Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Karhutla Masih Menyelimuti Sejumlah Kecamatan di Kepulauan Meranti

Wira Saputra • Selasa, 3 Februari 2026 | 19:44 WIB
Petugas pemadam menanggulangi karhutla di Desa Renak Dungun Pulau Merbau Kepulauan Meranti, Selasa (3/2/2026) pagi.
Petugas pemadam menanggulangi karhutla di Desa Renak Dungun Pulau Merbau Kepulauan Meranti, Selasa (3/2/2026) pagi.

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Sejak pertama kali terdeteksi pada Januari 2026, beberapa titik api dilaporkan belum sepenuhnya aman dan masih memerlukan penanganan intensif hingga tahap pendinginan.

Berdasarkan laporan yang diterima Riaupos.co, karhutla masih ditemukan di beberapa kecamatan dengan kondisi bervariasi, mulai dari api aktif hingga fase pendinginan pasca pemadaman.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kepulauan Meranti, Ardath, mengungkapkan penanganan terpanjang saat ini berada di Desa Tenggayun Raya, Kecamatan Rangsang Pesisir, yang telah berlangsung sejak 29 Januari 2026. Luas lahan terdampak di lokasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 5 hektare.

"Untuk di Tenggayun Raya, api sudah tidak menyala, namun masih masuk tahap pendinginan. Personel tetap disiagakan karena potensi munculnya bara api masih ada," ujar Ardath, Selasa (3/2/2026).

Selain itu, karhutla juga terpantau di Renak Dungun Pulau, Kecamatan Merbau, dengan luas lahan terdampak sekitar 1 hektare. Titik api di lokasi tersebut berhasil dipadamkan pada Selasa (3/2/2026). Sementara di wilayah Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, api yang membakar semak belukar seluas sekitar 1 hektare juga telah berhasil dipadamkan.

"Untuk Pulau Merbau dan Kecamatan Rangsang, api sudah padam hari ini. Namun pengawasan tetap kami lakukan untuk memastikan tidak ada titik panas tersisa," tegasnya.

Ardath menegaskan, keterbatasan sumber air menjadi kendala utama dalam proses pemadaman, terutama di lokasi lahan gambut dan semak belukar. Selain itu, kondisi angin yang tidak menentu kerap memicu bara api kembali menyala meski api utama telah dipadamkan.

"Angin sangat berpengaruh. Api bisa hidup kembali sewaktu-waktu. Karena itu, petugas sudah dua malam berjaga di lokasi rawan," jelasnya.

Ia menambahkan, rangkaian karhutla ini melengkapi kejadian serupa yang sebelumnya juga terjadi di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, dengan luas sekitar 0,5 hektare, serta di Desa Tanah Merah seluas sekitar 0,2 hektare.

Dalam penanganan karhutla tersebut, BPBD Kepulauan Meranti mengerahkan tim gabungan yang terdiri dari unsur BPBD, Polri, Bhabinkamtibmas, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah desa, pemerintah kecamatan, serta masyarakat setempat.

"Kami tidak hanya memadamkan api, tetapi memastikan lokasi benar-benar aman. Fokus kami sekarang adalah mencegah kebakaran susulan," kata Ardath.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca yang masih rawan memicu karhutla. "Kami minta masyarakat ikut berperan aktif. Jika melihat asap atau titik api, segera laporkan agar bisa cepat ditangani," pungkasnya.

 

Editor : Rinaldi
#karhutla #kepulauan meranti #bpbd meranti #pendinginan