Menjaga dan menyemarakkan tradisi dari kearifan lokal di penghujung Ramadan atau menjelang Hari Raya Idulfitri masih rutin berlangsung di Kepulauan Meranti. Seperti tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti kembali menggelar Festival Lampu Hias (colok) dengan total hadiah puluhan juta rupiah.
Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang
Lampu colok merupakan budaya masyarakat Riau sejak puluhan tahun silam. Ini juga sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Melayu. Biasanya, gemerlap lampu colok dapat dilihat pada akhir-akhir Ramadan. Pada 27 hari di bulan puasa, sudah banyak menara berupa masjid yang ditegakkan dengan disertai pelita.
Lampu colok memiliki arti dan nilai sejarah bagi masyarakat Meranti. Lampu colok diartikan sebagai pelita atau penerangan dan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Lampu colok biasanya diletakkan di tempat-tempat tertentu seperti di jalan umum, seperti gang, di depan rumah dan lainnya.
Baca Juga: Manfaatkan Potensi Alam Riau, Lenny Listriani Kini Rasakan “Manisnya” Bisnis Madu
Pemandangan seperti ini memberi kesan tersendiri setiap harinya bila malam tiba. Saat ini perkembangan lampu colok tidak lagi sebatas menggunakan lampu minyak, banyak warga juga yang sudah menggantinya dengan lampu listrik dengan aneka warna.
Demikian disampaikan Ketua Panitia Festival Lampu Colok Kepulauan Meranti 2024 Rio Nugraha kepada Riau Pos, Sabtu (6/4).
Menurutnya, sebagai tradisi yang dilakukan turun-temurun, kini festival lampu colok kian berkembang dan semakin kreatif. Bahkan tidak hanya dilaksanakan sebagai tradisi, namun kemeriahan dan antusias masyarakat menjadi hal yang ditunggu masyarakat dalam melaksanakannya.
Masyarakat saat ini biasanya langsung menjadi pelaksana festival ini. Mereka membangun sendiri lampu colok dengan kreativitas di desa mereka masing-masing.
Bahkan beberapa Tahun belakangan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kepulauan Meranti juga akan mengadakan Festival Lampu Colok sebagai bentuk pelestarian nilai budaya di daerah tersebut.
Festival ini juga dilaksanakan dalam rangka untuk mengembangkan destinasi pariwisata dan untuk mempertahankan tradisi budaya Melayu dalam menyambut Hari Raya Idulfitri.
Pada tahun ini Festival Lampu Colok mengangkat tema “Pelita Penerang Menuju Fitra”. Peserta Festival Lampu Colok terbuka untuk semua kalangan secara berjenjang mewakili dari kelompok, Desa/Kelurahan dan Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Pendaftaran sendiri telah dibuka sejak 27 Maret 2024 yang lalu hingga 5 April 2024 mendatang.
Baca Juga: Borong Telur untuk Buat Kue Idulfitri, Dari Kegiatan GPM di Kelurahan Bukit Timah, Dumai
“Untuk pengumuman akan dilakukan tepat pada malam takbiran,” tutur Rio.
Ada beberapa aspek yang dinilai pada Festival ini nantinya yaitu etika, estetika, kreativitas dan konsistensi.
Rio berharap warisan budaya ini dapat terjaga dan terus dilestarikan. “Ini tradisi yang harus dijaga sampai kapanpun. Dari dulu kita sudah semangat, apalagi dilombakan jadi makin semangat,” pungkas Rio.
Total Hadiah Rp36 Juta
Festival ini juga telah dibuka resmi oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata melalui Plt Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Drs M Mahdi di Taman Cik Puan Selatpanjang, Sabtu (6/4).
Baca Juga: Borong Telur untuk Buat Kue Idulfitri, Dari Kegiatan GPM di Kelurahan Bukit Timah, Dumai
Mahdi mengapresiasi kegiatan tersebut. Dia menilai festival itu sangat penting guna melestarikan kearifan lokal yang kerap digelar pada malam 27 Ramadan itu. “Penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang senantiasa berkomitmen tinggi untuk melestarikan festival lampu colok ini,” kata Mahdi.
Lebih jauh dijelaskannya, festival itu bertujuan menjaga budaya tradisional sebagai warisan masyarakat Melayu dan juga dapat dijadikan salah satu ikon wisata. “Ini juga dapat menumbuhkembangkan serta mempererat semangat gotong royong di dalam masyarakat,” ucapnya.
Mahdi mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk terus merawat tradisi tersebut. Hal itu juga dapat membuat warga di perantauan rindu akan kampung halaman. “Mari bersama kita jaga tradisi sejak zaman-berzaman ini, dari generasi ke generasi,” ajak Mahdi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kepulauan Meranti Ery Suhairi melaporkan festival tahunan tersebut diikuti 13 peserta lampu colok, dan 25 peserta lampu hias. “Kami menyiapkan total hadiah Rp36 juta untuk para pemenang,” sebut Ery.***