Festival Sastra Tapak Bayang 2026 (Bagian 2), Membaca Hantu Padang, Membaca Sebuah Perjalanan Puisi

Hary B Koriun • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:40 WIB
Kritikus sastra yang juga Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) Prof Dr Junaidi (tengah) bersama sastrawan Esha Tegar Putra (kanan), dan moderator Pinto Anugrah (kiri), saat membedah buku kumpulan puisi Hantu Padang di Rumah Nonblok, Pekanbaru, Sabtu (19/9/2026).nonblok untuk riau pos
Kritikus sastra yang juga Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) Prof Dr Junaidi (tengah) bersama sastrawan Esha Tegar Putra (kanan), dan moderator Pinto Anugrah (kiri), saat membedah buku kumpulan puisi Hantu Padang di Rumah Nonblok, Pekanbaru, Sabtu (19/9/2026).nonblok untuk riau pos

Diskusi buku puisi Hantu Padang karya Esha Tegar Putra, seperti membawa kita pada sebuah perjalanan bagaimana puisi-puisi lahir dari rahim pengarangnya. Perjalanan hidup pengarangnya menjadikan puisi-puisi yang intens tentang rindu, kampung halaman yang jauh, hingga persoalan gender, dan budaya di belakangnya.

PADA hari kedua Festival Tapak Bayang 2026, Sabtu (19/10/2026) di Rumah Nonblok, Pekanbaru, digelar diskusi bertajuk “Membedah Politik Representasi dan Identitas: Buku Puisi Hantu Padang, Melacak Konstruksi Identitas Kemelayuan dan Representasi Gender dalam Sastra”. Dua pembicara, yakni Prof Dr Junaidi SS Mhum dan penulisnya sendiri, Esha Tegar Putra, dihadirkan untuk membahas buku tersebut.

Menurut Ketua Nonblok Ekosistem, Adhari Donora, kegiatan ini didukung oleh Direktorat Pengembangan Budaya Digital di bawah Direktorat Jendral Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Indonesia, melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

Baca Juga: Dorong Pendaftaran Hak Cipta Motif Batik Lokal

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kementerian Kebudayaan atas terselenggaranya festival ini,” ujar Adhari Donora.

Di depan puluhan pecinta sastra, pegiat literasi, pelaku budaya, dan masyarakat umum yang ikut dalam diskusi tersebut, melalui makalah berjudul “Hantu Padang: Ruang, Rantau, Tubuh, dan Gender” Junaidi menjelaskan bahwa dia membaca Hantu Padang dengan menempatkan puisi sebagai bagian dari praktik kebudayaan. Perhatian utama tidak diarahkan pada bentuk dan estetika puisi semata, tetapi pada cara teks menghadirkan Padang, rantau, ingatan, tubuh, kelas, keluarga, dan relasi gender. Sejumlah puisi dibaca secara dekat untuk menemukan pola representasi yang berulang, kemudian dipertautkan dengan konteks kebudayaan yang lebih luas. 

Dia menggunakan konsep representasi Stuart Hall sebagai pijakan, sedangkan pemikiran Jacques Derrida, Raymond Williams, Homi K Bhabha, Henri Lefebvre, Michel de Certeau, Pierre Nora, Doreen Massey, RW Connell, Judith Butler, Laura Mulvey, dan Gayatri Chakravorty Spivak digunakan secara dialogis sesuai kebutuhan pembacaan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa “hantu” bekerja melampaui pengertian supernatural. Ia menjadi bahasa untuk membicarakan masa lalu yang tidak selesai dan terus hadir dalam kehidupan sekarang. 

