SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Kecamatan Pulau Merbau dan Kecamatan Tebingtinggi Timur Kepulauan Meranti kembali menerima program perluasan tanaman sagu dari pemerintah pusat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Ifwandi kepada Riaupos.co, mengaku bantuan tersebut diterima rutin oleh kelompok masyarakat setempat sejak 2019 silam. Namun luasan bantuan yang disalurkan oleh pemerintah pusat tidak seluas bantuan yang akan disalurkan pada tahun ini.
"Perluasan tanaman sagu tahun ini tidak kurang dari 300 hektar. Lebih luas dari sebelumnya. Karena sejak 2019 itu setiap tahun bantuan perluasan hanya 100 hektare," ungkapnya, Senin (30/6/2025).
Dari total lahan yang menjadi atensi perluasan, pemerintah pusat akan menyalurkan 36 ribu benih sagu di Kecamatan Pulau Merbau Kecamatan Tebingtinggi Timur.
"Dari total benih yang disalurkan akan digarap oleh 150 orang kelompok warga di dua kecamatan tersebut," ujarnya.
Ifwandi menerangkan bahwa bantuan itu tidak hanya berupa puluhan ribu benih melainkan juga terdapat 13.500 kilogram pupuk, serta 600 liter herbisida (racun).
Jumlah perluasan menurutnya akan terus bertambah hingga tahun mendatang. Karena dari gambaran yang ia terima, melalui program yang sama, Kepulauan Meranti masuk dalam skala prioritas perluasan perkebunan sagu di Indonesia.
"Untuk tahun depan kita akan kembali terima bantuan ini. Malah usulan kita lebih besar. Minimal akan ada 500 hektar lahan yang akan dilakukan perluasan. Jadi ini akan terus bergulir," ujar Ifwandi.
Untuk itu ia mengucapkan ribuan terima kasih kepada pemerintah pusat. Karena ia optimis bahwa Kepulauan Meranti masuk dalam target utama pemerintah pusat dalam pengembangan perluasan perkebunan sagu di Indnesia.
Pasalnya pertimbangan tetap mengacu pada nilai afisiensi dan efektifitas pengembangan. Salah satu ertimbangan yang dimaksud menurutnya adalah belanja penataan.
"Belanja penataan di Meranti cukup mudah sehingga lebih efisien dan lebih efektif dari daerah lain di Indonesia. Alasannya pengembangan potensi hulu yang sudah tertata sebagai wilayah perkebunan. Tidak hutan seperti di Papua. Kalau hutan tentunya butuh penataan ekstra," ujarnya.
Selain itu letak geografis yang berada di wilayah perdagangan dunia yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Karena dalam program itu menurutnya tidak hanya fokus terhadap hulu, namun hilirisasi potensi.
Sehingga ke depan ia berharap Kepulauan Meranti menjadi satu-satunya satu daerah yang dipercayakan oleh pusat untuk role model potensi sagu nasional.(wir)
Editor : Edwar Yaman