Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Perang Air Imlek di Meranti Dipuji, Harmoni Toleransi Beririsan Ramadan Jadi Sorotan

Tim Redaksi • Kamis, 12 Maret 2026 | 13:35 WIB


 Anggota DPRD Kepulauan Meranti Cun Cun saat bersama barongsai, beberapa waktu lalu.
Anggota DPRD Kepulauan Meranti Cun Cun saat bersama barongsai, beberapa waktu lalu.

KEPULAUANMERANTI(RIAUPOS.CO) - Perayaan budaya Perang Air dan Imlek di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, kembali menjadi sorotan publik. Tahun ini, tradisi yang telah lama menjadi identitas masyarakat Tionghoa di daerah tersebut berlangsung berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Meski demikian, pelaksanaannya berjalan aman, tertib, dan justru menegaskan kuatnya nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat Meranti.

Selama rangkaian kegiatan berlangsung, suasana kota dipenuhi semangat kebersamaan. Ribuan warga, baik masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah, memadati sejumlah ruas jalan di pusat kota untuk ikut merasakan kemeriahan tradisi saling siram air yang menjadi ciri khas perayaan Imlek di Selatpanjang.

Menariknya, di tengah kemeriahan tersebut, masyarakat tetap mampu menjaga sikap saling menghormati. Umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa tetap dapat beraktivitas dengan nyaman, sementara masyarakat Tionghoa dapat melaksanakan tradisi budaya mereka dengan penuh sukacita.

Anggota DPRD Kepulauan Meranti, Cuncun, memberikan apresiasi terhadap seluruh elemen masyarakat yang dinilai berhasil menjaga suasana tetap kondusif selama perayaan berlangsung. Ia menilai kedewasaan masyarakat dalam merawat keberagaman patut menjadi contoh bagi daerah lain.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan Perang Air dalam rangka perayaan Imlek tahun ini menunjukkan bahwa masyarakat Meranti telah terbiasa hidup berdampingan dalam perbedaan.

“Walaupun perayaan ini berlangsung berdekatan dengan Ramadan, masyarakat tetap bisa menjaga rasa saling menghormati. Ini menunjukkan bahwa toleransi di Meranti bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Cuncun, Rabu (11/3).

Ia juga menilai tradisi Perang Air tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberi dampak positif terhadap perekonomian daerah. Ramainya kunjungan wisatawan selama perayaan berlangsung turut menggerakkan berbagai sektor usaha masyarakat, mulai dari perdagangan, kuliner, hingga jasa transportasi dan penginapan.

Cuncun berharap tradisi budaya yang telah berlangsung turun-temurun tersebut terus dijaga dan dikembangkan sebagai salah satu kekuatan daerah, baik dari sisi budaya maupun pariwisata.

Hal senada juga disampaikan sejumlah warga Selatpanjang yang ikut merasakan langsung kemeriahan festival tersebut. Seperti yang disampaikan Andi, salah seorang warga. Baginya, Perang Air bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat.

Baca Juga: Pawai Takbir Kembali Akan Dilaksanakan, Pemkab Kuansing Lakukan Pembahasan

Menurut warga, tradisi ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, serta mempererat hubungan antarwarga tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

“Yang terasa di sini bukan hanya ramai dan meriah, tetapi juga kebersamaan. Orang datang dari berbagai tempat, tapi semua bisa menikmati suasana dengan damai,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Meranti Saiful Bahri mengatakan, keberhasilan pelaksanaan Perang Air tahun ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak. Mulai dari pemerintah daerah, panitia penyelenggara, tokoh masyarakat, hingga aparat keamanan yang turut memastikan kegiatan berjalan lancar.

Menurutnya, sejak awal pihaknya telah melakukan berbagai koordinasi untuk memastikan pelaksanaan festival budaya tersebut tetap memperhatikan situasi Ramadan.

“Kami melakukan penyesuaian dalam pengaturan kegiatan serta koordinasi dengan berbagai pihak agar perayaan tetap berlangsung meriah, namun tetap menghormati masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa,” jelas Saiful Bahri.

Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan festival ini juga mendapat perhatian dari sejumlah kementerian terkait di tingkat nasional. Tradisi Perang Air dalam rangka perayaan Imlek di Selatpanjang dinilai sebagai salah satu contoh praktik toleransi yang hidup dan berkembang secara alami di tengah masyarakat Indonesia. Selain itu, festival budaya tersebut juga dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai daya tarik wisata unggulan daerah.

Menurut Saiful Bahri, setiap tahun jumlah pengunjung yang datang untuk menyaksikan perayaan Imlek di Selatpanjang terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memiliki daya tarik wisata yang kuat.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti pun berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan festival ini agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ke depan, Perang Air Imlek diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga mampu memperkuat citra Selatpanjang sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, keberagaman, dan toleransi.

Baca Juga: Mikel Arteta Janji Arsenal Akan Tingkatkan Performa untuk Kalahkan Bayer Leverkusen di Leg 2 Liga Champions

Melalui perayaan seperti ini, masyarakat Meranti kembali menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis. Justru dari keberagaman itulah lahir kekuatan sosial yang menjadi fondasi persatuan di daerah pesisir tersebut.(adv)

Editor : Arif Oktafian
#perang #air #perang air