Baca Juga: Festival Sastra Tapak Bayang 2026 Melihat Karya Sastra tanpa Bias Gender

Padang pun, katanya, tidak berhenti sebagai kota secara geografis, tetapi menjelma menjadi ruang afektif yang dibawa oleh subjek ke mana pun ia pergi. Pengalaman rantau membuat identitas berada dalam keadaan antara: ingin kembali tetapi tidak mungkin sepenuhnya menjadi diri yang dahulu. Tubuh menjadi tempat kota, kelas, sakit, lapar, dan kerinduan meninggalkan jejak. Dari sisi gender ditemukan keadaan yang ambivalen. Laki-laki mempunyai ruang mobilitas dan suara yang lebih besar, sementara perempuan kerap menjadi pusat afeksi tanpa selalu memperoleh keluasan suara yang sama. Pada saat bersamaan, figur laki-laki dalam puisi juga menjauh dari gambaran maskulinitas yang selalu kuat. Ia sakit, takut, merawat anak, merindukan keluarga, dan mencari perlindungan spiritual. 

“Hantu Padang, dengan demikian, dapat dibaca sebagai medan tempat identitas terus dinegosiasikan melalui ingatan, ruang, tubuh, kelas, gender, tradisi, dan pengalaman rantau,” kata kritikus sastra yang juga Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) ini. 

***

JUDUL Hantu Padang, kata Junaidi, pada mulanya memang mudah membawa imajinasi kepada dunia gaib. Tetapi hantu dalam pikiran Esha ini rupanya tidak selalu datang dari kuburan atau tempat gelap. Ia bisa muncul dari jalan yang pernah dilewati, kedai yang rasanya belum berubah, suara saluang, sepotong pakaian, aroma makanan, tubuh yang mulai menua, atau seseorang yang pernah dekat. Bahkan sebuah kota yang telah lama ditinggalkan dapat datang kembali sebagai hantu.

Di situlah, kata dia, buku ini menarik untuk dibaca dari sisi kajian budaya. Dijelaskannya bahwa dia tidak hendak mempersoalkan terutama apakah metafora Esha indah atau apakah puisinya berhasil secara estetis. Pertanyaan yang dimunculkannya adalah: apa yang dilakukan puisi-puisi ini terhadap makna Padang? Siapa yang mempunyai suara untuk menceritakannya? Bagaimana kota masuk ke dalam tubuh? Apa yang terjadi pada identitas ketika seseorang hidup antara kampung dan rantau? Dan ketika pengalaman itu diceritakan terutama oleh laki-laki, di manakah perempuan ditempatkan?

Dia mengutip Stuart Hall bahwa representasi tidak sekadar mencerminkan kenyataan. Melalui bahasa, manusia justru memberi bentuk dan makna kepada kenyataan. Dari pandangan ini, Padang dalam buku Esha tidak perlu diperlakukan sebagai potret objektif sebuah kota. Ia adalah Padang yang telah melewati ingatan seseorang. Padang yang dirasakan. Padang yang dibandingkan dengan Jakarta. Padang yang pernah ditinggalkan dan kemudian dicari kembali.

Pengalaman personal penyair menguatkan pembacaan tersebut. Dalam pengantar buku, Esha menyebut perjalanan ulang-alik Padang–Jakarta pada 2015–2023 sebagai pengalaman yang ikut membentuk perspektifnya. Bahkan ketika menulis Jakarta atau Depok, lanskap puisinya seperti masih ditarik menuju Padang. “

“Saya kira keterangan tersebut penting. Ia menunjukkan bahwa Padang dalam buku ini telah bergerak dari tempat geografis menjadi ruang kesadaran. Seseorang mungkin dapat meninggalkan sebuah kota dengan pesawat, kereta, atau mobil. Persoalannya, tidak selalu mudah mengeluarkan kota itu dari dirinya,” jelas Guru Besar (Profesor) Kajian Budaya yang dikukuhkan pada Mei 2023 ini.

