SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Event tahunan Perang Air atau Cian Cui Meranti yang digelar bertepatan dengan perayaan Imlek 2026 kembali menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah. Tradisi khas masyarakat Tionghoa di Selatpanjang ini rutin menyedot perhatian pengunjung, baik dari dalam maupun luar negara.
Untuk memudahkan masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan tersebut, berikut gambaran rute perjalanan menuju Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, dari sejumlah kota besar yang paling banyak digunakan penumpang.
Rangkaian Perang Air biasanya dimulai sejak hari pertama Imlek melalui prosesi simbolis dari pemerintah, lalu mencapai puncak kemeriahan pada hari-hari berikutnya ketika masyarakat dan wisatawan memadati ruas-ruas jalan utama kota dalam tradisi saling siram air.
Rute dari Pekanbaru
Wisatawan dari Pekanbaru dapat menempuh perjalanan darat menuju Pelabuhan Buton, Kabupaten Siak. Perjalanan menggunakan mobil pribadi atau jasa travel memakan waktu sekitar tiga jam, tergantung kondisi lalu lintas.
Dari Pelabuhan Buton, perjalanan dilanjutkan menggunakan speed boat atau kapal ferry menuju Selatpanjang (Pulau Tebing Tinggi) dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 3 jam. Sejumlah layanan kapal reguler tersedia setiap hari, termasuk kapal cepat seperti Meranti Express dan kapal penumpang lainnya.
Rute ini menjadi pilihan utama karena akses darat relatif lancar dan jadwal penyeberangan cukup banyak.
Rute dari Dumai
Sementara itu, jika dari Kota Dumai menuju Selatpanjang juga harus melalui jalur laut menggunakan kapal cepat (speed boat) atau kapal feri penyeberangan. Rutenya via laut, karena tidak ada jalur darat langsung, perjalanan ini akan memakan waktu beberapa jam tergantung jenis kapalnya.
Pelabuhan Dumai menuju Pelabuhan Tanjung Harapan di Selatpanjang, Kepulauan Meranti. Durasi biasanya beberapa jam (misalnya, 3 sampai 4 jam tergantung kecepatan kapal dan kondisi laut).
Rute dari Batam
Bagi wisatawan dari Batam, tersedia pilihan perjalanan menggunakan kapal ferry atau speed boat menuju Selatpanjang. Jika tidak mendapatkan jadwal langsung, penumpang dapat menempuh rute Batam – Tanjung Balai Karimun – Selatpanjang sebagai jalur transit.
Jadwal kapal dari Batam dan Karimun biasanya meningkat saat momen libur panjang dan perayaan Imlek, menyesuaikan dengan tingginya arus penumpang menuju Selatpanjang.
Ruter dari Malaysia
Selain dari dalam negeri, Selatpanjang juga kerap dikunjungi wisatawan dari Malaysia. Jalur lintas negara tersedia dari Pelabuhan Minyak Beku (Pontian), Pelabuhan Antar Bangsa Kukup (Johor Bahru), menuju Pelabuhan Tanjung Harapan Internasional, Selatpanjang.
Waktu tempuh perjalanan laut dari Malaysia menuju Selatpanjang rata-rata sekitar empat jam, tergantung titik keberangkatan dan kondisi perairan.
Mengantisipasi lonjakan penumpang selama perayaan Perang Air, wisatawan diimbau untuk mengecek jadwal kapal lebih awal serta memesan tiket secepat mungkin, mengingat kapasitas kapal sering penuh saat puncak festival.
Bagi wisatawan dari luar daerah, pemesanan travel dan penginapan juga disarankan dilakukan jauh hari sebelumnya untuk menghindari keterbatasan layanan saat masa liburan.
Setibanya di Selatpanjang, pengunjung dapat memanfaatkan beca motor dan ojek sebagai sarana transportasi menuju lokasi-lokasi kegiatan yang umumnya terpusat di kawasan pusat kota dan permukiman warga.
Dengan akses yang relatif terhubung dari berbagai kota besar seperti Pekanbaru, Dumai, Batam, hingga Malaysia, Selatpanjang kembali bersiap menyambut wisatawan yang ingin merasakan langsung kemeriahan tradisi Perang Air Cian Cui Meranti, ikon budaya tahunan Kabupaten Kepulauan Meranti.
Dari sisi pariwisata, geliat perayaan Imlek juga mulai terasa. Sejumlah hotel dan penginapan di Selatpanjang dilaporkan menerima lonjakan pemesanan, bahkan ada yang menyiapkan paket khusus bagi tamu selama rangkaian perayaan berlangsung.
Bupati Kepulauan Meranti, H Asmar, menegaskan bahwa Ramadan dan Imlek sama-sama merupakan agenda rutin tahunan yang memiliki kontribusi besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
"Tradisi Perang Air saat Imlek terbukti mampu menarik wisatawan, yang berdampak pada pergerakan ekonomi. Di sisi lain, Ramadan adalah momentum ibadah bagi umat Islam yang harus kita jaga kekhusyukannya," ujar Asmar.
Menurutnya, kedua agenda tersebut perlu dikelola secara bijak agar berjalan selaras. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyiapkan pengaturan teknis agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan saling menghormati.
"Keduanya harus kita dukung bersama dengan pengaturan yang baik, supaya suasana tetap kondusif dan Meranti tetap rukun, sejalan dengan visi Meranti yang Unggul, Agamis, dan Sejahtera," tutupnya.
Editor : Rinaldi