SELATPANJANG(RIAUPOS.CO) - Perjalanan panjang sesosok jenazah tanpa identitas yang sempat mengapung di perairan Pulau Rangsang akhirnya berujung pada kepastian. Setelah melalui koordinasi lintas negara, korban dipastikan merupakan warga negara Malaysia yang sebelumnya dilaporkan hilang di perairan Johor Bahru, dan kini telah dijemput langsung oleh pihak keluarga.
Istri korban bersama adik kandungnya serta empat orang perwakilan yayasan dari Malaysia tiba di Selatpanjang, Selasa (6/1/2026) untuk menjemput jenazah yang sebelumnya disimpan di Kamar Mayat RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti.
Penjemputan ini menjadi penutup dari rangkaian panjang proses identifikasi sejak jasad korban pertama kali ditemukan warga. Rombongan keluarga korban yang tiba melalui Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang disambut unsur pemerintah daerah dan aparat keamanan.
“Jenazah malam ini dibawa ke yayasan yang berada di dekat kubur Cina. Hari ini jenazah akan diberangkatkan ke Pekanbaru untuk dikremasi. Keberangkatan direncanakan menggunakan kapal bot catar milik yayasan,” ujar Ardath, Rabu (7/1/2026).
Terungkapnya identitas korban tak lepas dari komunikasi intensif antara tim SAR Kepulauan Meranti dan otoritas Maritim Johor Bahru. Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Herrie, menjelaskan bahwa sejak awal pihaknya langsung menjalin koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk negara tetangga.
“Sejak awal kami membuka komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk otoritas maritim negara tetangga. Kami menyampaikan bahwa telah ditemukan satu jenazah laki-laki tanpa identitas di perairan Pulau Rangsang,” ungkap Prima Herrie.
Upaya tersebut membuahkan hasil setelah pihak Maritim Johor Bahru mencocokkan ciri fisik, pakaian, serta petunjuk yang melekat pada tubuh korban dengan laporan orang hilang di wilayah mereka. Hasilnya, jenazah dipastikan identik dengan seorang pria yang sebelumnya dilaporkan terjun ke laut di kawasan Tanjung Piai, Johor Bahru.
Dalam laporan resmi Maritime Rescue Sub-Centre (MRSC) Johor Bahru, korban diketahui bernama Teh Kok Keong (33), pria keturunan Tionghoa, warga negara Malaysia, yang dilaporkan terjun dari Jembatan Second Link Tuas–Johor, jalur penghubung utama Malaysia dan Singapura. Hingga kini, motif korban terjun ke laut masih belum diketahui.
Identitas korban semakin kuat setelah ditemukan jaket bertuliskan Tower Transit, perusahaan operator bus internasional di Singapura. Korban diketahui merupakan karyawan perusahaan tersebut dan bekerja di Singapura.
Selain dari otoritas Malaysia, kepastian identitas juga diperkuat setelah BPBD Kepulauan Meranti menerima komunikasi langsung dari seseorang yang mengaku sebagai keluarga korban.
“Kami dihubungi Kamis malam dari nomor Singapura. Keluarga mengirimkan foto serta identitas, dan semuanya sangat cocok, termasuk logo perusahaan pada pakaian korban,” jelas Ardath.
Berdasarkan perkiraan, jasad korban diduga hanyut mengikuti arus Selat Malaka hingga akhirnya mencapai perairan Pulau Rangsang. Jarak laut antara Johor Bahru dan Pulau Rangsang diperkirakan sekitar 25 hingga 35 mil laut atau setara 46–65 kilometer.
Sebelumnya, penemuan jenazah ini sempat menggegerkan warga Dusun I, Desa Tanjung Kedabu. Jasad pertama kali ditemukan warga sekitar pukul 10.15 WIB, Jumat (2/1/2026), di wilayah RT 002/RW 002 saat melintas di perairan setempat.
BPBD Kepulauan Meranti bersama Polsek Rangsang, Bhabinkamtibmas Rangsang Pesisir, Basarnas, serta UPT Puskesmas setempat segera melakukan evakuasi bersama masyarakat.
“Meski kondisi lapangan cukup menantang, proses evakuasi berjalan lancar,” tambah Ardath.
Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti untuk pemeriksaan lanjutan. Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, SH, SIK, MH, melalui Kapolsek Rangsang AKP Gunawan, SH, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa seluruh tahapan penanganan serta koordinasi lintas instansi telah dilakukan sesuai prosedur.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta segera melapor apabila memiliki informasi tambahan yang dapat membantu proses penanganan lebih lanjut.(wir)
Editor : Edwar Yaman