Kata alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, Padang dalam Hantu Padang terasa hidup justru karena Esha tidak terlalu sibuk membangun kota melalui monumen. Ia membawa pembaca ke banyak tempat di Padang seperti Hiligoo, Tepi Pasang, Pamancuangan, Pasagadang, Tarandam, Alai, Jati, Sawahan, Muara, kedai, jalan, dan pantai. Kota hadir melalui hal-hal kecil. Ketika berjalan dari Hiligoo menuju Tepi Pasang, misalnya, sang aku berhadapan dengan aroma bawang goreng, sate Danguang-Danguang, kerupuk jengkol, kwetiau, tukang parkir, dan pengamen. Lalu muncul pertanyaan dalam puisi: “aku melihat hantu / atau kota ini tak pernah ubah serupa dulu?”.

Menurut Junaidi, pertanyaan itu sengaja dibiarkan tanpa jawaban. Sebab jawabannya mungkin memang tidak tersedia. Apakah kota yang belum berubah? Atau ingatan yang tidak mengizinkan kota berubah? Mengutip Pierre Nora yangmenyebut lieux de mémoire sebagai tempat-tempat tempat ingatan memperoleh jangkar. Tetapi Hantu Padang memperlihatkan bahwa jangkar ingatan tidak selalu berupa situs sejarah. Sebuah kedai nasi pun dapat melakukannya. 

***

PADA bagian lain, Junaidi menjelaskan bahwa satu aktivitas yang terus muncul dalam buku ini adalah berjalan. Sang aku bergerak dari satu ruas jalan ke ruas lainnya, dari Padang ke Jakarta, lalu kembali lagi kepada Padang melalui ingatan. Dalam perjalanan menuju Alai, Jati, dan Sawahan, ia melihat pohon, bandar, rumah sakit, jembatan, halte yang dibongkar, dan ruko yang meninggi. Pada akhirnya ia mengatakan dalam puisinya: “aku terus mengenang / segala hilang / dengan gemilang”.

Menurut akademisi yang juga mendalami ilmu manajemen dengan menyelesaikan doktoral di STIESIA Surabaya (2025) ini, ada ironi yang menarik dalam frasa “hilang dengan gemilang”. Sesuatu justru menjadi sangat terlihat setelah ia tidak ada. Mengutip Michel de Certeau yang memandang berjalan sebagai praktik manusia dalam memberi makna kepada ruang dan Henri Lefebvre yang mengingatkan bahwa ruang tidak pernah netral, Junaidi menjelaskan bahwa ruang dibentuk oleh kehidupan sosial. Karena itu, ketika sang aku berjalan, sebenarnya ada dua perjalanan sekaligus. Tubuhnya berjalan di kota sekarang tetapi ingatannya berjalan di kota yang dahulu. Keduanya sesekali bertemu, tetapi tidak pernah benar-benar berhimpit. 

“Di sinilah kota menjadi lebih dari sekadar latar puisi. Kota mempunyai hubungan timbal balik dengan manusia. Kita tinggal di sebuah kota, tetapi setelah cukup lama, kota itu pun mulai tinggal di dalam diri kita,” jelas lelaki kelahiran Bangkinang, Kampar, ini.

Dalam puisi-puisinya, kata Junaidi, Esha juga berkisah tentang apa yang disebut homesick. Sebuah keadaan yang sering dialami oleh para perantau yang selalu merindukan rumah dan tanah kelahirannya. Pengalaman Padang–Jakarta membawa pembaca kepada salah satu lapisan terpenting buku ini: rantau. Rantau sering memiliki cerita yang gagah. Seseorang pergi meninggalkan kampung, mencari pengalaman, memperoleh pengetahuan, bekerja, lalu kembali dengan sesuatu yang baru. Tetapi Esha memperlihatkan sisi lain yang tidak selalu masuk ke dalam cerita keberhasilan tersebut. Rantau juga dapat membuat seseorang galau. Ia masih merasa mempunyai rumah di Padang, tetapi sebagian hidupnya telah berlangsung di Jakarta. Ia merindukan masa lalu, tetapi dirinya sendiri sudah berubah.

