Untuk ke-22 kali, Galeri Hang Nadim (GHN) menggelar pameran seni rupa. Kali ini pameran tunggal karya-karya abstrak Cak Winda. Sebuah objek apresiasi yang setiap orang bisa berbeda dalam memahaminya.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - RABU (9/9/2026) malam, suasana di kedai kopi Anjungan Kampar, Kompleks Bandar Serai, Pekanbaru, lumayan riuh. Hampir 40 orang berkumpul mengikut pembukaan pameraan tunggal Cak Winda, perupa asal Pekanbaru, Riau. Untuk pertama kalinya, Cak Winda membuat pameran tunggal bertajuk Context-Rasi Rasa di Galeri Hang Nadim (GHN), yang ruangannya persis di atas kedai kopi tersebut.
Pameran ini dibuka oleh salah satu tokoh pemuda Riau, Ridho Ikhsan –yang juga membeli salah satu lukisan—yang ditandai dengan coretan di kanvas, diikuti oleh beberapa tokoh masyarakat dan seniman yang hadir. Dalam kesempatan itu, Ridho sangat mengapresiasi upaya Cak Winda yang terus tekun berkarya di jalur seni rupa (lukisan) abastrak hingga membuat pameran tunggal ini. Menurut dia, pencapaian yang didapat dan dilakukan Cak Winda merupakan kerja besar hingga menyelesaikan 30 lukisan dan karya abstrak lainnya yang dipamerkan.
“Ini kerja besar dan luar biasa. Dalam bidang seni rupa di Riau, saya kira apa yang dilakukan Cak Winda ini sebuah kerja seni yang sangat besar dan pantas diapresiasi oleh siapa pun. Saya juga sepakat bahwa ekosistem seni yang ideal mesti melibatkan banyak pihak. Termasuk memunculkan kolektor-kolektor karya seni,” ujar Ridho.
Baca Juga: Festival Sastra Melayu Riau IV 2026, Sastra Pesisir: Dari Raja Ali Haji hingga Marhalim Zaini (3)
Selain Ridho, dalam acara pembukaan itu juga dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Riau, Kristanto Januardi; Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Anton Widiyanto Putra, dan beberapa seniman dan kritikus seni seperti Fachrozi Amri, Ade Donora, Kunni Masrohanti, Bennie Riaw, Muhammad Rafles, dan yang lainnya. Dalam acara pembukaan itu juga menampilkan pembacaan puisi “Hikayat Rasi Rasa” oleh Nayla Azizi, siswi SMA 3 Pekanbaru. Pameran ini akan berlangsung mulai tanggal 9 September hingga 10 Oktober 2026 di GHN Pekanbaru. Pameran ini dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB, dengan tiket masuk sebesar Rp20.000.
Kepala GHN, Furqon Elwe, menjelaskan, pameran tunggal Cak Winda bertajuk Context-Rasi Rasa ini adalah pameran tunggal kedua yang ditaja GHN setelah pameran Identic 4 karya Junaidi Syam, Februari 2026 lalu. Bagi GHN, ini adalah pameran ke-22 sepanjang galeri ini berdiri. Bulan depan, GHN juga sudah mengagendakan pameran tunggal seorang perupa Riau.
Menurutnya, ini perkembangan menarik dan tentu saja menggembirakan, karena pameran tunggal jarang diselenggarakan di Riau, Pekanbaru khususnya. Hal ini bisa dibaca sebagai makin tumbuhnya kepercayaan perupa kepada GHN sebagai pihak penyelenggara pameran. Kepercayaan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh karena rekam jejak GHN. Galeri sebagai salah satu elemen ekosistem seni rupa, setakat ini berhasil menjalankan perannya sebagai pembuka “wacana pasar” sembari terus “memasarkan wacana” untuk membangun ekosistem seni rupa yang ideal.
Baca Juga: Pementasan Operet Anak Dedap Durhaka, Cara Perkenalkan Cerita Rakyat pada Anak
Dijelaskan Furqon, selain berorientasi pasar seni rupa, GHN juga menggelar diskusi dan merangkul penulis maupun media untuk menulis peristiwa pameran sebagai upaya membangun ruang diskursus dan literasi visual sebagai sebagai implementasi pasar wacana. Dia juga menjelaskan, pada Agustus lalu, Divisi Art Dealer GHN berhasil menjual 7 lukisan yang dipajang di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Pembelinya adalah seorang kolektor dan penyuka seni asal Australia yang kebetulan akan melakukan selancar ke Mentawai. Dia membelokkan perjalanannya ke Pekanbaru dulu sebelum ke Sumbar untuk membeli lukisan tersebut.
Terkait pameran Context ini, kata Furqon, perupa Cak Winda menawarkan pengalaman olah rasanya yang mengulik huruf sebagai objek abstrak dan keterkaitan dengan genre seni lukis abstrak yang dilakoninya sejak lama. “Bagi penikmat seni rupa, memahami lukisan abstrak tidak bisa kita bertanya ‘apa arti karya ini’, tetapi bagaimana kita mencoba masuk, merasakan, dan menikmati karya tersebut,” jelas Furqon.
***
CAK Winda yang juga menguratori sendiri pameran pribadinya ini menjelaskan, Context-Rasi Rasa adalah sebuah pameran tunggal yang merupakan perjalanan dia dalam memahami hubungan antara rasa, pengalaman, karya, dan kehidupan. Pameran ini berangkat dari proses eksplorasi melalui menggambar dan menulis, terutama saat dia membuat art project Tadarus Rasa saat Ramadan. Melalui karya-karya ini, dia mencoba melihat bahwa rasa bukan hanya sesuatu yang berada dalam diri manusia, tetapi memiliki hubungan dengan waktu, ingatan, perjumpaan, alam, dan berbagai pengalaman yang membentuk kehidupan.
