SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa berkah bagi sebagian pelaku usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Kepulauan Meranti. Permintaan pasar meningkat tajam, namun pasokan ikan justru belum mampu mengimbanginya.
Peluang itu dirasakan Muhammad Fadil, pembudidaya ikan lele asal Desa Gogok Darussalam, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Pria yang mulai merintis usaha pada 2021 itu kini mampu mengembangkan usahanya dari dua kolam terpal menjadi 10 kolam berkat keuntungan yang terus diputar untuk memperbesar usaha.
Saat ini, hasil panennya rutin diserap sejumlah pedagang ikan di pasar Selatpanjang hingga pelaku usaha pecel lele.
Baca Juga: Beberkan Penyebab Antrean Panjang Biosolar, Hiswana Migas dan Pertamina Pastikan Stok BBM Riau Aman
"Permintaan terus ada. Pedagang pasar dan usaha pecel lele sudah menjadi pelanggan tetap," ujar Fadil, Senin (27/7/2026).
Meski demikian, tingginya permintaan justru menjadi tantangan tersendiri. Fadil mengaku belum mampu memenuhi seluruh pesanan, terutama dari dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis.
"Kalau dari MBG paling sedikit minta sekitar 300 kilogram. Hasil panen saya belum mencukupi, jadi terpaksa sering ditolak," katanya.
Baca Juga: Mahasiswa Politeknik Caltex Riau Kembangkan Sistem Pendeteksi Monyet Berbasis Image Processing
Menurut Fadil, kondisi tersebut menunjukkan peluang usaha budidaya lele di Meranti masih terbuka sangat lebar. Ketersediaan ikan lele lokal hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan pasar sehingga sebagian pedagang masih harus mendatangkan lele beku dari luar daerah.
Padahal, menurutnya, budidaya lele relatif mudah dijalankan. Selain bisa dilakukan di lahan sempit menggunakan kolam terpal maupun drum plastik, modal awal juga tidak terlalu besar dibandingkan jenis usaha lainnya.
Ia mengakui biaya pakan memang menjadi tantangan terbesar. Namun hal itu bisa diatasi jika pembudidaya memahami teknik budidaya dan memanfaatkan pakan alternatif yang tersedia di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Polres Bengkalis Musnahkan 8,2 Kg Sabu dan 5.005 Butir Pil Ekstasi
"Harga lele sekarang sudah sekitar Rp30 ribu per kilogram. Kalau dikelola dengan baik, usaha ini sangat menguntungkan. Yang penting mau belajar dan serius menjalankannya," ujarnya.
Di sisi lain, Fadil menyayangkan banyak kelompok budidaya ikan lele di Meranti yang berhenti beroperasi. Menurutnya, sebagian besar terkendala minimnya pengetahuan teknis dan tingginya biaya produksi, terutama pakan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong berkembangnya pelaku UMKM, termasuk usaha budidaya ikan air tawar.
Baca Juga: Investasi Triwulan II di Riau Serap 10 Ribu Lebih Tenaga Kerja
Ia menilai keberhasilan Muhammad Fadil membangun usaha secara mandiri dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang ingin memulai usaha produktif.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, berharap pemerintah daerah memberikan pendampingan yang berkelanjutan kepada pelaku budidaya ikan, tidak hanya melalui bantuan sarana dan pelatihan, tetapi juga dengan mendengarkan langsung berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.
"Usaha seperti ini memiliki prospek yang baik dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Karena itu perlu terus didukung melalui pendampingan yang berkesinambungan," ujarnya. (wir)
Editor : M. Erizal