Lebih dari Sekadar Makanan, Sagu Adalah Jati Diri Kepulauan Meranti

Wira Saputra • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:59 WIB
Buruh tebang pohon sagu melansir tual menuju sungai terdekat untuk didistribusikan ke kilang pengolahan.(Wira Saputra)
Buruh tebang pohon sagu melansir tual menuju sungai terdekat untuk didistribusikan ke kilang pengolahan.(Wira Saputra)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Jika berbicara tentang Kabupaten Kepulauan Meranti, maka satu ikon yang tak bisa dipisahkan adalah sagu. Bukan hanya menjadi bahan pangan, sagu telah menjelma sebagai identitas daerah yang menopang ekonomi, budaya, hingga ketahanan pangan masyarakat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kepulauan Meranti Ifwandi, mengatakan Meranti merupakan sentra sagu terbesar di Provinsi Riau, bahkan menjadi salah satu daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia.

"Potensi sagu di Kepulauan Meranti sangat besar. Komoditas ini bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, tetapi juga menjadi identitas daerah yang harus terus dijaga dan dikembangkan," ujar Ifwandi, Selasa (4/7/2026).

Baca Juga: Sempat Sebulan Dirawat, Gajah Jinak 46 Tahun Mati

Berdasarkan data DKPP, luas tanaman sagu di Indonesia mencapai 1,128 juta hektare. Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau memiliki luas tanaman sagu sekitar 63.491 hektare, sementara 61.806 hektare atau hampir seluruhnya berada di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dari total luas tanaman sagu di Meranti tersebut, sekitar 21.620 hektare dikelola oleh perusahaan, sedangkan 40.186 hektare merupakan kebun milik masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa sagu masih menjadi komoditas yang menopang perekonomian ribuan keluarga di Kepulauan Meranti.

Tak hanya unggul dari sisi luas areal, produksi tepung sagu Meranti juga tergolong tinggi. Setiap tahun, daerah ini mampu menghasilkan sekitar 247.014 ton tepung sagu, yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Baca Juga: Petani di Bengkalis Berharap Jadi Pemasok Buah Semangka di SPPG

Ifwandi menjelaskan, besarnya potensi tersebut menjadikan sagu sebagai komoditas strategis yang perlu terus mendapat perhatian, baik melalui peningkatan produktivitas kebun, pengembangan industri hilir, maupun diversifikasi produk olahan.

"Sagu memiliki nilai ekonomi yang besar. Ke depan kami ingin mendorong agar produk olahan sagu semakin beragam sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan meningkatkan daya saing Meranti," katanya.

Selain menjadi penggerak ekonomi, sagu juga merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Kepulauan Meranti. Berbagai kuliner khas seperti mi sagu, sempolet, kerupuk sagu, hingga aneka kue tradisional lahir dari komoditas ini dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Baca Juga: Pemko Pekanbaru Siapkan Seragam Gratis untuk Seluruh Siswa Baru SD dan SMP Negeri, Distribusi Ditargetkan Oktober

Tak heran jika pohon sagu diabadikan dalam lambang resmi Kabupaten Kepulauan Meranti. Bagi masyarakat setempat, sagu bukan sekadar tanaman, melainkan simbol kehidupan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan luas areal yang mendominasi Provinsi Riau dan produksi yang mencapai ratusan ribu ton setiap tahun, sagu semakin menegaskan posisinya sebagai ikon Kabupaten Kepulauan Meranti sekaligus salah satu kekuatan utama daerah dalam mewujudkan ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi kerakyatan, dan memperkenalkan Meranti di tingkat nasional maupun internasional.

 

Editor : Arif Oktafian
jati diri kepulauan meranti sagu