SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Laut kembali menelan duka pascadua nelayan asal Kabupaten Kepulauan Meranti meregang nyawa saat mencari nafkah di perairan setempat. Kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti memastikan santunan layak akan diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Nelayan pertama, Nizar, warga Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Pesisir, hilang sejak 30 Agustus 2025 usai perahunya ditabrak tugboat saat tengah malam. Hingga kini, jasadnya tak kunjung ditemukan, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang menanti di tepian.
Korban kedua, Solikin, warga Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pulau Merbau. Ia menghembuskan napas terakhir di lautan pada 20 September 2025. Kisahnya menambah panjang daftar nelayan Meranti yang berpulang dalam perjuangan mencari sesuap nasi dari samudera.
Wakil Bupati Kepulauan Meranti Muzamil Baharudin mangaku bahwa proses klaim sedang diupayakan oleh jajaran Dinas Perikanan bersama BRI dan BPJS Ketenagakerjaan.
“Sudah diproses oleh Dinas Perikanan. Kabarnya target pemberian santunan akan diserahkan langsung oleh Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H Asmar pada pertengahan Oktober nanti. Semoga tidak ada halangan,” ujarnya penuh harap, Selasa (30/9/2025).
Terpisah ditambahkan Kadis Perikanan Ahmad Yani mengaku bahwa program perlindungan nelayan ini bukan sekadar santunan. Melalui BPJS, manfaat yang disiapkan begitu besar: beasiswa anak hingga Rp81 juta, santunan kematian Rp74 juta, serta jaminan hari tua senilai Rp32,5 juta.
Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan Sumbar-Riau-Kepri, Henky Rhosidien, menegaskan, “Ini bukan sekadar perlindungan kerja. Kami ingin nelayan dan petani Meranti merasa tenang, anak-anak mereka tetap bisa sekolah meski ayah tak lagi pulang dari laut.”
Selain itu, Pemkab Meranti juga menggandeng CSR perusahaan untuk memberikan perlindungan tambahan bagi 1.000 nelayan. Sebuah upaya besar agar profesi nelayan yang penuh risiko tetap memiliki jaminan kehidupan bagi keluarga mereka.(wir)
Editor : Edwar Yaman