SELATPANJANG(RIAUPOS.CO) - Seluruh nakhoda yang bergerak di Kepulauan Meranti diminta waspada jika memiliki aktivitas di perairan Selat Malaka dalam beberapa hari ke depan.
Imbauan ini disampaikan langsung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Selatpanjang, melalui Riaupos.co, Kamis (27/11/2025).
Melalui Kepala Dinas Perikanan Ahmad Yani S,Pi menerangkan dari informasi yang ia terima, saat ini terdapat ancaman gelombang tinggi akibat peralihan cuaca yang dipicu oleh Siklon Tropis Fina dan sistem cuaca lain yang mempengaruhi wilayah maritim Indonesia.
“Pergerakan Siklon FINA hingga sistem pendukungnya memperkuat pola angin di utara Indonesi. Angin bergerak dari barat laut ke timur laut dengan kecepatan antara 6–30 knot yang berpotensi meningkatkan tinggi gelombang secara signifikan,” jelas Yani.
Berdasarkan peringatan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi gelombang tinggi di Selat Malaka diprediksi berlangsung antara 24–27 November 2025. Di sejumlah titik, gelombang diperkirakan bisa mencapai ketinggian yang membahayakan aktivitas laut.
Yani mengingatkan kepada para nelayan untuk mempertimbangkan keselamatan di atas segalanya. Jika gelombang laut dirasa terlalu tinggi, dikhawatirkan bagi keselamatan perahu dan awak.
Ia juga meminta agar nelayan selalu memantau informasi cuaca dan gelombang melalui kanal resmi BMKG sebelum memutuskan berangkat melaut.
Senada juga disampaikan oleh Kepala Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Selatpanjang, Capt Derita Adi Prasetyo. Apalagi dari informasi yang ia terima dalam beberapa hari terakhir telah terjadi kasus kecelakaan laut diduga akibat gelombang ekstrem di wilayah Selat Malaka.
Artinya yang menjadi bukti bahwa peringatan bukan sekadar teori, tapi realita. Untuk itu, selain menheluarkan himbauan secara tertulis, ia berharap seluruh nakhoda armada yang beroperasi di perairan wilayahnya tidak mengabaikan peringatan dini.
Contohnya mulai dari upaya pencegahan seperti mengecek kesiapan armada, selalu update infomasi cuaca, navigas, mengecek alat keselamatan, dan bila perlu menunda pelayaran sampai kondisi laut membaik.
“Keselamatan kita bersama lebih penting daripada hasil tangkapan. Kalau laut tidak bersahabat, lebih baik kita menunggu daripada ambil risiko,” pungkasnya.
Selain itu dapat serta berbagi informasi dengan sesama sebelum berlayar. Dan pihaknya akan terus memantau kondisi dan memberikan himbauan jika diperlukan.
Editor : M. Erizal