk mereka, menambah spirit para aktor cilik untuk tampil total sepanjang tiga sesi yang direncanakan.
“Kami bahagia, pada peringatan hari jadi 21 tahun Sanggar Keletah Budak kembali mempersembahkan operet anak di hadapan publik kota ini. Persembahan seperti ini memang kami rencanakan jauh-jauh hari yang juga bersempena dengan peringatan Hari Anak 2026,” ungkap Rina NE selaku pendiri, pengelola, penulis naskah sekaligus sutradara operet tersebut.
***
Menurut Rina, proses kreatif operet anak Dedap Durhaka berlangsung lebih dari setengah tahun (Januari-Juli 2026) dengan jadwal latihan tiga hingga empat kali pertemuan setiap pekannya. Anak-anak bersemangat dalam berlatih dan mengolah potensi-potensi yang tersembunyi di dalam dirinya. Apalagi Rina sangat mengenal dan memahami karakter pribadi anak asuhnya. Bahkan dalam menulis naskah drama anak pun, Rina sudah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, baik bahasa maupun kecendrungan karakter tokoh yang diperankan anak asuhnya. Hal ini memudahkan mereka untuk mengenal dan mendalami karakter yang mereka perankan dalam kisah Dedap Durhaka.
Sepanjang proses kreatifnya, Rina mengajak anak asuhnya dengan gaya berlatih sambil bermain untuk menghilangkan rasa boring. Apalagi Rina benar-benar memahami bahwa dunia anak memang dunia bermain. Setelah memuaskan hasrat alami anak asuhnya, Rina tinggal memotivasi para aktornya memasuki dunia cerita Dedap Durhaka dan pelan namun pasti anak-anak menemukan karakter yang diharapkan.
“Kita tidak bisa memaksa anak-anak untuk langsung fokus menuju cerita atau pengisahan dalam karya. Harus ada cara dan trik yang jitu agar mereka merasa tidak ditekan untuk fokus. Biarkan mereka memuaskan hasrat bermain dengan kawan-kawan, setelah itu barulah pelan-pelan diberi pemahaman untuk masuk ke dunia teater yang akan mereka mainkan. Makanya, proses penciptaan untuk teater anak itu memerlukan waktu tidak sebentar. Harus sabar dan ikhlas,” ulas Rina berfilosofi usai pertunjukan sesi terakhir kepada awak media, Sabtu (25/7/2026) lalu.
Salah seorang audiens yang hadir di sesi terakhir, Yopi Pranoto, mengatakan, suguhan yang ditampilkan anak-anak SKB mampu menarik perhatian penonton dari opening hingga closing. Dia meyakini bahwa anak-anak tentulah berlatih dengan sangat tekun sehingga hafal kapan menyambut dialog dari kawan main, keluar-masuk panggung saat gilirannya berlakon, dan lain-lain. Dia juga mengaku salut kepada anak-anak dan sutradara operet itu karena mampu menarik perhatian penonton untuk mengikuti pertunjukan detik per detik.
“Salut buat anak-anak, sutradara, tim artistik serta tim produksi operet anak Dedap Durhaka. Mereka patut diapresiasi, tidak hanya masyarakat tapi juga oleh pemerintah daerah maupun pihak-pihak swasta,” ulasnya.
***
Legenda anak durhaka di Indonesia terbilang banyak dan beragam. Sebut saja yang popular Tangkuban Perahu (Jawa Barat) dan Malin Kundang (Sumatra Barat). Di Riau sendiri, masing-masing kabupaten/ kota hampir memiliki kisah yang sama. Bahkan SKB telah mengangkat kisah anak durhaka ke dunia teater seperti Awang Putih (Bengkalis), Batang Tuaka (Indragiri), Tengkuluk Paya dan Dang Gedunai (Kuansing), Jang Sibono dan Batu Belah Batu Betangkup (Kampar), Dedap Durhaka (Kepulauan Meranti) serta kisah serupa lainnya.
