Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sejumlah Kasus DBD Warnai Awal Tahun di Meranti

Wira Saputra • Selasa, 20 Januari 2026 | 21:02 WIB
Ilustrasi DBD.
Ilustrasi DBD.

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Munculnya delapan kasus Demam Berdarah Dengue hanya dalam tiga pekan pertama Januari 2026 menjadi sinyal peringatan dini bagi Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dinas Kesehatan menilai, meski angkanya masih terlihat kecil, kemunculan kasus sejak awal tahun justru menunjukkan potensi peningkatan lebih besar jika langkah pencegahan tidak diperketat sejak sekarang.

Hingga 19 Januari 2026, tercatat empat kasus DBD dan empat kasus Demam Dengue (DD). Seluruh pasien selamat, namun Diskes menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh ditanggapi sebagai kondisi aman.

"Kasus sudah muncul di awal tahun, ini harus dibaca sebagai alarm. Kalau respons terlambat, lonjakan bisa terjadi dalam waktu singkat," tegas Kepala Bidang P2P Diskes Meranti, Widya Nengsih SKM, Selasa (20/1/2026).

Sebaran DBD tercatat dua kasus di wilayah Puskesmas Selatpanjang, serta masing-masing satu kasus di wilayah kerja Puskesmas Alai dan Kedabu Rapat. Wilayah lain memang belum melaporkan kasus, namun Diskes mengingatkan tidak semua wilayah memiliki tingkat pelaporan dan pemeriksaan yang sama.

"Tidak semua demam diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Artinya, potensi kasus yang tidak tercatat tetap ada," ujarnya.

Secara sementara, angka insiden dengue Januari 2026 berada di kisaran 1,86 per 100.000 penduduk. Namun Diskes menilai indikator ini belum cukup untuk menggambarkan risiko sebenarnya, mengingat siklus penularan biasanya meningkat setelah intensitas hujan tinggi dan banyaknya genangan air di pemukiman.

Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Kepulauan Meranti mencatat 425 kasus dengue, dengan 178 kasus DBD dan dua kematian. Lonjakan tersebut, menurut Diskes, dipicu lemahnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di tingkat rumah tangga dan lingkungan.

"Fogging sering dianggap solusi, padahal itu hanya mematikan nyamuk dewasa. Kalau jentik masih ada, penularan tidak akan berhenti," kata Widya.

Karena itu, Diskes menegaskan fokus pengendalian tetap pada PSN dan pengawasan jentik secara rutin di lingkungan warga. Puskesmas diminta memperkuat surveilans aktif, termasuk pelacakan wilayah sekitar rumah pasien untuk memutus rantai penularan sejak dini.

Selain faktor lingkungan, Diskes juga menyoroti rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk segera memeriksakan diri saat demam, yang berisiko memperparah kondisi pasien dan memperlambat deteksi klaster penularan.

"Kami masih menemukan warga yang baru berobat setelah demam berhari-hari. Ini berbahaya bagi pasien dan menyulitkan pengendalian di lapangan," tegasnya.

Dinas Kesehatan mengingatkan, bila tren peningkatan tidak segera ditekan, beban layanan kesehatan dapat meningkat drastis, terutama di wilayah kepulauan yang akses rujukannya terbatas dan sangat bergantung pada transportasi laut.

"Pencegahan jauh lebih murah dan lebih aman dibandingkan penanganan saat kasus sudah melonjak," pungkas Widya.

Editor : Rinaldi
#awal 2026 #kepulauan meranti #kasus dbd