SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Kecelakaan laut kembali terjadi di jalur pelayaran padat perairan Kepulauan Meranti. Dua unit speedboat (kapal cepat) yakni Mega Fajar 5 dan Levindo 10 bertabrakan di perairan antara Pulau Burung dan Pulau Pelembang, Senin (2/2) sekitar pukul 19.30 WIB.
Insiden ini menyebabkan seorang awak kapal jatuh ke laut dan hingga kini belum ditemukan. Meski berada di jalur perairan Kepulauan Riau, titik koordinat terakhir korban justru terdeteksi di sekitar Pulau Rangsang, Kepulauan Meranti sehingga proses pencarian dikendalikan dari wilayah Meranti.
Korban yang hilang diketahui bernama M Ridwan (62), awak Mega Fajar 5. Ia terjatuh ke laut sesaat setelah benturan keras antar kapal dan tidak sempat diselamatkan. Mega Fajar 5 mengangkut 260 boks ayam dan berangkat dari Pelabuhan Bongkar Muat Dua Speedboat Tabrakan, Satu Awak Hilang Kota Segara Mentigi, Bintan. Kapal ini diawaki lima kru.
Selain korban hilang, nahkoda kapal Darmansyah (53) mengalami patah tangan, sementara kru lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban selamat dievakuasi menuju Tanjung Balai Karimun dan langsung dilarikan ke RSUD setempat. Sementara awak Levindo 10 dipastikan selamat dan tidak mengalami cedera.
Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra menegaskan, pencarian korban terus dilakukan secara maksimal tanpa membatasi wilayah administrasi. “Fokus kami adalah lokasi terdekat dan paling memungkinkan untuk menemukan korban. Pencarian tetap kami lakukan di Perairan Meranti,” tegas Prima kepada Riau Pos, Selasa (3/2).
Tim SAR gabungan melakukan penyisiran laut dan menyebarkan peringatan melalui Radio GMDSS Selatpanjang agar seluruh kapal yang melintas ikut membantu pencarian. “Untuk memperkuat operasi SAR, KN 218 Basarnas Pekanbaru akan dikerahkan ke lokasi kejadian pada sore ini,” ujarnya.
Hingga Senin (2/2) malam, tim SAR gabungan dari Basarnas, Polair Selatpanjang, dan TNI AL Selatpanjang masih bergerak menuju titik kejadian dan bersiaga di Perairan Pulau Rangsang. Kecelakaan ini menegaskan kembali tingginya risiko pelayaran malam hari di jalur laut yang padat. Satu awak kapal kini masih hilang, dan pencarian berpacu dengan waktu di Perairan Kepulauan Meranti.(wir)
Editor : Arif Oktafian