Kisah-kisah anak durhaka ini sengaja diangkat kembali dari generasi ke generasi SKB agar mereka mengenal kisah tauladan di tanah kelahirannya. Kisah yang syarat nilai dan makna ini tentu saja menjadi kebangaan bagi anak-anak untuk mencintai seni dan budaya Indonesia, dalam hal ini Melayu Riau sebagai kekayaan tak ternilai harganya.
“Sejak awal saya mendirikan komunitas anak ini, kisah dan legenda masyarakat Riau jadi pilihan utama. Awalnya, saya berasumsi agar mereka tidak larut dan mengikuti tindak-tanduk kisah dalam film kartun asing yang tidak mendidik sama sekali. Saat ini, mengenalkan legenda kepada gen Z yang juga terhipnotis oleh suguhan tak tentu arah di kanal-kanal media sosial yang tak berujung berpangkal,” jelas Rina panjang lebar.
Salah seorang aktor dalam operet anak Dedap Durhaka, Prita Maryam, yang berperan sebagai Mak Dedap menyebut, dirinya sudah ikut dalam beberapa produksi SKB, baik Tengkuluk Paya, Dang Gedunai maupun Dedap Durhaka. Setiap kali ikut dalam produksi, dirinya semakin percaya bahwa anak-anak harus dikenalkan dengan kisah dan legenda daerahnya sebagai kekayaan yang luar biasa. Prita yang saat ini tercatat sebagai siswi MTsN Pekanbaru merasa betah dan makin bersemangat untuk mengikuti dunia akting dalam SKB.
“Saya di SKB sejak SD dan semangat saya terus tumbuh untuk belajar teater bersama Enda (panggilan akrab Rina, red) dan kawan-kawan. Saya merasakan hasil dari kesabaran Enda membina dan mendidik kami di sini. Saya mau terus berteater dan berlatih untuk menempah diri saya. Apalagi orang tua saya memberikan dukungan penuh untuk itu,” ujarnya.
***
Saat pegelaran operet anak Dedap Durhaka di Anjung Seni Idrus Tintin, seluruh tim, baik artistik maupun produksi saling bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama. Para aktor pun beberapa hari sebelumnya, bisa berlatih dari pulang sekolah pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB untuk memadumadankan berbagai unsur dalam karya teater antara akting, nyanyian, tarian, dekorasi, pencahayaan dan lainnya agar menjadi satu kesatuan yang utuh.
Para leader, baik komposer, koreografer, penata cahaya, penata panggung, penata kostum dan make-up, penata video/ gambar (foto), show director, stage manager kerap terlihat berdiskusi untuk mewujudkan obsesi sutradara dalam penciptaan karya tersebut. Bahkan perdebatan sering pula tak terhindarkan hingga menemukan jalan yang terbaik untuk dilanjutkan. Kondisi dan situasi seperti ini memang khas teater dan bagi mereka hal itu sangat menyenangkan.
Komposer Iwan Landel menambahkan, dirinya memang selalu terlibat dalam karya-karya operet produksi SKB. Menariknya, pelibatan komposer sudah dimulai sejak produksi akan dikerjakan alias tidak beberapa hari karya akan digelar. Diskusi alot dengan sutradara membuat karya ini menjadi karya bersama.
“Saya lihat begitu juga dilakukan Rina dengan tim lainnya seperti penata panggung, cahaya, kostum dan make-up. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari SKB yang produktif sejak berdiri hingga saat ini,” ungkap komposer grup musik Punca Sebunyi yang diiyakan rekannya, Micko Celo.
Tika, orang tua aktor, Arkhan, yang berperan sebagai Dedap merasa bangga kali ini anaknya terpilih sebagai tokoh utama. Dia juga sudah mengamati perjalanan SKB beberapa tahun terakhir yang tak ada matinya da lam melahirkan ide-ide kreatif. Tidak hanya karya teater, bahkan film pun bisa diproduksi Enda dan kawan-kawan melibatkan ketiga komunitas yang mereka asuh seperti Sanggar Keletah Budak (anak-anak), Blacan Art Community (remaja) dan Lembaga Teater Selembayung (umum).