Dalam pandangan Homi K Bhabha, jelas Junaidi, keadaan semacam itu sebagai keberadaan di ruang in-between (di antara). Identitas terbentuk di antara tempat-tempat, pengalaman, dan perjumpaan. Ia tidak lagi mudah dikembalikan kepada satu titik asal. Itu terlihat dari salah satu bait puisi Esha: “Ingin pulang, ingin pulang. Ke arah hari lalu”. Menurut Judaidi, frasa yang paling penting justru “hari lalu”. Sang aku tidak hanya ingin kembali ke Padang. Ia ingin kembali kepada waktu. Di situlah keinginan pulang menemukan batasnya. 

Dalam hal lain, Junaidi melihat ada paradoks dalam representasi perempuan di buku ini. Perempuan terasa sangat dekat dengan kehidupan emosional sang aku. Tetapi kedekatan itu tidak selalu berarti bahwa ia memiliki ruang penceritaan yang sama. Dalam salah satu ingatan masa muda, misalnya, muncul gambaran “bungkah dada” dan “betis padat gadis seberang” dalam puisi Esha. Pada bagian lain, tubuh perempuan hadir melalui punggung dan pinggul yang dikenang. Yang menarik adalah perbedaannya dengan tubuh laki-laki. Tubuh laki-laki banyak diceritakan dari dalam. Kita mengetahui sakitnya, laparnya, batuknya, kecemasannya, ketakutannya. Tubuh perempuan beberapa kali kita kenali melalui pandangan laki-laki.

“Meski begitu, Junaidi tidak ingin terburu-buru menyebut Hantu Padang sebagai teks patriarkal. Label semacam itu justru menutup kerumitan yang sedang kita baca. Ada sesuatu yang lebih ambivalen. Perempuan memang tidak selalu menjadi pusat suara, tetapi justru menjadi pusat afeksi. Laki-laki pergi, tetapi rumah yang dirindukannya mempunyai wajah keluarga. Laki-laki mempunyai cerita perjalanan, tetapi kerinduannya terus mengarah kepada orang yang ditinggalkan. Maka penting secara emosional ternyata tidak selalu sama dengan berkuasa secara representasional,” ujar mantan Dekan FIB Unilak dua periode ini.

Selain bicara tentang hal-hal di atas, Esha juga bicara tentang tradisi dan budaya Minangkabau, budaya yang melahirkan dirinya. Saluang, gamad, dendang, makanan, kain, muara, pantai, dan bahasa lokal hadir berulang kali dalam buku ini. Junaidi mengaku sengaja tidak buru-buru menyebutnya kearifan lokal. Istilah tersebut sering digunakan begitu mudah sehingga kebudayaan akhirnya terdengar seperti benda yang sudah selesai. Tradisi dalam Hantu Padang justru bergerak. Saluang memanggil ingatan. Makanan mengembalikan tempat. Kain menghadirkan tubuh yang sedang jauh. Dendang membawa masa lalu memasuki hari ini. Itu bisa dilihat pada salah satu puisi Esha: “Berguru kepada alam biar pengetahuan dibisikkan”.

“Tradisi dalam pengertian ini bukan sisa masa lalu. Ia masih digunakan manusia untuk memahami kehidupannya sekarang. Karena itu, saya lebih suka menyebut unsur-unsur tersebut sebagai teknologi ingatan. Modernitas boleh mengubah wajah kota, tetapi ia tidak otomatis menghapus cara manusia mengingat. Kadang-kadang masa lalu kembali melalui bunyi saluang. Kadang melalui rasa makanan. Kadang melalui aroma kain. Dan kadang, tentu saja, melalui hantu,” jelas Junaidi.

