SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Di Kepulauan Meranti, laut bukan sekadar bentangan biru. Ia adalah jalan raya, jalur darurat, sekaligus ruang terakhir untuk mengantarkan warga yang berpulang.
Namun, jalur terhadap aktivitas itu sempat terguncang. Layanan antar-jemput jenazah menggunakan Ambulans Laut Baznas sempat dihentikan pada 3 September 2025 lalu, kini beroperasi kembali.
Kondisi itu dipicu oleh masalah tunggakan bahan bakar minyak (BBM) dan oli yang mencapai Rp1,4 miliar yang tak kunjung selesai sejak tahun lalu.
Tentu kabar ini bagai tamparan bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada transportasi laut untuk berbagai kebutuhan darurat. Ambulans laut yang dulu dipuji sebagai “perahu harapan” kini tertambat, terjebak dalam masalah hutang.
Situasi inipun turut dibenarkan oleh pemerintah daerah melalui Plt Kepala Dinas Kesehatan Meranti, Ade Suhartian, kepada Riaupos.co.
Ia mengakui adanya tunggakan sejak 2024, bahkan sebelum dirinya menjabat. Ia berjanji akan menempuh jalan keluar, salah satunya memasukkan beban pembayaran ke dalam APBD Perubahan 2025.
“Kalau dibiarkan lama, tentu kasihan masyarakat kita. Ini bukan keinginan siapapun. Kami akan berupaya menyelesaikannya secara bertahap,” katanya, Jumat (5/9/2025).
Sembari mencari solusi untuk menyelesaikan tungakan piutang itu, Ade mengaku bahwa pihak pelaksana telah membatalkan kebijakan tersebut. Sehingga aktivitas ambulan atar jemput jenazah kembali beroperasi.
"Terhitung tanggal 3 September 2025 lalu sempat dihentikan, karena persoalan tersebut. Namun setelah diketahui oleh bupati, kami tetap mengatensikan bahwa layanan tersebut harus tetap berjalan. Artinya saat ini kembali normal,"ujarnya.
Senada, Kepala BPKAD Meranti, Fajar Triasmoko, menegaskan pihaknya siap mencari cara agar tunggakan itu segera terbayar. “Kalau anggaran tersedia, akan langsung kita bayar. Apalagi ini soal pelayanan masyarakat,” tegasnya.
Di balik janji-janji penyelesaian itu, masyarakat hanya bisa berharap. Bagi mereka, ambulans laut bukan soal angka dan utang, melainkan urusan kemanusiaan yang menyentuh hati.
Di laut yang luas dan keras, sebuah kapal kecil bernama ambulans laut pernah menjadi penyelamat. Kini, mereka menanti agar kapal itu kembali berlayar, membawa nyawa dan juga martabat warga Kepulauan Meranti.
Laporan Wira Saputra (Selatpanjang)
Editor : M. Erizal