“Saya merasakan suasana dan rasa persaudaraan di komunitas ini. SKB dan lainnya seperti rumah kedua bagi kami. Anak saya Arkhan, selalu bersemangat untuk datang berlatih setiap jadwal yang ditentukan. Alhamdulillah tahun ini, Arkhan terpilih sebagai Aktor Teladan SKB 2026,” katanya.
***
Kesenangan dan keriangan dalam berkesenian bukan tanpa masalah. Setiap kebahagiaan yang dirasakan para pengasuh SKB tak pernah berjalan mulus dan lancar-lancar saja. Soal gagasan dan penciptaan produk apapun rintangannya dapat diatasi bersama-sama. Namun di luar itu, terutama menyoal urusan pendanaan dan menarik simpati donatur serta masyarakat memerlukan tenaga ekstra dan kerja keras pantang menyerah.
Pengalaman berulang dengan rintangan dan tantangan berbeda dalam setiap produksi memerlukan keputusan jitu, bahkan improvisasi saat jalan terasa buntu. Misalnya, mengajak BUMD maupun perusahaan swasta untuk ikut berpartisipasi bukan perkara mudah. Konsep kegiatan, konsep karya, konsep publikasi dan konsep-konsep lainnya tak luput dari perhatian calon sponsor. Artinya, penyelenggara harus mampu meyakinkan calon sponsor untuk mau berpartisipasi. Meski belum maksimal, namun beberapa sponsor tertarik dan mau memberikan support berarti dalam operet itu. Salah satu BUMD yang bersedia adalah PT Riau Petroleum.
Pimpinan Produksi Operet Anak Dedap Durhaka yang juga pimpinan Lembaga Teater Selembayung, Fedli Azis, menjelaskan, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pementasan kali ini. Dia bersyukur ada kalangan swasta yang peduli dan mendukung, seperti PT Riau Petroleum itu. Dia berharap kalangan swasta akan memberi dukungan kepada kerja-kerja seni dan budaya di Riau agar para seniman dan budayawan mampu berkarya dengan lebih baik lagi.
Namun, dia agak kecewa dengan pemerintah, dalam hal ini Pengelola Gedung Anjung Seni Idrus Tintin yang memungut retribusi lumayan mahal dengan alasan mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal seniman bertungkus-lumus berusaha berkarya tanpa bantuan apa pun dari pemerintah. Ketika bisa berkarya, harus berhadapan dengan birokrasi dan pungutan retribusi. Padahal biaya produksi yang dikeluarkan juga tidak kecil.
“Kalau begini kondisinya, berarti seniman yang menyumbang subsidi untuk pemerintah daerah. Dulu seniman yang memperjuangkan pembangunan gedung dan pengelolanya. Setelah dibangun dan dibentuk pengelolanya, justru seniman gamang untuk tampil karena biaya yang tidak sedikit. Demi mengejar PAD juga, Anjung Seni Idrus Tintin sekarang juga disewakan untuk kegiatan non-seni dan budaya. Padahal gedung itu dibangun untuk kegiatan seni dan budaya,” ujar Fedli.
Tentang hal itu, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Riau, Tekad Parbatas Setia Dewa, menjelaskan, pihaknya tidak sembarangan dalam memungut retribusi kepada pengguna Anjung Seni Idrus Tintin. Semua sudah diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub). Sebelumnya juga ada Perda No 9 Tahun 2013 yang mengatur penggunaan gedung tersebut. Kadispar juga menjelaskan bahwa Dispar diberi beban mendapatkan PAD sehingga tak bisa menghapus retribusi untuk seniman atau kelompok masyarakat yang menggunakan gedung tersebut.
“Kami tidak sembarangan dalam memungut retribusi penggunaan Gedung Anjung Seni Idrus Tintin. Kami mengikuti peraturan yang sudah ada. Pergub atau Perda itu sudah ada jauh sebelum saya menjadi Kadispar. Untuk pementasan Bang Fedli Aziz, kami juga sudah sepakati. Untuk seniman, kami memberi harga paling rendah dan memberi diskon,” kata Kadispar kepada Riau Pos, Sabtu (1/8/2026).***
Editor : Bayu Saputra