Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Meranti Targetkan Swasembada Beras 19.000 Ton dalam Tiga Tahun Mendatang

Wira Saputra • Rabu, 4 Februari 2026 | 18:31 WIB
Forkomda panen padi di lahan optimasi Desa Mekar Baru, Kecamatan Rangsang Barat, Rabu (4/2/2026).
Forkomda panen padi di lahan optimasi Desa Mekar Baru, Kecamatan Rangsang Barat, Rabu (4/2/2026).

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menargetkan swasembada beras sebesar 19 ribu ton dalam tiga tahun ke depan, menyusul peningkatan signifikan produksi padi pada musim tanam 2026. Target tersebut disampaikan saat panen padi di lahan optimasi (OPLAH) Desa Mekar Baru, Kecamatan Rangsang Barat, Rabu (4/2/2026).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kepulauan Meranti, Ifwandi, menyebut produksi padi tahun ini meningkat lebih dari 3.000 ton dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, capaian tersebut masih jauh dari kebutuhan beras masyarakat Meranti yang mencapai sekitar 19 ribu ton per tahun.

"Saat ini produksi lokal baru di kisaran 6.000 ton per tahun. Artinya, ketergantungan pasokan dari luar daerah masih cukup tinggi," kata Ifwandi.

Menurutnya, celah tersebut ingin ditutup melalui optimalisasi lahan pertanian, peningkatan indeks pertanaman hingga dua sampai tiga kali setahun, serta percepatan mekanisasi pertanian. Program ini difokuskan pada lahan-lahan yang selama ini dinilai kurang produktif akibat kondisi gambut dan pengaruh pasang surut air laut.

Namun upaya tersebut belum sepenuhnya berjalan mulus. Keterbatasan alat mesin pertanian, khususnya combine harvester, serta belum tersedianya gudang penyimpanan alsintan menjadi kendala di lapangan. Jika tidak segera diatasi, peralatan pertanian berisiko rusak dan menghambat percepatan tanam berikutnya.

Dari sisi hilir, Bulog Wilayah Riau dan Kepulauan Riau menyatakan kesiapan menyerap gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan memberi kepastian pasar sekaligus menjaga minat petani untuk terus menanam padi.

Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H Asmar menilai karakter wilayah kepulauan dengan lahan gambut dan kadar salinitas tinggi bukan alasan untuk menyerah dalam pengembangan pangan lokal. "Dengan pengelolaan yang tepat, lahan yang selama ini dianggap marginal justru bisa menjadi sumber produksi. Tantangannya besar, tapi peluangnya juga besar," ujarnya.

Asmar menegaskan, peningkatan produksi padi di Meranti tidak hanya soal memenuhi kebutuhan daerah, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan nasional dari wilayah pesisir. "Kalau daerah terluar bisa mandiri pangan, ketahanan nasional akan jauh lebih kuat," katanya.

Ke depan, Pemkab Meranti mendorong penggunaan benih padi yang tahan salinitas serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen. Pemerintah daerah juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mempercepat pencapaian target swasembada beras di Kepulauan Meranti.

 

Editor : Rinaldi
#panen padi #pemkab meranti #swasembada beras