SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Lebih dari sepekan bencana karhutla yang berlangsung di Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti, tidak kunjung padam.
Meskipun total luas hutan dan lahan yang terdampak bencana tersebut tidak bertambah atau stagnan 110 hektar dalam beberapa hari terakhir, namun tahapan penanggulangan masih berlangsung sejak 22 Juli 2025 lalu.
Puluhan petugas gabungan tak henti-henti berjibaku melawan titik api yang masih bergelimang jauh di dasar gambut. Kondisi itu digambarkan oleh Sekretaris BPBD Meranti Eko Setiawan kepada Riau Pos, Senin (28/7/2025) sore.
"Belum padam. Kalau tidak salah sudah memasuki hari kedelapan. Di lapangan masih pendinginan. Kendalanya hanya itu, memadamkan titik api jauh di dasar gambut," ujarnya.
Meskipun demikian api tidak lagi meluas karena terputus oleh vegetasi, namun situasi di lokasi masih mengeluarkan asap dampak titik api di jauh di dasar gambut yang masih menyala.
"Tidak ada tambahan titik api baru karena telah terputus oleh vegetasi. Itu makanya dari 110 hektar kawasan terdampak api dalam beberapa hari ini tidak lagi bertambah. Hanya tinggal memadamkan api didasar tidak dipermukaan," ujarnya.
Apalagi jauh sebelum ini pihaknya juga telah menambah bantuan personil gabungan dan alat berat dari perusahaan untuk menggali belasan titik sumber air atau embung.
"Sekarang personil juga sudah ditambah. Alat berat sudah diturunkan beberapa hari sebelum ini dari perusahaan terdekat untuk menggali sumber air. Alhamdulillah 11 embung berhasil digali," bebernya.
Dengan demikian ia menyebut seluruh tim gabungan masih bekerja keras untuk itu ia pun mengingatkan masyarakat tidak sembarangan membakar lahan dengan alasan apapun. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bisa menimbulkan dampak luas dan berisiko hukum.
"Saya imbau masyarakat untuk tidak membakar lahan, apapun alasannya. Kita tak ingin hal yang merugikan banyak orang terjadi hanya karena keputusan sesaat,” tegasnya.
Laporan Wira Saputra
Editor : M. Erizal