Soal tema yang dipilihnya, Cak Winda menjelaskan, awalnya pameran ini direncanakan dengan judul Rindang Bayang. Namun dalam perjalanan berkarya, dia menemukan bahwa yang menarik bukan hanya bayangan dari pengalaman, tetapi hubungan yang membentuk pengalaman tersebut. Diceritakannya, dia melihat bahwa sesuatu memiliki makna karena memiliki konteks. Seperti rasi bintang: titik-titik cahaya yang terlihat terpisah dapat membentuk pola ketika dilihat secara menyeluruh.
“Begitu juga dengan rasa manusia; setiap pengalaman memiliki hubungan yang membentuk makna,” kata Cak Winda kepada Riau Pos dalam dua kali perjumpaan, saat temu media pada Selasa (8/9/2026) dan saat pembukaan pameran, Rabu (9/9), di ruang pameran GHN, Pekanbaru.
Dijelaksannya lagi, pameran ini merupakan perjalanan personalnya sebagai perupa. Namun dalam prosesnya, karya tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari berbagai perjumpaan, pengalaman, lingkungan, dan hubungan yang membentuk cara dia melihat kehidupan. Cak Winda mengucapkan semua orang yang terlibat dalam pameran ini, terutama teman-temannya di GHN yang bekerja keras agar pameran ini terselenggara dengan baik.
Dalam menghasilkan karya lukis ini, kata Cak Winda, prosesnya berangkat dari eksplorasi abstrak. Dia tidak memulai dari keinginan menggambarkan bentuk tertentu, tetapi dari proses merasakan, mengamati, dan merespons pengalaman. Dia menggunakan garis, bentuk, warna, dan teks sebagai bahasa visual. Baginya, abstrak bukan sesuatu yang jauh dari kenyataan, tetapi lapisan lain dari kenyataan yang berasal dari pikiran, ingatan, dan rasa manusia.
Dengan karyanya ini, dia tidak ingin memberikan satu kesimpulan tertentu kepada pengunjung. Dia ingin mengajak mereka mengalami dan menemukan hubungan mereka sendiri dengan karya. Karena, katanya, setiap manusia memiliki pengalaman, ingatan, dan rasa yang berbeda. Karya menjadi ruang pertemuan antara pengalaman saya dan kesadaran mereka.
Dalam perjalanan memahami rasa, dia menemukan hubungan yang erat antara rasa, keindahan, dan kebijaksanaan. Seperti yang sering disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), keindahan dapat menjadi bahasa yang mewakili sebuah tindakan yang melampaui sekadar kebaikan. Keindahan bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga menghadirkan keselarasan dan kebijaksanaan.
Menariknya, kata dia, kata “indah” maupun “bijak” tidak memiliki lawan makna yang benar-benar berhadap-hadapan. Keduanya mengarah pada kondisi yang harmonis. Hal ini membuat keindahan menjadi sesuatu yang penting dalam proses penciptaan seni. Sebuah karya bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi tentang bagaimana ia mampu menghadirkan hubungan, keselarasan, dan makna.
***
TENTANG mengapa dia menghadirkan teks gurindam atau puisi dalam pameran seni rupa, lelaki yang meninggalkan profesi guru PNS ini menjelaskan, bagi dia, teks juga merupakan bentuk rupa. Huruf memiliki bentuk, kalimat memiliki susunan, dan bahasa memiliki komposisi. Teks membantu menghadirkan sesuatu yang abstrak menjadi dapat dirasakan. Seperti lukisan abstrak, teks juga berusaha menyentuh sesuatu yang berada di balik yang terlihat.
“30 karya abstrak yang dipamerkan adalah visualisasi dari olah rasa saya yang mencoba mengulik huruf sebagai objek abstrak. Negeri Melayu ini adalah negeri sastra, gudangnya sastrawan, di mana huruf menjadi kata. Kata menjadi kalimat, kalimat menjadi hikayat, puisi, pantun, syair dan seterusnya yang akhirnya melahirkan makna. Dalam konteks itulah saya mencoba memahaminya dengan pendekatan seni rupa,” papar Cak Winda.
Dalam pameran ini, para pengunjung tidak hanya bisa menikmati karyanya, tetapi juga menghadirkan beberapa kegiatan pendukung seperti diskusi seni, life painting, dan workshop. Bagi dia, pameran bukan hanya ruang untuk melihat karya, tetapi juga ruang pertemuan, pembelajaran, dan pertukaran pengalaman antara seniman, pelajar, komunitas, dan masyarakat umum. Dia sangat senang karena respon pengunjung begitu besar, baik saat pembukaan maupun hari-hari pameran. Saat malam pembukaan, misalnya, ada tiga karyanya yang terjual.
“Namn, bagi saya, apresiasi terhadap karya bukan hanya tentang transaksi, tetapi tentang bagaimana karya menemukan hubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari perjalanan mereka,” jelas perupa yang sudah ikut puluhan kali pameran bersama, baik di GHN maupun di tempat lain itu.
Cak Winda berharap, pameran ini dapat menjadi ruang perjumpaan antara karya dan masyarakat. Melalui Context-Rasi Rasa, dia ingin mengajak pengunjung melihat bahwa kehidupan tersusun dari berbagai hubungan. Setiap pengalaman, pertemuan, dan rasa memiliki jejaknya masing-masing. Ketika kita mampu melihat hubungan tersebut, kita menemukan makna yang lebih luas tentang diri dan kehidupan.***
Editor : Bayu Saputra