Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jalin Kekompakan Antarsuku, Festival Perang Air 2025 Meranti Dibuka

Wira Saputra • Jumat, 31 Januari 2025 | 09:59 WIB
Sejumlah masyarakat di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti ikut menyemarakkan Festival Perang Air 2025, Kamis (30/1/2025).
Sejumlah masyarakat di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti ikut menyemarakkan Festival Perang Air 2025, Kamis (30/1/2025).

SELATPANJANG(RIAUPOS.CO)- Festival Perang Air Kepulauan Meranti dubuka secara resmi pada hari kedua Imlek. Pembukaan dilakukan Plt Bupati Kepulauan Meranti H Asmar bersama sejumlah tamu undangan di Jalan Diponegoro, Selatpanjang, Kamis (30/1).

Turut hadir dalam pembukaan festival itu, Kadis Pariwisata Provinsi Riau Roni Rakhmat dan Kabid Humas Polda Kepri sekaligus penggagas Cian Cui Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad.

Pantauan Riau Pos, ribuan warga tumpah ruah melingkari sejumlah ruas badan jalan di Selatpanjang. Mereka saling siram atau tembak-tembakan dari atas kendaraan bersama peserta yang standby di pinggir badan jalan sejak pukul 15.30 WIB dan berakhir pada pukul 18.00 WIB 

Festival ini akan berlangsung enam hari berturut-turut. Dari informasi yang dihimpun Riau Pos, iven ini ditaja sejak 2014 lalu tradisi ini dikenal dengan Perang Air dan 2016 namanya diganti Cian Cui. Namun 2019 kembali berganti menjadi Festival Perang Air hingga saat ini. 

Terakhir, dia mengajak kepada segenap peserta festival untuk bersama menghargai serta melestarikan tradisi dan budaya ini sebagai wujud keberagaman masyarakat. 

“Mari kita jaga terus situasi yang aman dan kondusif selama pelaksanaan festival ini. Tetap patuhi peraturan dan saling menghormati,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Tionghoa Meranti Tugimin bercerita, tradisi perang-perangan ini sudah berlangsung lama. Tidak hanya dalam perayaan Imlek saja. Hal yang sama juga terjadi dalam perayaan agama lain.

Hanya saja, jauh sebelum ini kebiasaan tersebut hanya dilakukan oleh anak-anak remaja ketika mengelilingi Selatpanjang, menggunakan becak roda tiga. 

“Pada saat itu, anak-anak hingga remaja hobi main perang-perangan air dengan senapan mainan. Setiap berpapasan antara becak satu dengan becak lainnya, mereka saling tembak,” ujarnya.

Memang, cerita dia, ketika itu sempat beralih dari perang air ke perang menggunakan senapan amunisi bola plastik. Namun, karena dinilai berbahaya, akhirnya ada larangan. Setelah itu permainan beralih menggunakan semprot salju, namun harganya mahal dan warga kembali beralih kepada perang air. 

Sehingga ia berasumsi jika perang air tersebut terjadi tiba-tiba. Setelah ini mulai ramai, Pemda Meranti melirik. Helat dikemas maksimal hasilnya masuk di Calender Of Iven Pariwisata Nasional 2019 dan tercatat di MURI.(wir)

Editor : Rindra Yasin
#kepulauan meranti #Imlek 2576 Kongzili #festival perang air selatpanjang #perayaan Imlek 2025