SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Sebanyak 143 warga Kabupaten Kepulauan Meranti dinyatakan positif tuberkulosis (TBC) sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Untuk menekan penyebaran penyakit menular tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepulauan Meranti menggelar skrining aktif yang diintegrasikan dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan target menjangkau 4.000 masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, SKM, MH, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menemukan penderita TBC sedini mungkin sehingga dapat segera menjalani pengobatan dan memutus rantai penularan.
Baca Juga: Kasus Eksploitasi Anak Pertama di Meranti, Korban Putus Sekolah Dipaksa Orang Tua Bekerja
"Program skrining TB melalui CKG sudah mulai dilaksanakan sejak 31 Juli lalu. Kami menargetkan kegiatan ini berlangsung di 40 lokasi dengan sasaran sekitar 100 orang di setiap titik. Total targetnya sekitar 4.000 peserta," ujar Widya kepada Riau Pos, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang harus diwaspadai karena dapat menyerang siapa saja dan berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik.
Ia menjelaskan, penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru, meski juga dapat menginfeksi organ tubuh lainnya. Penularannya terjadi melalui percikan dahak atau droplet saat penderita batuk, bersin maupun berbicara.
Baca Juga: Sah! Wako Agung Pilih Zulhelmi Arifin sebagai Sekdako Pekanbaru
"TB bukan penyakit keturunan, bukan akibat kutukan ataupun hal mistis. Penyakit ini dapat disembuhkan apabila penderita menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas," tegasnya.
Widya menyebutkan, risiko penularan lebih tinggi pada penderita TBC paru dengan hasil pemeriksaan BTA positif, terutama kepada anggota keluarga atau orang yang melakukan kontak erat. Selain itu, kondisi rumah yang padat, ventilasi yang kurang baik, dan minimnya paparan sinar matahari juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyebaran.
Kelompok masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus (DM) maupun HIV juga lebih rentan terserang TBC. Bahkan, penderita diabetes memiliki risiko hingga tiga kali lebih besar mengalami TBC dibandingkan orang tanpa diabetes.
Melalui integrasi skrining TB dengan Program Cek Kesehatan Gratis, masyarakat tidak hanya menjalani pemeriksaan TBC, tetapi juga memperoleh pemeriksaan kesehatan dasar lainnya. Strategi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan deteksi dini terhadap penyakit menular maupun tidak menular.
"Kami berharap masyarakat yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC, atau merasakan gejala lainnya segera datang ke puskesmas untuk diperiksa. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh dan semakin kecil risiko penularannya," katanya.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menggunakan masker saat sakit, menutup mulut ketika batuk atau bersin, mencuci tangan, serta menjaga sirkulasi udara di dalam rumah. (wir)
Editor : M. Erizal