Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harga Ayam dan Telur Melejit di Meranti, TPID Waspadai Tekanan Inflasi Jelang Idulfitri

Wira Saputra • Kamis, 12 Maret 2026 | 17:30 WIB

Ilustrasi pedagang ayam melayani pembeli di kios ayam potong
Ilustrasi pedagang ayam melayani pembeli di kios ayam potong

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Kepulauan Meranti mulai menunjukkan tren kenaikan menjelang Idulfitri 2026. Komoditas yang paling menonjol mengalami lonjakan adalah daging ayam ras dan telur ayam, yang tercatat naik dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan hasil pemantauan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Pasar Percontohan Selatpanjang pada Maret 2026, kenaikan harga terjadi pada beberapa komoditas pangan strategis, meskipun secara umum kondisi harga sembako masih relatif terkendali.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kepulauan Meranti Marwan mengatakan, lonjakan harga paling signifikan terjadi pada komoditas protein hewani.

"Hasil pemantauan kami menunjukkan kenaikan paling menonjol terjadi pada daging ayam ras dan telur ayam ras. Harga ayam naik dari Rp32.500 menjadi Rp35.800 per kilogram atau sekitar 10,15 persen. Sementara telur ayam naik dari Rp25.000 menjadi Rp28.500 per kilogtam atau sekitar 14 persen," ungkap Marwan kepada Riaupos.co, Kamis (12/3/2026).

Selain dua komoditas tersebut, beberapa bahan pangan lain juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu tinggi. Harga daging sapi tercatat naik dari Rp160.000 menjadi Rp170.000 per kilogram atau sekitar 6,25 persen.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas gula pasir kemasan yang naik dari Rp18.000 menjadi Rp19.500 per kilogram atau sekitar 8,33 persen. Sementara bawang putih honan meningkat dari Rp35.000 menjadi Rp36.000 per kilogram. Sedangkan gula pasir curah mengalami kenaikan tipis dari Rp17.000 menjadi Rp17.500 per kilogram.

Menurut Marwan, kenaikan harga tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca hingga peningkatan permintaan masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulftri.

"Produksi peternakan ayam sempat terganggu akibat faktor cuaca, sehingga berdampak pada pasokan telur dan daging ayam. Di sisi lain, permintaan rumah tangga juga mulai meningkat menjelang Ramadan," jelasnya.

Faktor lain yang turut mempengaruhi harga adalah biaya distribusi antar pulau yang masih cukup tinggi di wilayah kepulauan seperti Meranti. Ia menyebut biaya logistik transportasi laut ikut mempengaruhi harga jual sejumlah komoditas, terutama yang berasal dari luar daerah. Bahkan untuk komoditas impor seperti bawang putih, harga juga dipengaruhi oleh kurs serta biaya distribusi.

Meski demikian, Marwan memastikan sebagian besar komoditas strategis lainnya masih berada pada kondisi stabil. Beberapa di antaranya seperti beras medium, minyak goreng kemasan premium, tepung terigu, kedelai, ikan, serta sebagian besar sayur-mayur masih berada pada harga yang relatif terkendali tanpa fluktuasi signifikan.

Menariknya, salah satu komoditas justru mengalami penurunan harga. Minyak goreng merek Minyakita tercatat turun sekitar 8,33 persen hingga berada di kisaran Rp15.700 per liter.

Penurunan ini, menurut Marwan, menunjukkan bahwa pengawasan pemerintah terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) mulai berjalan efektif. "Turunnya harga Minyakita menunjukkan distribusi dari Bulog dan pengawasan HET berjalan dengan baik. Artinya intervensi pemerintah cukup efektif menjaga stabilitas harga," jelasnya.

Untuk mengantisipasi tekanan inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri, TPID Kepulauan Meranti akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Langkah tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Perdagangan, Bulog, Dinas Pertanian, Satgas Pangan hingga distributor guna memastikan pasokan tetap tersedia di pasaran.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan meningkatkan pemantauan harga dan ketersediaan pasokan, khususnya pada komoditas yang rentan mengalami lonjakan seperti cabai, telur, dan daging.

Tidak hanya itu, operasi pasar serta distribusi bahan pangan bersubsidi juga akan terus dilanjutkan sebagai langkah stabilisasi harga di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.

"Secara umum kondisi inflasi pangan di Meranti masih dalam batas terkendali. Namun tetap perlu diantisipasi melalui pengawasan harga dan penguatan distribusi agar tidak terjadi lonjakan yang signifikan," tegas Marwan.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah daerah berharap stabilitas harga bahan pokok di Meranti tetap terjaga sehingga masyarakat dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang tanpa terbebani lonjakan harga kebutuhan pokok.

Editor : Rinaldi
#kepulauan meranti #jelang idulfitri #harga ayam #tekanan inflasi