Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Meranti Tembus 75 Persen, Ada Desa Capai 28 Persen

Wira Saputra • Rabu, 13 Mei 2026 | 22:31 WIB
Ilustrasi stunting.
Ilustrasi stunting. (Dok Jawapos.com)
 

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Penanganan stunting masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah di Kabupaten Kepulauan Meranti. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kepulauan Meranti tercatat sebesar 18 persen.

Bahkan, data keluarga berisiko stunting tahun 2024 menunjukkan Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi daerah dengan persentase keluarga berisiko stunting tertinggi di Provinsi Riau, yakni mencapai 75,71 persen.

Kondisi tersebut mengemuka pascarembuk Stunting Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2026 yang digelar di Ruang Rapat Orchard Lantai II Bappedalitbang Kabupaten Kepulauan Meranti, belum lama ini.

Baca Juga: Seluruh Rangkaian Ibadah Jemaah Calon Haji asal Meranti Lancar Hingga Pelunasan Dam

Selain tingginya angka keluarga berisiko stunting, sejumlah desa di Kepulauan Meranti juga masih mencatat prevalensi stunting di atas 20 persen. Berdasarkan data lokus stunting per Agustus 2025, Desa Tanjung Pisang Kecamatan Tasik Putri Puyu menjadi wilayah dengan prevalensi tertinggi mencapai 28,57 persen.

Kemudian disusul Desa Sungai Tohor Barat Kecamatan Tebing Tinggi Timur sebesar 27,03 persen, Desa Padang Kamal Kecamatan Pulau Merbau sebesar 23,4 persen, serta Desa Tenggayun Raya Kecamatan Rangsang Pesisir sebesar 23,29 persen.

Kepala Bappedalitbang Kepulauan Meranti, Abu Hanifah, mengatakan percepatan penurunan stunting di daerah dilakukan melalui aksi konvergensi lintas sektor yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

Baca Juga: 30 Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UPP Praktikum Jurnalistik di Riau Pos dan RTV

Menurutnya, penanganan stunting tidak hanya berfokus pada sektor kesehatan, tetapi juga menyangkut pemenuhan sanitasi, pendidikan, pola asuh hingga kondisi ekonomi keluarga.

“Rembuk stunting ini menjadi bagian dari penyusunan rencana kerja percepatan penurunan stunting tahun 2027,” ujarnya, Rabu (13/4/2026).

Sementara itu, Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, menilai persoalan stunting harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Baca Juga: Puluhan Pedagang BBM dan Mahasiswa Gelar Aksi Demo di DPRD Bengkalis

Ia mengatakan pembangunan infrastruktur tidak akan berarti apabila tidak diiringi pembangunan manusia yang sehat dan berkualitas.

“Generasi muda hari ini adalah gambaran Meranti di masa depan. Kalau mereka kekurangan gizi, maka kualitas sumber daya manusia kita ke depan juga akan terdampak,” kata Muzamil.

Ia menegaskan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan hingga masyarakat.

Baca Juga: Perkara Penyelewengan KUR Bank BUMN di Pekanbaru Naik Tahap II

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti berharap upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif dan terintegrasi demi menciptakan generasi yang sehat dan berdaya saing menuju Generasi Emas 2045. (wir)

Editor : M. Erizal
#Stunting di Kepulauan Meranti #stunting #bappedalitbang