***

ESHA sendiri lebih banyak menceritakan biografi penulisannya. Juga bagaimana orang tuanya memberi syarat kepada ketika masih berada di tanah kelahiran, Saning Kabar –di sana penduduk menyebutnya Saniangbaka—sebuah kenagarian di Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Sebuah kampung indah di tepi Danau Singkarak. Sejak kecil dia punya cita-cita merantau, namun syarat dari sang ayah, dia boleh merantau setelah menamatkan SMA. Setelah tamat SMA, Esha merantau ke Bandung dan Jakarta, sebelum kemudian dia berpikir untuk kuliah di FIB Unand pada tahun 2005.

Di Bandung, dia ikut te­man-temannya berjualan, yakni membuka depot jamu di Gunung Batu. Kemudian kerja di kedai nasi di Garut, pindah ke Pasar Minggu dan Mayestik (Jakarta) menjual barang-barang plastik, tukang cabut benang konveksi di Warung Buncit (Jakarta Selatan) dan menjadi tukang kantau pakaian anak di pasar-pasar grosir daerah Jakarta. Dari pengalaman selama dua tahun itu, 2003-2005, dia sadar kalau tak punya bakat berdagang.

Pengalaman merantau awal inilah yang menjadi titik awal bagaimana puisi-puisi dia dalam buku ini lahir, ditambah kemudian merantau edisi selanjutnya, yang merupakan rantau intelektual, bukan berdagang. Dimulai dari masuk ke Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, dia kemudian mengenal puisi yang ditulis seniornya, Agus Hernawan, saat Tadarus Puisi 2005 yang diadakan Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia. Dari sana, sejak membaca puisi berjudul “Narasi di Tiga Hari” itu, Esha benar-benar menulis puisi lalu mengirimkannya ke banyak media, baik yang terbit di Padang, Pekanbaru, Jakarta, dan media lainnya. Dia juga mulai mengikuti bagaimana puisi hidup di ceruk-ceruk dan kantong sastra dan budaya di Padang dan kota-kota lain di Sumbar. Juga di kota lain yang kemudian mengundangnya menjadi salah satu penyair muda yang dikenal luas karena karyanya dimuat di media massa. 

Di tengah perjalanan akademinya yang menurutnya tidak lancar dan banyak liku, empat tahun setelah itu Esha memberanikan diri membukukan puisi-puisinya dalam buku puisi pertamanya yang diterbitkan Penerbit Frame Publishing, Yogyakarta, berjudul Pinangan Orang Ladang (2009). Dari sinilah “karir” kepenyairan Esha terus mendapatkan pengakuan hingga melahirkan beberapa buku puisi lainnya dan menjadikannya salah satu penyair Indonesia asal Sumbar yang sangat diperhitungkan.

“Ikut terlibat dalam praktik sastra di Indonesia merupakan sesuatu yang tidak pernah terduga bagi saya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dalam bayangan saya selepas SMA, masa depan hanyalah mengarungi perantauan luas untuk menjadi pedagang. Tapi sastra kemudian hari telah memberi ruang, jejaring, membuka cakrawala berpikir, dan memberikan proses hidup begitu berharga bagi saya secara pribadi–dan kemudian turut menggerakan haluan hidup saya. Sastra, atau puisi khususnya, mengantar saya untuk menyentuh, berinteraksi, dan memberikan kesempatan bagi saya untuk turut serta berbagi di berbagai kesempatan,” kata Ketua Komisi Program dan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini.

Dia bersyukur, buku-bukunya lumayan mendapat tempat. Baik oleh pembaca maupun kritikus. Keberhasilan Hantu Padang meraih penghargaan Buku Puisi Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, menurutnya, adalah buah dari pengalaman hidup panjang yang dia jalani. Mengalaman merantau sejak tamat SMA sebagai pedagang hingga merantau setelah menamatkan kuliah –yang kini mengantarkan menjadi mahasiswa program doktoral di FIB Universitas Indonesia—  adalah pengalaman intelektual yang mungkin tidak didapatkan oleh banyak orang Sumbar.***

Editor : Bayu Saputra
Festival Tapak Bayang 2026 Hantu Padang Eshatagar putra unilak